MajmusSunda News – Bandung, Minggu (11/10/2026) – SINOPSIS: Esai lima paragraf ini membedah jalinan historiografi transnasional, diplomasi kultural antarkerajaan, dan tradisi ziarah modern yang mengunci jejak kunjungan historis monarki Siam di kawasan Dago melintasi kacamata geoliterasi kritis. Diuraikan relasi awal antara tata ruang perkotaan Bandung abad kesembilan belas dengan modernisasi Kerajaan Siam, kronologi kunjungan kenegaraan Raja Chulalongkorn (Rama V) yang menginap di Hotel Homann dan menggemari eksotisme Curug Dago, keputusan dramatis Pangeran Paribatra Sukhumbandhu yang memilih menghabiskan masa pengasingan damai di Jalan Cipaganti, keberadaan fisik situs arkeologi Prasasti Dago beraksara Thai di dinding cadas Formasi Cibeureum sebagai destinasi ziarah utama wisatawan Thailand masa kini, hingga epilog kebangsaan berupa seruan pelestarian situs sejarah guna menegakkan daulat kedaulatan sains budaya lingkungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
1. Jembatan Budaya Antarbangsa: Wajah Siam, Bandung, dan Dago di Fajar Transisi Abad Sembilan Belas
Menengok kembali rekam jejak geopolitik di Asia Tenggara pada penghujung abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh membawa memori literasi kita pada sebuah relasi kultural yang unik antara Kerajaan Siam dengan Kota Bandung. Pada era transisi tersebut, tatkala sebagian besar wilayah Nusantara berada di bawah administrasi kolonial Hindia Belanda, Kerajaan Siam (kini Thailand) berdiri tegak sebagai satu-satunya pemerintahan yang berdaulat di Asia Tenggara yang berhasil mempertahankan kemerdekaan penuh dari cengkeraman imperialisme Barat. Di sisi lain, Kota Bandung, khususnya kawasan perbukitan Dago yang sejuk di lereng selatan menara vulkanik sabuk utara, sedang bersolek menjadi kota modern yang higienis melalui penataan ruang permukiman vila bernilai estetika tinggi. Daya tarik lanskap geografi Bandung Utara yang dikelilingi oleh benteng cadas pejal andesitis bersanding hutan hujan tropis yang rapat bertindak laksana magnet alami yang memikat perhatian kaum bangsawan internasional, meletakkan fondasi awal pertemuan kebudayaan dua bangsa melintasi putaran fase zaman.
2. Napak Tilas Monarki Monumen: Kunjungan Ganda Raja Chulalongkorn, Kemegahan Homann, dan Romansa Curug Dago
Puncak dari hubungan diplomatik informal tersebut mewujud nyata melalui kehadiran penguasa termasyhur dari Dinasti Chakri, yaitu Raja Chulalongkorn atau yang secara resmi bergelar Raja Rama V. Catatan historiografi otentik mendokumentasikan secara kaku bahwa Raja Chulalongkorn melangsungkan kunjungan kenegaraan dan kelana budaya ke Bandung sebanyak dua kali, yakni pada tahun seribu delapan ratus sembilan puluh enam dan seribu sembilan ratus satu, dengan memilih Hotel Homann di pusat kota sebagai tempat menginap resmi kerajaan. Selama singgah di Bumi Priangan, tempat rekreasi favorit utama yang paling memikat hati sang raja adalah keindahan alami Curug Dago yang tersembunyi di balik rimbunnya vegetasi lereng atas. Ketertarikan mendalam Raja Rama V terhadap Tatar Sunda didorong oleh keserasian iklim pegunungan Lembang–Dago yang mengingatkan beliau pada resor perbukitan di negaranya, mendorong beliau untuk secara aktif menjelajahi ngarai terjal hulu Sungai Cikapundung dan menikmati gemercik air di sela cadas pelapisan lava purba.
