Puluhan Mahasiswa KKN STAIMU Sambangi KPP Kawung Wangi, Yandra: Konservasi, Mitos Musang dan Pohon Aren

Mahasiswa KKN STAI Mithaul Ulum (STAIMU) Parungponteng Tasela berpoto bersama Komunitas Petani Penyadap Kawung Wangi (KPP Kawung Wangi) Bojongkawung Desa Cintawangi, Kecamatan Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis, (1/10/2026) (Agung Ilham Setiadi/majmussunda.id)

MajmusSunda News, Kamis, (1/10/2026)-Pandangan menanam pohon aren atau Kawung harus ditanam oleh Musang lewat kotorannya hingga kini masih dipercayai masyarakat terutama di pedesaan, sehingga jarang ada orang atau petani yang mau menanam aren lewat pembibitan dari biji aren.

Masih banyak orang khususnya di Jawa Barat atau Tatar Sunda berpandangan (mitos) jika menanam pohon oleh manusia itu tidak akan jadi. Kepercayaan menanam pohon aren harus oleh Musang atau Careuh, usia sudah tua, bahkan mungkin pula  sejak pertama ditemukan pohon aren di dunia.

Kampung Bojongkawung, Desa Cintawangi, Kecamatan Karangnunggal, pohon aren tumbuh bukan sekadar sebagai tanaman. Ia menjadi sumber penghidupan, penyangga lingkungan, sekaligus bagian dari ingatan budaya masyarakat.

Di balik keberadaannya, tersimpan cerita turun-temurun tentang mitos yang hingga kini masih hidup dan menjadi pintu masuk untuk memahami upaya konservasi pohon aren.

Makan liwet bareng jadi jalan keakraban penelitian pohon aren di demplot percontohan dan percobaan Rancalele Bojongkawung, Desa Cintawangi (Agung Ilham Setidi/majmussunda.id)

Penasaran dengan pandangan dan mitos yang sudah kandung melekat di kalangan warga. Mahasiswa STAI Miftahul Ulum Parungponteng Tasikmalaya selatan (Tasela) yang sedang KKN di Kecamatan Bantarkalong dan Kecamatan Karangnunggal menyambangi Komunitas Petani Penyadap Kawung Wangi, (KPP Kawung Wangi) di Dusun Bojongkawung, Desa Cintawangi, Kecamatan Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya ( Tasikmalaya selatan)

Perhatian terhadap kelestarian aren mendorong Mahasiswa KKN STAI Miftahul Ulum melakukan penelitian bersama Komunitas Petani Penyadap Kawung Wangi (KPP Kawung Wangi).

Komunitas ini lahir dari kesadaran para petani penyadap untuk menjaga keberlangsungan pohon aren sekaligus mempertahankan sumber ekonomi warga. Bagi masyarakat, merawat aren berarti menjaga mata pencaharian, merawat alam dan masa depan kampung.

Salah satu pengetahuan lokal yang masih berkembang di Bojongkawung adalah mitos kotoran Musang. Masyarakat meyakini pohon aren hanya dapat tumbuh dari biji atau bagian buah yang keluar bersama kotoran musang.

Kepercayaan itu menghubungkan pertumbuhan aren dengan aktivitas musang di alam dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga sekarang.

Kendati di dera kemarau cukup panjang pohon aren yang ditanam KPP Kawung Wangi tetep tumbuh dengan baik (Agung Ilham Setiadi/majmussunda.id)

Ketua KPP Kawung Wangi Karta warga Legokkadu (Bojongkawung) menuturkan bagi sebagian petani dan penyadap di Bpjpngkawung, konservasi dan menanam lewat kotoran Musang bukan sekadar cerita.

“Kami mengenal cerita ini dari orang tua. Musang dianggap membantu menyebarkan biji aren ke tempat-tempat yang sulit dijangkau manusia,” tutur Karya.

Pandangan hanya Musang yang bisa menanam aren menunjukkan bahwa mitos itu juga memuat penghormatan terhadap peran hewan dalam menjaga keseimbangan alam.

Kepala Dusun Bojongkawung Iwa Karniwa (pakai kaos putih) usai memindahkan biji aren yang sudah jadikecamabh ke polybag (Agung Ilham Setiadi/majmussunda.id)

Wakil Ketua KPP Kawung Wangi Dadan menegaskan lebih penting bukan hanya memperdebatkan benar atau salahnya kotoran Musang, tetapi bagaimana cerita itu mengingatkan kami untuk tidak merusak hutan dan habitat musang.

“Kami KPP Kawung terus berupaya sudah hampir dua tahun dengan anggota lainnya menanam pohon aren dari mulai persemaian lewat biji, hingga membuat demplot atau percontohan menanam pohon aren sekitar 1 Ha. Alhamdulillah ternyata menanam pohon aren oleh manusia bisa tumbuh, kendati pertumbuhan belum sempurna karena musim kemarau,” kata Dadan, Kamis, (1/10/2026) di lokasi demplot Rancalele masih di Bojongkawung didamping Sekretaris KPP Kawung Wangi Asep Kusnawan

KPP Kawung Wangi awal mulai meyiapkan biji areng siap dijadikan pembibitan sebeleum dipindahkan ke polybag di Cipalahlar Bojongkawung (Agung Ilham Setiadi/majmussunda.id)

Ir. Yoyo Budiman salah pakar Kawung KPP Kawung Wangi menjelaskan secara ilmiah, anggapan bahwa pohon aren hanya dapat tumbuh melalui kotoran musang tidak dapat dibenarkan.

“Aren berkembang dari biji bisa melalui proses persemaian yang dipengaruhi kelembapan, kondisi tanah, ketersediaan air, suhu, serta kualitas biji,” kata Yoyo disela pelatihan cara menanam aren dua tahun ke belakang oleh manusia di depan peserta.

Kendati begitu, imbuh Yoyo mitos kotoran Musang pohon aren bisa tumbuh, tidak serta-merta kehilangan makna. Di dalamnya terdapat pengetahuan ekologis dan identitas budaya yang merekam cara masyarakat memahami hubungan antara manusia, hewan, dan alam.

Humas KKN STAI Miftahul Ulum Yandra Nurrahman mengatakan penelitian maahasiswa KKN STAIMU tidak berhenti pada upaya menentukan benar atau salahnya mitos tersebut.

Kajian ini juga berusaha mendokumentasikan peran cerita kotoran Musang sebagai bagian dari pengetahuan lokal masyarakat Bojongkawung. Dengan demikian, mitos dapat ditempatkan secara proporsional: dikaji secara kritis berdasarkan ilmu pengetahuan, tetapi tetap dihargai sebagai warisan budaya.

Harus diakui pelestarian aren kata Yandra, menghadapi berbagai tantangan. Regenerasi pohon berlangsung lama, sementara kebutuhan lahan, perubahan penggunaan hutan, dan berkurangnya minat generasi muda terhadap pekerjaan menyadap dapat mengancam keberlanjutan tanaman ini. Para penyadap juga menghadapi risiko kerja, perubahan cuaca, serta fluktuasi harga hasil olahan aren.

Penanaman pertama pohon aren hasil semaian KPP Kawung Wangi di Rancalele Kamis (17/5/2025) (Agung Ilham Setiadi/majmussunda.id)

Ketua Dewan Pembina KPP Kawung Wangi Agung Ilham Setiadi mengatakan jika aren tidak dirawat sejak sekarang, beberapa tahun ke depan bahan untuk disadap bisa semakin sedikit.

Karena itu, kata Agung yang akrab disapa Kang Ais ini, menambahkan pelestarian pohon aren perlu dilakukan melalui penanaman bibit, perlindungan pohon induk, perawatan habitat, penguatan kelembagaan petani, dan peningkatan nilai tambah produk aren.

“Melalui KPP Kawung Wangi dan penelitian Mahasiswa KKN STAI Miftahul Ulum, mitos kotoran Musang menjadi awal percakapan yang lebih luas tentang konservasi. Pelestarian aren tidak cukup hanya dengan menanam kembali, tetapi juga membutuhkan penghargaan terhadap pengetahuan masyarakat yang selama ini menjaga keberadaannya,” harap Kang Ais.

Pohon aren sendiri memiliki manfaat yang luas kata Yandra, nira dapat diolah menjadi gula aren, gula semut, dan berbagai minuman. Buahnya dimanfaatkan sebagai kolang-kaling, sementara ijuk digunakan untuk membuat sapu, sikat, tali, atap, dan beragam kebutuhan lain. Lidi serta daun aren juga dapat diolah menjadi kerajinan dan perlengkapan rumah tangga. Lebih dari itu, akar dan tajuknya membantu menjaga kondisi tanah serta tata air di lingkungan sekitar.

Ida anggota KPP Kawung Wangi warga Legokkadu (Bojongkawung) sedang memindahkan bibit pohon Aren dari persemaian polibag kecil ke polibag yang lebih besar. (Agung Ilham Setiadi/majmussunda.id)

Pengalaman para petani dan penyadap perlu didengar pungkas Yandra karena mereka berhadapan langsung dengan perubahan kondisi pohon, tanah, air, dan hutan setiap hari. Pada akhirnya, masa depan pohon aren di Bojong Kawung bergantung pada kemampuan masyarakat untuk mempertemukan tradisi dan ilmu pengetahuan.

“Mitos boleh dikaji, tetapi pesan penting di baliknya tetap relevan alam harus dijaga agar terus memberi kehidupan. Selama pohon aren tetap tumbuh dan para petani penyadap terus memiliki ruang untuk meneruskan pengetahuannya, harapan masyarakat Bojongkawung pun akan terus berakar,” pungkas Yandra.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *