MajmusSunda News, Senin (28/09/2026) – Artikel berjudul “Membereskan Kekacauan Negara Indonesia” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Kita tidak kekurangan orang yang ingin berkuasa. Kita kekurangan pemimpin yang tahu untuk apa kekuasaan diberikan.
Terlalu banyak yang memburu kemenangan pemilu, terlalu sedikit yang mampu memenangkan masa depan. Terlalu banyak yang sibuk mempertahankan kursi, terlalu sedikit yang berpikir tentang negeri setelah mereka pergi.

Namun mengganti orang saja tidak cukup.
Kita membutuhkan pembenahan institusi dari hulu ke hilir: partai politik yang tidak menjadi kendaraan segelintir elite, pemilu yang adil dan transparan, parlemen yang benar-benar mengawasi, birokrasi yang profesional dan bebas intervensi, hukum yang tidak bisa dibeli, penegak hukum yang independen, lembaga pengawas yang tidak dijinakkan kekuasaan, serta anggaran negara yang terbuka dan dapat diperiksa rakyat.
Kita juga membutuhkan pers yang bebas, masyarakat sipil yang kuat, dan ruang publik tempat kritik tidak diperlakukan sebagai ancaman.
Sebab negara yang sehat tidak boleh bergantung pada kebaikan hati satu pemimpin.
Kita membutuhkan pemimpin yang bermutu sekaligus institusi yang cukup kuat untuk membatasi pemimpin yang buruk.
Pemimpin boleh berganti. Partai boleh berganti. Kekuasaan boleh berpindah.
Tetapi hukum harus tetap tegak, negara harus tetap bekerja, dan rakyat harus tetap memiliki kuasa untuk mengawasi mereka yang berkuasa.
Sebab demokrasi yang matang bukan mencari manusia sempurna untuk memimpin, melainkan membangun institusi yang membuat kekuasaan siapa pun
tetap memiliki batas.
Indonesia tidak hanya membutuhkan pemimpin baru. Indonesia membutuhkan cara baru dalam mengelola kekuasaan.
***
Judul: Membereskan Kekacauan Negara Indonesia
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