3. Takhta Damai di Cipaganti: Jejak Langkah Pangeran Paribatra Sukhumbandhu dan Warisan Kuliner Dahapati
Jalinan cinta antara monarki Siam dengan Bumi Pasundan bergerak semakin dalam melintasi keputusan eksentrik salah seorang putra mahkota terkemuka, yaitu Pangeran Paribatra Sukhumbandhu. Pascaterjadinya revolusi politik yang mengubah sistem pemerintahan di Siam pada tahun seribu sembilan ratus tiga puluh dua, Marsekal Lapangan Pangeran Paribatra, yang merupakan anak ke-13 dari Raja Rama V, memilih diungsikan ke tempat yang damai dan menjatuhkan pilihan hatinya pada Kota Bandung. Maka, di dasar cekungan yang subur ini, sang pangeran menghabiskan sisa hidupnya secara terhormat dengan tinggal menetap di sebuah kediaman asri di koridor Jalan Cipaganti, bangunan bersejarah yang pada era kontemporer hari ini bertransformasi menjadi Restoran “Dahapati” yang teramat legendaris. Selama bertahun-tahun menetap di Tatar Sunda hingga wafatnya pada tahun seribu sembilan ratus empat puluh empat, Pangeran Paribatra membaur akrab dengan masyarakat lokal, menjadi pelindung komunitas seni, dan menyuntikkan kontribusi intelektual yang teramat berwibawa bagi perkembangan sosiokultural kota.
4. Prasasti Dago: Catatan Aksara Thai di Tebing Ignimbrit dan Magnet Ziarah Kultural Wisatawan Thailand
Bukti material tak terbantahkan dari kegemaran para penguasa Siam terhadap keindahan alam Bandung Utara terpatri abadi pada sebuah situs purbakala yang teramat sakral di kawasan cagar alam Dago Pakar, yaitu “Prasasti Dago”. Monumen batu tulis ini dipahatkan langsung menggunakan karakter aksara Thai bersanding angka tahun monarki kuno pada dinding tebing cadas pejal singkapan tuf terlaskan (welded tuff) dari Formasi Cibeureum yang mengapit Curug Dago. Situs arkeologi unik ini memuat inisial monogram kerajaan dan catatan kunjungan Raja Chulalongkorn pada tahun seribu delapan ratus sembilan puluh enam, yang kemudian disandingkan pula oleh pahatan tanda tangan Raja Prajadhipok (Rama VII) pada tahun seribu sembilan ratus dua puluh sembilan. Karena nilai sejarahnya yang teramat luhur, pada era modern saat ini, para wisatawan dan pelancong asal Thailand yang mengunjungi Kota Bandung selalu melakukan ritual ziarah kultural ke Curug Dago untuk menghormati jejak yang ditinggalkan oleh leluhur agung raja mereka melintasi batas benua.
5. Epilog Geowisata: Manifesto Kesadaran Sejarah, Gerakan Taruna Bumi, dan Daulat Sains Kultural NKRI
Pada akhirnya, penjelajahan geoliterasi kritis menyusuri lintasan kisah persahabatan purba dan keberadaan fisik Prasasti Dago membawa kita pada satu manifesto ekologis tertinggi mengenai esensi gerakan peduli sejarah bangsa. Dinding batu bertulis monarki Siam di kawasan Dago Pakar bukan sekadar objek cagar budaya mati yang boleh dibiarkan terbengkalai dan rusak akibat aksi vandalisme liar, melainkan warisan peradaban bernilai sains sejarah tinggi yang kemurnian kawasannya wajib dibentengi oleh undang-undang tata ruang secara ketat. Mengampanyekan gerakan taruna bumi secara digital dan menegakkan hukum perlindungan situs purbakala secara ksatria melawan keangkuhan komersialisasi beton apartemen pariwisata massal yang malas adalah tindakan bela negara intelektual yang mutlak. Mengintegrasikan konsep geowisata edukatif berbasis sejarah transnasional dengan parameter konservasi dari instansi pemerintah yang memiliki otoritas merupakan wujud pertahanan ruang hidup yang hakiki. Mari jaga kelestarian monumen batu bertulis saksi bisu jalinan diplomasi lintas benua ini demi menegakkan takhta tertinggi kedaulatan kebudayaan sains Negara Kesatuan Republik Indonesia melintasi badai zaman!
Terima kasih kepada Kang Ami (Supriatna Amiputera), di Jakarta, seorang asesor pemandu geowisata, yang telah berbagi bahan tulisan ini.
#GeowisataNusantara
#SeriBS-20
#KisahRajaSiamBandung #RajaChulalongkornRamaV #HotelSavoyHomann #PangeranParibatraSukhumbandhu #RestoranDahapatiCipaganti
#PrasastiDagoThai #AksaraSiamPurba #FormasiCibeureumDago #TahuraDjuandaBandung #ZiarahTurisThailand #DiplomasiLintasBenua #SejarahKotaBandung #BelaNegaraIntelektual #KedaulatanSainsNKRI #OmanAbdurahman

Judul: GEOWISATA NUSANTARA Seri #BS-20: “Kisah Raja Siam yang Jatuh Cinta ke Kota Bandung dan Curug Dago”
Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com
Editor: Parkah












