MajmusSunda News, Jawa Barat, Kamis (01/10/2026) โย Selama ini kita mengenal sumber daya alam sebagai sesuatu yang bisa ditambang, dipanen, ditebang, atau dipompa dari dalam bumi. Minyak, gas, batu bara, emas, hutan, tanah subur, dan air mudah dipahami karena semuanya mempunyai nilai ekonomi. Memasuki ekonomi digital, ternyata ada sumber daya lain yang sebelumnya jarang dianggap bernilai: ๐๐๐ต๐ ๐๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ฎ.
Islandia adalah contoh menarik. Negara kecil di Atlantik Utara itu tidak mempunyai pasar domestik besar, penduduknya hanya ratusan ribu, dan letaknya jauh dari pusat-pusat ekonomi utama Eropa. Namun ketika dunia membutuhkan pusat data dalam skala besar, sebagian kondisi geografis yang dulu dianggap keras justru berubah menjadi keunggulan.
Islandia memiliki pasokan listrik yang sangat didominasi hidroelektrik dan geothermal, sekaligus temperatur udara yang rendah hampir sepanjang tahun. Kombinasi ini sangat menarik bagi industri data center karena komputer tidak hanya membutuhkan listrik untuk menghitung, tetapi juga membutuhkan cara untuk membuang panas yang dihasilkannya.
Hampir seluruh energi listrik yang masuk ke perangkat komputasi pada akhirnya berubah menjadi panas. Semakin besar kemampuan komputasi, semakin besar pula panas yang harus dilepaskan. Pada pusat data AI modern yang dipenuhi GPU berdaya tinggi, pendinginan bukan lagi sekadar fasilitas pendukung, tetapi bagian penting dari infrastrukturnya.
Iklim Islandia memungkinkan udara luar membantu proses pendinginan sehingga ketergantungan pada pendinginan mekanis dapat dikurangi. Salah satu kampus data center besar di sana, Verne Iceland, menggunakan listrik dari hidro dan geothermal sekaligus memanfaatkan ๐บ๐ฆ๐ข๐ณ-๐ณ๐ฐ๐ถ๐ฏ๐ฅ ๐ง๐ณ๐ฆ๐ฆ ๐ค๐ฐ๐ฐ๐ญ๐ช๐ฏ๐จ untuk kebutuhan komputasi berperforma tinggi dan AI.
Islandia kemudian mengubah kondisi alam itu menjadi nilai ekonomi. Mereka tidak perlu mengirimkan udara dingin ke pusat-pusat bisnis Eropa. Server, komputer, dan investasinya yang datang mendekati sumber energi dan lingkungan termal yang lebih menguntungkan.
Secara sederhana, ๐๐๐น๐ฎ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฎ ๐๐ฒ๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐๐ฎ๐น ๐ฑ๐ถ๐ป๐ด๐ถ๐ป.
Bukan menjual udara per meter kubik, melainkan memonetisasi kondisi geografis yang mampu mengurangi sebagian beban pendinginan. Sesuatu yang sebelumnya hanya dianggap sebagai bagian dari iklim kemudian menjadi daya tarik investasi.
Kisah tersebut menarik ketika dibandingkan dengan Jatiluhur, Purwakarta.
BDx Data Centers sedang mengembangkan AI Campus 2 atau CGK4 dengan kapasitas akhir yang direncanakan mencapai 640 MW IT load. Kompleks ini akan terdiri atas beberapa bangunan, dengan gedung pertama sekitar 120 MW. Infrastruktur komputasinya dirancang untuk kebutuhan AI berkepadatan tinggi, termasuk menggunakan teknologi ๐ฅ๐ช๐ณ๐ฆ๐ค๐ต-๐ต๐ฐ-๐ค๐ฉ๐ช๐ฑ ๐ญ๐ช๐ฒ๐ถ๐ช๐ฅ ๐ค๐ฐ๐ฐ๐ญ๐ช๐ฏ๐จ.
Jatiluhur tentu tidak memiliki udara sedingin Islandia. Tetapi kawasan ini memiliki sumber daya lain dalam jumlah besar: ๐ฎ๐ถ๐ฟ.
Pada tahap awal, kebutuhan air fasilitas tersebut disebut sekitar 6.000 meter kubik per hari. Dalam lima sampai sepuluh tahun, ketika pengembangannya mencapai kapasitas penuh, kebutuhan maksimum diproyeksikan sekitar 384 liter per detik atau kurang lebih 33 juta liter per hari.
Angka itu terdengar sangat besar. Air bukan hanya kebutuhan industri. Ia diminum, digunakan rumah tangga, dibutuhkan pertanian, dan menopang ekosistem. Namun persoalannya tidak cukup adil apabila kemudian disederhanakan menjadi cerita bahwa air rakyat begitu saja dialihkan kepada data center.
Purwakarta disebut memiliki alokasi Sistem Penyediaan Air Minum dari sistem Jatiluhur sekitar 3.000 liter per detik. Sementara pemanfaatan PDAM saat ini masih berada di kisaran 348 sampai 383 liter per detik, atau sekitar 12 persen dari alokasi tersebut.
Kebutuhan maksimum BDx sekitar 384 liter per detik memang hampir sama dengan volume yang saat ini dimanfaatkan PDAM untuk pelayanan eksisting. Tetapi jika keduanya dijumlahkan, totalnya masih jauh di bawah alokasi 3.000 liter per detik. Secara kuota, argumen bahwa masih terdapat ruang cukup besar memang mempunyai dasar.
Dari sisi bisnis PDAM, logikanya juga mudah dipahami. Ada alokasi air baku yang besar, tetapi kemampuan mengolah dan mendistribusikannya masih terbatas. Kemudian datang pelanggan industri yang bersedia membeli air dalam volume besar dan relatif stabil. Pendapatan tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki instalasi pengolahan, memperluas jaringan, dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Tetapi ada satu hal yang tidak boleh tertukar: ๐ฎ๐ถ๐ฟ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฏ๐ฒ๐น๐๐บ ๐บ๐ฎ๐บ๐ฝ๐ ๐ฑ๐ถ๐๐ฎ๐น๐๐ฟ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฃ๐๐๐ ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ฟ๐๐ถ ๐ฎ๐ถ๐ฟ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐๐๐๐ต๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฟ๐ฎ๐ธ๐๐ฎ๐.
Pemanfaatan yang baru sekitar 12 persen tidak berarti masyarakat Purwakarta hanya membutuhkan 12 persen dari alokasi tersebut. Bisa jadi kebutuhan jauh lebih besar, tetapi kapasitas pengolahan, jaringan distribusi, sambungan rumah, atau investasinya belum mencukupi. Yang rendah belum tentu kebutuhannya, bisa jadi justru kemampuan infrastrukturnya.
Karena itu kehadiran pelanggan industri besar seperti BDx dapat menjadi peluang jika pendapatan yang diperoleh benar-benar digunakan untuk memperbesar kapasitas PDAM dan memperluas pelayanan masyarakat. Data center memperoleh air, PDAM memperoleh pendapatan, dan masyarakat memperoleh jaringan yang lebih baik.
Risikonya pun harus dihitung sejak awal. Air yang pada 2026 terlihat masih longgar belum tentu berada pada posisi yang sama dua atau tiga dekade mendatang. Penduduk bertambah, jaringan PDAM berkembang, kegiatan ekonomi meningkat, kebutuhan pertanian berubah, sementara kontrak industri biasanya bersifat jangka panjang.
Pertanyaannya karena itu bukan sekadar apakah air tersedia hari ini, tetapi ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ๐บ๐ฎ๐ป๐ฎ ๐ฝ๐ฟ๐ถ๐ผ๐ฟ๐ถ๐๐ฎ๐ ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ด๐ด๐๐ป๐ฎ๐ฎ๐ป๐ป๐๐ฎ ๐ธ๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐ธ๐ฒ๐ฏ๐๐๐๐ต๐ฎ๐ป ๐ฝ๐๐ฏ๐น๐ถ๐ธ ๐บ๐ฒ๐ป๐ถ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐ ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐บ๐ฎ๐๐ฎ ๐ฑ๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ป.
Teknologi ๐ฅ๐ช๐ณ๐ฆ๐ค๐ต-๐ต๐ฐ-๐ค๐ฉ๐ช๐ฑ ๐ญ๐ช๐ฒ๐ถ๐ช๐ฅ ๐ค๐ฐ๐ฐ๐ญ๐ช๐ฏ๐จ memang lebih efektif memindahkan panas dari GPU dibandingkan pendinginan udara konvensional. Namun panas tersebut tetap harus dilepaskan ke lingkungan. Sistem akhirnya dapat memakai ๐ค๐ฐ๐ฐ๐ญ๐ช๐ฏ๐จ ๐ต๐ฐ๐ธ๐ฆ๐ณ, ๐ฅ๐ณ๐บ ๐ค๐ฐ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ณ, sistem hybrid, atau kombinasi beberapa teknologi.
Maka angka 384 liter per detik saja belum cukup untuk menilai dampaknya. Kita perlu mengetahui berapa air yang diambil, berapa yang benar-benar dikonsumsi, berapa yang disirkulasikan kembali, dan berapa yang hilang melalui evaporasi. Informasi semacam ini jauh lebih penting daripada sekadar menyebut pusat data menggunakan puluhan juta liter air per hari.
Perbandingan dengan Islandia kemudian menjadi lebih bermakna. Kedua tempat sama-sama mengubah geografi menjadi modal industri digital, tetapi karakter sumber dayanya berbeda. Islandia memanfaatkan temperatur lingkungan yang rendah, sementara Jatiluhur memanfaatkan air yang sekaligus memiliki fungsi sosial, pertanian, ekonomi, dan ekologis.
Karena itu, jika Indonesia ingin menjadi pusat data dan AI di kawasan, pemilihan lokasi seharusnya tidak hanya menghitung tanah, listrik, fiber, dan akses jalan. Temperatur, kelembapan, sumber air, teknologi pendinginan, risiko kekeringan, serta daya dukung lingkungan juga harus dihitung sejak awal.
Pusat data menghasilkan sesuatu yang digital, tetapi infrastrukturnya tetap fisik. Server bisa mengolah kecerdasan buatan, tetapi panasnya tetap harus dibuang ke dunia nyata.
Pemprov Jawa Barat sendiri pada akhir September 2026 meminta pembangunan proyek BDx dihentikan sementara karena AMDAL dan PBG belum terbit serta meminta kajian penggunaan air dibuka kepada publik. Hal ini tidak berarti proyek tersebut telah terbukti membahayakan sumber air, tetapi menunjukkan bahwa persoalan daya dukung lingkungan memang harus diselesaikan sebelum pembangunan berkembang penuh.
Indonesia tetap membutuhkan data center, infrastruktur AI, investasi, dan kemampuan mengolah data di dalam negeri. Jatiluhur bahkan bisa menjadi contoh yang baik apabila investasi industri akhirnya ikut memperkuat kemampuan PDAM melayani masyarakat.
Namun Islandia memberi satu pelajaran penting. Negara itu memonetisasi kondisi alam yang relatif tidak bersaing langsung dengan kebutuhan dasar penduduk. Jatiluhur menggunakan sumber daya yang berbeda, sumber daya yang diminum, dipakai bertani, dibutuhkan industri lain, dan menjadi bagian dari kehidupan sebuah wilayah.
๐๐๐น๐ฎ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐๐ฎ๐น ๐ฑ๐ถ๐ป๐ด๐ถ๐ป. ๐๐ฎ๐๐ถ๐น๐๐ต๐๐ฟ ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐๐ฎ๐น ๐ฎ๐ถ๐ฟ.
Keduanya mempunyai nilai ekonomi, tetapi konsekuensinya tidak sama. Maka dalam ekonomi AI, kita tidak cukup hanya menghitung harga listrik, kapasitas komputasi, dan besarnya investasi yang masuk.
Kita juga perlu menghitung sesuatu yang selama ini dianggap akan selalu tersedia: ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฟ๐ป๐๐ฎ ๐ต๐ฎ๐ฟ๐ด๐ฎ ๐๐ฎ๐๐ ๐น๐ถ๐๐ฒ๐ฟ ๐ฎ๐ถ๐ฟ?
Salam,
๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ฝ
***
Judul: Data Center: Islandia Menjual Dingin, Jatiluhur Menjual Air
Penulis:ย Kang Eep
Editor:ย Raka Alvaro Triputra












