MajmusSunda News, Kabupaten Tasikmalaya, (25/9/2026)-Sudah sekitar 20 tahun warga Neglasari (Buniayu) Desa Cikawungading, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya (Tasikmalaya selatan/Tasela) mengajukan ke pihak Pemdes Cikawungading, Pemkab Tasikmalaya, juga lewat Anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya dari Dapil 6 (Kecamatan Cipatujah), hingga kini tak pernah tersentuh alias tidak di dengar.
Bagi warga Dusun Buniayu, akses jalan Neglasari (Buniayu) menuju Sukasari tembus ke Nasional pesisir Pantai Tasikmalaya selatan, satu-satunya akses jalan penting membuka isolasi sekitar 300 KK warga Buniayu hingga hidup hidup dalam keterisoliran.
Alasan klasik yang kerap didengar warga kata Ajengan Somantri salah tokoh Buniayu, yaitu keterbatasan anggaran. Padahal warga Buniayu khususnya Kampung Neglasari sudah 20 tahun mengajukan agar akses jalan Neglasari menuju Sukasari satu-satu akses jalan untuk membuka isolasi jalur lalu-lintas warga Buniayu bisa dibangun dan diaspal.
“Akses jalan Neglasari-Sukasari menuju jalan nasional sekitar 4 KM, jika dibangun jalan dan diaspal akan membuka isolasi warga Neglasari (Buniayu), jarak tempuh akan semakin cepat,” kata Somantri saat ngobrol langsung disela korehab (gotongroyong) warga Buniayu membuat jalan secara swadaya murni dengan kemampuan seadanya, Sabtu,(22/8/2026).
Ia kini bersama warga sudah hampir 3 bulan setiap hari Sabtu, kata Somantri terus gotongroyong membuat jalan agar bisa dilalui kendaraan roda empat dengan swadaya murni dengan mengambil batu di sekitar Buniayu (Neglasari) dengan alat seadanya
Ajengan Somantri tidak memungkiri memang sudah ada jalan bisa masuk ke Neglasari (Buniayu) lewat Dusun Klaksanan (Panti Laksana), namun itu lebih jauh dan memutar dengan kondisi jalan yang juga amburadul alias belum tersentuh aspal atau perbaikan.
Jalur Neglasari-Sukasari Jalur Hidup dan Alternatif Warga untuk Lalu-lintas Menuju Perkotaan.
Kampung Neglasari letak atau lokasinya memang sangat terisolir, untuk menempuh ke lokasi dari Sukasari dengan mengendarai Spedamotor harus konsentrasi penuh dan tenaga ektra, apalagi jika kondisi hujan, lengah sedikit resiko terjun bebas karena licin.
Padahal jalan Sukasari-Neglasari imbuh Somantri, jalur hidup yang kerap digunakan selain untuk aktivitas kaitan dengan ekonomi (hasil bumi), juga jalur pendidikan. Banyak siswa yang memanfaatkan jalur ini.
Ketua RT 4 Suganda. Menuturkan sudah 20 tahun, empat kepala dusun dan dua kepala desa, perjuangan membuka jalur jalan alternatif Neglasari -Sukasari lewat jembatan gantung (sekarang).
“Dulu sebelum jembatan gantung ada lalu-lintas masih menggunakan jasa rakit karena menyebrang Sungai Cibuniayu yang bermuara ke Sungai Cilangla,” kata Zenal diamini Ketua RT 5 Zenal
Suganda menambahkan selama hidup di Buniayu (Neglasari) jalur Neglasasri-Sukasari atau sebaliknya menjadi cita-cita warga Buniayu, selain merupakan lalulintas yang hidup juga menjadi urat nadi ekonomi warga dan jalur penting akses pendidikan.
Sedangkan Arji mantan guru SD menegaskan warga sudah lelah meminta bantuan kepada Pemdes, Pemkab Tasikamalaya dan Anggota DPRD terhormat.
“Para Wakil rakyat hanya datang lima tahun sekali, jika membutuhkan suara. Sedangkan jika rakyat ada kemauan sudah dua puluh tahunan warga Neglasari terisolir meminta akses jalan tidak didengar. Padahal disini ada suaranya yang paling banyak dipilih warga Buniayu,” katanya sambil tersenyum diamini oleh sekitar 50 warga lebih yang hadir korehab.
Kadus Biniayu Ahrudin menjelaskan ada sekitar 300 KK warga Buniayu yang hidup dalam keterisoliran, terutama warga Kampung Neglasari. Ia mengatakan Kampung Neglasari posisinya ada di atas bukit paling tinggi di wilayah Buniayu dan paling banyak warganya.
Di kampung Buniayu (Neglasari) imbuh Ahrudin, ada SD Neglasari dan SMP Satap Desa Cikawungading untuk menuju SD Neglasari dan SMP Satap jalur Sukasari-Neglasari atau sebaliknya menjadi lalu-lintas penting.
“Siswa yang akan sekolah kerap menggunakan jalur ini, baik yang akan ke sekolah, SD Neglasari, SMP Satap atau yang akan sekolah ke luar seperti ke SMAN Cikawungading dan SMAN 1 Cipatujah,” kata Ahrudin disela korehab
Cici Purwadi warga Sukasari (Tamansari) menjelaskan jika jalur Sukasari-Neglasari menjadi lalu-lintas hidup untuk aktivitas ekonomi dan pendidikan. Bahkan jika jalan ini permanen kata Cici bisa menyambungkan tidak hanya antar kampung di Desa Cikawungading tapi juga bisa tembus ke desa lainnya di Kecamatan Cipatujah (Rancakangkung Desa Darawati/langsung ke Jalan milik Provinsi Jawa Barat).
“Jalan Sukasari-Neglasari jalan hidup yang kerap digunakan warga menjadi jalan alternatif yang paling cepat untuk membuka isolasi warga Buniayu, bahkan bisa dikatakan jalan ini hudp 24 jam,” kata Cici yang juga perajin (penyadap) gula ini












