MAJMUSSUNDA NEWS, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (21/09/2026) – Kehadiran Wali Kota Bandung, H. Muhammad Farhan, S.E., di Pasar Baru Bandung, disambut ramah dan oleh para pedagang yang terhimpun dalam Himpunan Pedagang Pasar Baru (HP2B).
Para pedagang penuh semangat dan harapan serta optimisme begitu Wali Kota Bandung, H. Muhammad Farhan, hadir pada sebuah perhelatan bertajuk “Syukuran Akbar Pembukaan Kembali Bandara Husein Sastranegara”.
Selama puluhan tahun, Pasar Baru adalah muara bagi wisatawan mancanegara Singapura dan Malaysia, yang terbang langsung ke Husein Sastranegara. Kedatangan Walai Kota Bandung, Farhan bagaikan seorang pahlawan dan seolah menjadi simbol optimisme baru; dengan dibukanya kembali Bandara Husein Sastranegara sebuah awal yang segar untuk mobilitas warga yang selama ini merindukan kepraktisan mendarat tepat di jantung kota.
Iwan Suhermawan sebagai Ketua HP2B (Himpunan Pedagang Pasar Baru) dalam sambutan mewakili ratusan aspirasi pedagang mengatakan, “Ini bukan seremoni kosong; ini adalah momen di mana pemerintah mendengarkan langsung bagaimana aksesibilitas udara adalah urat nadi bagi keberlangsungan UMKM dan ritel legendaris Bandung.”


Direktur Utama Perumda Pasar, Pradana Adity, menceritakan betapa gigihnya lobi-lobi yang dilakukan untuk mewujudkan hal ini. Ia mengatakan, “Ini upaya maksimal dari Bapak Wali Kota Bandung. Beliau bolak-balik ke Jakarta bertemu kementerian sehingga menghadap Bapak Presiden juga agar Bandara Husein bisa dibuka. Tujuannya, jika bandara dibuka, wisatawan mancanegara akan meningkat traffic-nya ke Kota Bandung, yang dampaknya langsung ke Pasar Baru Trade Center.”

Pradana mengharapkan, dengan konektivitas udara yang kembali normal, Pasar Baru tidak hanya dikunjungi warga lokal, tetapi kembali menjadi magnet bagi pelancong mancanegara yang merindukan sensasi belanja di jantung Kota Bandung.
Sebagai Wali Kota, Farhan menceritakan bagaimana perjuangannya supaya Bandara Husein Sastranegara dibuka kembali untuk destinasi nasional dan Internasional.
Pembukaan kembali Bandara Husein Sastranegara bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah hasil lobi intensif dan upaya “jemput bola” Wali Kota ke Jakarta. Bahkan, hingga menghadap Presiden.
“Bagi warga Bandung, ini adalah mimpi yang akhirnya terwujud. Logikanya sederhana: tanpa akses udara langsung, Pasar Baru kehilangan magnet utamanya bagi wisatawan mancanegara,” ujar Farhan
Wali Kota Bandung tersebut menyampaikan dengan panjang lebar mengenai strategi untuk membangun/mengembangkan kota Bandung supaya kembali mengalami kejayaan seperti sebelum Wabah Covid, dimulai dengan tata pemerintahan, keuangan di instansi di lingkungan pemerintahan Kota Bandung yang dipimpinnya, bagaimana dengan pembangunan jalur bus cepat (BRT) yang saat ini sedang berjalan, Bagaimana jika kemacetan parah dan kekacauan akibat proyek transportasi baru justru menjadi kunci untuk menyelamatkan pusat perbelanjaan legendaris dari kelupaan?

Di tengah upaya membangkitkan kembali kejayaan Pasar Baru Trade Center Bandung, Farhan menyampaikan bahwa pemerintah kota dihadapkan pada pedang bermata dua: peluang emas dari langit lewat pembukaan bandara dan tantangan transisi di darat akibat pembangunan jalur bus cepat (BRT).
Pertama, dampak pembukaan kembali Bandara Husein Sastranegara terhadap roda ekonomi Pasar Baru; Kedua, potensi disrupsi dan konflik sosial akibat pembangunan infrastruktur BRT (Bus Rapid Transit); Ketiga, pelajaran penting dari kegagalan integrasi transportasi di masa lalu (studi kasus Busway Jakarta); dan Strategi komunikasi publik kreatif dan pendekatan dialogis informal dalam menjaga kondusivitas wilayah.
Apa hubungannya bandara dengan pasar tradisional modern seperti Pasar Baru?
Sederhananya: konektivitas langsung mendatangkan daya beli. Dengan aktifnya kembali bandara ini, arus wisatawan domestik maupun mancanegara (khususnya dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura) diproyeksikan akan meningkat pesat.
Pasar Baru Trade Center yang secara historis menjadi destinasi belanja utama turis asing di Bandung, akan langsung merasakan dampak positifnya melalui peningkatan volume kunjungan dan transaksi ekonomi. Langkah ini diharapkan mampu memicu pemulihan ekonomi kota pasca-pandemi atau masa-masa sepi pengunjung.
Di balik kabar gembira dari sektor udara, darat menyisakan pekerjaan rumah yang menantang. Pemerintah Kota Bandung berencana membangun sistem BRT (Bus Rapid Transit) yang melintasi kawasan Pasar Baru. Proyek ini bertujuan jangka panjang untuk mengurai kemacetan, namun dalam jangka pendek, pembangunannya dipastikan akan membawa ketidaknyamanan luar biasa.
Pembangunan halte di tengah jalan akan mempersempit ruang gerak kendaraan dan memicu kemacetan parah di sekitar Cicadas hingga Pasar Baru. Bahkan, sopir angkot lokal pun turut bersuara demi mempertahankan mata pencaharian mereka.
Wali Kota Bandung memberikan peringatan keras dengan berkaca pada Studi Kasus Busway Koridor 2 Jakarta: Ketika jalur bus Transjakarta dibangun melewati Pasar Kramat Jati, jalur khusus bus (busway) tersebut justru dikuasai oleh Pedagang Kaki Lima (PKL). Kemacetan tidak terurai, armada bus terhambat, dan terjadi konflik perebutan ruang yang sengit antara petugas, sopir bus, dan pedagang.
Ini adalah alarm bagi Bandung. Jika pembangunan halte BRT tidak dibarengi dengan dialog tata ruang yang matang, ketidaknyamanan sementara bisa berubah menjadi konflik sosial yang permanen.
Strategi Komunikasi Publik: Bad News is Good News
Menghadapi potensi kekacauan lalu lintas selama konstruksi BRT, Wali Kota Bandung melontarkan sudut pandang komunikasi yang unik: “Bad news is good news” (Kabar buruk adalah kabar baik).
Bagaimana logikanya? Selama hampir tiga tahun masa sepi, banyak pelanggan luar kota mungkin sudah mulai melupakan keberadaan Pasar Baru. Ketika media massa ramai memberitakan dinamika, kemacetan, atau bahkan ‘gejolak’ akibat proyek BRT di Pasar Baru, perhatian publik secara psikologis akan terseret kembali ke sana. Orang-orang akan teringat kembali: “Oh, ternyata Pasar Baru masih ada dan sedang ada pembangunan di sana.”
Namun, strategi ini sangat berisiko tinggi jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, pengelolaan kewilayahan oleh Camat, Lurah (Kebon Jeruk dan Braga), serta organisasi masyarakat seperti FKDM sangat krusial untuk menjaga agar dinamika tersebut tetap menjadi ‘kebisingan kreatif’ dan bukan konflik destruktif.

Resolusi Konflik Kreatif: Dari Kedai Kopi hingga Meja Gapleh
Bagaimana cara menyatukan visi para pedagang, sopir angkot, birokrat, dan aparat keamanan agar pembangunan tetap berjalan kondusif? Jawabannya bukan lewat rapat formal yang menegangkan, melainkan melalui pendekatan budaya lokal.
Di Bandung, negosiasi tidak melulu dilakukan di ruang rapat ber-AC. Pemerintah kota merangkul berbagai komunitas, termasuk organisasi unik seperti Orado (induk organisasi olahraga gapleh/domino):
Pertama, Dialog Informal: Menjajaki kesepakatan sambil menyeruput kopi hangat; Kedua, Meja Gapleh sebagai Pemersatu: Permainan domino (gapleh) mencairkan sekat-sekat formalitas antara pejabat pemerintah dan warga atau pedagang pasar; Ketiga, Membangun Resiliensi: Melalui kebersamaan informal ini, komitmen bersama untuk bertahan (resilience) di tengah gempuran proyek BRT dapat disepakati secara kekeluargaan.
Rencana kolaborasi dengan Lion Thailand untuk rute langsung Don Mueang–Bandung bukan sekadar soal tiket pesawat, melainkan tentang menghidupkan kembali ekosistem ekonomi yang sempat layu selama tiga tahun terakhir.
“Peningkatan trafik ke Kota Bandung melalui Bandara Husein akan berdampak langsung ke Pasar Baru Trade Center. Harapan kita adalah menumbuhkan kembali ekonomi melalui kunjungan dan transaksi yang nyata,” ungkap Farhan.
Inspirasi Chatuchak: Menjawab Kelelahan dengan Kreativitas
Mengapa Pasar Chatuchak di Thailand begitu melegenda? Jawabannya bukan hanya barang kodian berkualitas, tapi kenyamanan. Bandung ingin meniru model bisnis ini. Selain barang grosir yang mumpuni, akan ada layanan tambahan seperti jasa pijat sehat di pintu-pintu keluar pasar.

Inspirasi ini datang dari fenomena nyata di Bandung baru-baru ini. Saat ajang marathon (Pocari Run) berlangsung, salon, barbershop, hingga tempat pijat di Bandung penuh sesak oleh para pelari. Ini adalah bukti bahwa Bandung adalah kota kreatif yang mampu merespons kebutuhan pasar.
Farhan menutup sambutannya pada acara Syukuran Akbar Pembukaan Kembali Bandara Husein Sastranegara, “Dalam ekonomi tidak ada keajaiban. Yang ada hanyalah kerja keras dan kreativitas untuk memastikan ekonomi kita terus bergerak.”
Menurut pembaca apakah dengan dibukanya kembali Husein Ssatranegara menjadi awal kebangkitan ekonomi Pasar Baru? Perbandingan dengan Chatuchak Thailand sesama pasar yang menjual barang kodian seperti yang disampaikana Wali Kota Bandung.
***
Judul: Wali Kota Bandung: Setelah Bandara dibuka, lalu apa?
Penulis: Asep Zaenal Mustofa
Editor: Jumari Haryadi












