Jangan Jadikan Guru dan Dosen Tenaga Administrasi: Biarkan Guru Mengajar, Biarkan Dosen Menjalankan Tridarma

Oleh: Kang Eep

MajmusSunda News, Jawa Barat, Senin (05/10/2026) โ€“ Pendidikan Indonesia masih memikul pekerjaan rumah yang tidak ringan. Kita berbicara tentang hasil belajar yang belum menggembirakan, ketimpangan kualitas sekolah, kompetensi guru dan dosen yang masih harus terus ditingkatkan, serta kebijakan yang kerap berubah sehingga melahirkan jargon โ€œganti menteri, ganti kurikulumโ€. Negara sebenarnya mengalokasikan anggaran pendidikan yang besar. Dalam APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) 2026, alokasinya mencapai Rp757,8 triliun atau 20 persen dari belanja negara. Namun besarnya anggaran belum otomatis identik dengan tingginya mutu pendidikan.

PISA (Programme for International Student Assessment), survei internasional yang mengukur kemampuan pelajar dalam matematika, membaca, dan sains, pada 2022 memberi gambaran yang cukup keras. Hanya sekitar 18 persen pelajar Indonesia mencapai setidaknya Level 2 dalam matematika, 25 persen dalam membaca, dan 34 persen dalam sains. Artinya, pekerjaan kita bukan sekadar memastikan anak datang ke sekolah, tetapi memastikan mereka benar-benar belajar, memahami, bernalar, dan berkembang.

Kualitas tenaga pendidik pun masih membutuhkan penguatan besar. Kemendikdasmen (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah) pada Juni 2026 menyebut sekitar 800 ribu guru aktif belum mengikuti PPG (Pendidikan Profesi Guru). Kementerian juga secara terbuka mengakui adanya persoalan akses pengembangan kompetensi, distribusi guru yang belum merata, kesejahteraan, serta beban administrasi yang berlebihan.

Perguruan tinggi menghadapi tantangan yang tidak jauh berbeda. Indonesia memiliki lebih dari 300 ribu dosen, tetapi proporsi dosen bergelar doktor baru sekitar seperempat dari keseluruhan. Padahal perguruan tinggi membutuhkan lebih banyak dosen yang meneliti, menulis, menghasilkan inovasi, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta membimbing lahirnya generasi intelektual baru.

Dengan berbagai persoalan tersebut, waktu guru dan dosen semestinya dipandang sebagai sumber daya pendidikan yang sangat berharga. Ironisnya, sebagian energi mereka justru habis untuk pekerjaan yang sebenarnya dapat dilakukan oleh profesi lain.

Guru harus mengisi berbagai formulir, membuat rekapitulasi, mengunggah dokumen, mengurus aplikasi, menyusun laporan rutin, dan menyelesaikan berbagai pekerjaan administratif kelembagaan. Dosen pun sering ditarik terlalu jauh ke pekerjaan manajerial dan jabatan nonakademik yang tidak selalu membutuhkan kompetensi seorang akademisi. Orang yang seharusnya membaca, menyiapkan bahan ajar, meneliti, membimbing, dan mendidik akhirnya justru menghabiskan banyak waktunya di depan spreadsheet, aplikasi, dan dokumen administratif.

๐—”๐—ฑ๐—บ๐—ถ๐—ป๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐˜‚ ๐˜๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ฝ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ถ๐—ป๐—ด. Bahkan karena penting, pekerjaan itu harus ditangani secara profesional. Persoalannya bukan menghapus administrasi, melainkan ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐˜๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ธ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐˜.

Manajemen sumber daya manusia mengenal pembagian fungsi, kompetensi, uraian pekerjaan, beban kerja, serta opportunity cost atau biaya peluang. Setiap jam yang digunakan seorang guru untuk mengerjakan pekerjaan administratif berarti berkurangnya waktu untuk menyiapkan pembelajaran, memahami perkembangan murid, membimbing mereka, atau meningkatkan kompetensinya. Tenaga dengan keahlian khusus semestinya diprioritaskan untuk pekerjaan yang memang membutuhkan keahlian tersebut.

Administrasi akademik karena itu perlu dibedakan dari administrasi kelembagaan. Menilai hasil belajar, membuat catatan perkembangan peserta didik, merancang pembelajaran, atau menentukan tindak lanjut pendidikan jelas merupakan bagian dari pekerjaan profesional guru. Tetapi menginput ulang data, merekap dokumen, menyusun laporan kelembagaan, mengarsipkan berkas, atau mengurus pekerjaan rutin birokrasi tidak harus semuanya dikerjakan guru. ๐—ง๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ด๐—ฎ ๐—ฎ๐—ฑ๐—บ๐—ถ๐—ป๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐—ผ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ท๐˜‚๐˜€๐˜๐—ฟ๐˜‚ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐˜‚ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐˜ agar mampu mengambil fungsi tersebut.

Pembagian fungsi semacam ini juga diperlukan di perguruan tinggi. Jabatan yang berkaitan langsung dengan otoritas akademik memang semestinya berada di tangan akademisi. Namun keuangan, aset, pengadaan, IT (teknologi informasi), komunikasi, pemasaran, pengembangan bisnis, pengelolaan fasilitas, dan berbagai fungsi profesional lainnya tidak otomatis harus dipimpin dosen. Kampus dapat merekrut profesional terbaik di bidangnya, sementara dosen difokuskan pada ๐˜๐—ฟ๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ด๐˜‚๐—ฟ๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ถ, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Itu bukan berarti pekerjaan administrasi ditempatkan lebih rendah. Justru administrasi, keuangan, teknologi informasi, pengadaan, dan manajemen harus diakui sebagai profesi yang masing-masing membutuhkan kompetensi tersendiri. Institusi pendidikan yang sehat dibangun oleh berbagai profesi yang bekerja sesuai keahliannya, bukan dengan menjadikan guru dan dosen sebagai tenaga serba bisa.

Pelaksanaan MBG (Makan Bergizi Gratis) memberi contoh yang sangat aktual. Program ini penting, tetapi kebutuhan operasionalnya jangan kemudian dibebankan kepada guru. Produksi makanan, distribusi, pencatatan, standar kualitas, keamanan pangan, dan mekanisme pengawasan harus memiliki penanggung jawab yang jelas. Pedoman teknis BGN (Badan Gizi Nasional) sendiri menempatkan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) sebagai bagian inti program yang bertanggung jawab terhadap produksi, distribusi, kualitas, dan keamanan makanan.

Peran guru dalam MBG tetap bisa ada sepanjang berkaitan dengan pendidikan. Mengajarkan kebiasaan mencuci tangan, menjelaskan pentingnya gizi, membangun kebiasaan makan sehat, atau mendampingi anak ketika makan masih beririsan dengan fungsi seorang pendidik. Tetapi ketika guru harus menjadi petugas distribusi, membuat laporan operasional, menjadi pengendali mutu makanan, apalagi diminta mencicipi makanan untuk memastikan beracun atau tidak, ๐—ฏ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐—ฝ๐—ฟ๐—ผ๐—ณ๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ด๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐—ฎ๐—น๐˜‚ ๐—ท๐—ฎ๐˜‚๐—ต.

BGN sendiri kemudian meluruskan bahwa guru bukanlah pencicip makanan untuk mendeteksi risiko keracunan. Keamanan pangan memang tidak bisa disederhanakan menjadi โ€œcoba dulu, kalau tidak apa-apa berarti amanโ€. Banyak bahaya pangan tidak dapat diketahui hanya dari rasa, bau, atau penampilan. Keamanan pangan harus dijamin melalui sistem, mulai dari pemilihan bahan, higiene, proses memasak, suhu, penyimpanan, waktu distribusi, pelabelan, hingga prosedur penanganan insiden.

Jika sebuah program pemerintah menimbulkan tambahan pekerjaan administratif atau operasional di sekolah, program itu seharusnya sekaligus menyediakan SDM (sumber daya manusia) dan sistem pendukungnya. ๐—๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ด๐˜‚๐—ฟ๐˜‚ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ถ ๐˜๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ด๐—ฎ ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐˜€๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ฎ๐—ฝ ๐—ฝ๐—ฟ๐—ผ๐—ด๐—ฟ๐—ฎ๐—บ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐˜‚๐—ธ ๐—ธ๐—ฒ ๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐—ผ๐—น๐—ฎ๐—ต.

Kita meminta mutu guru terus meningkat, tetapi pada saat bersamaan mengambil waktu mereka untuk mengerjakan hal-hal yang tidak membutuhkan kompetensi keguruan. Kita meminta dosen meningkatkan kualitas riset dan publikasi, tetapi energinya juga terserap ke berbagai pekerjaan nonakademik. Kontradiksi tata kelola seperti ini perlu dibenahi.

Membenahi pendidikan akhirnya tidak cukup hanya dengan mengganti kurikulum, memperbesar anggaran, membuat aplikasi baru, atau melahirkan program baru. Arsitektur sumber daya manusia pendidikan juga harus ditata. Setiap profesi ditempatkan pada fungsi yang tepat sehingga tenaga yang mahal, terbatas, dan memiliki kompetensi khusus tidak dihabiskan untuk pekerjaan yang sebenarnya dapat dikerjakan oleh tenaga lain.

๐—”๐—ฑ๐—บ๐—ถ๐—ป๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ธ๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—ฑ๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ถ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ถ ๐—ฎ๐—ฑ๐—บ๐—ถ๐—ป๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ.

๐—•๐—ถ๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ด๐˜‚๐—ฟ๐˜‚ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ. ๐—•๐—ถ๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ผ๐˜€๐—ฒ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฟ๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ.

Salam,
๐—ž๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—˜๐—ฒ๐—ฝ

***

Judul: Jangan Jadikan Guru dan Dosen Tenaga Administrasi: Biarkan Guru Mengajar, Biarkan Dosen Menjalankan Tridarma
Penulis:ย Kang Eep
Editor:ย Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *