Dari SMKN Bantarkalong Lewat “Terpana” Nyalakan Literasi dan Seni Pertunjukan  untuk Jawa Barat

Feby Surya sukses meraih lolos 10  ASN Berprestasi Jawa Barat 2026 kategori PPPK dari 328  peserta yang ikut  tandang makalangan di Provinsi Jawa Barat baru-baru ini.

Feby Surya Abdul Bashit, S.Pd., Gr guru Bahasa Indonesia SMKN Bantarkalong sukses lolos 10 ASN Berprestasi Jawa Barat 2026 kategori PPPK dari 300 peserta yang ikut tandang makalangan di Provinsi Jawa Barat (Agung Ilham Setiadi/majmussunda)

 

MajmusSunda News, Kabupaten Tasikmalaya, (23/9/2026)-Terpana sebuah program cerdas dari seorang Guru Bahasa Indonesia dari SMKN Bantarkalong Feby Surya Abdul Bashit, S.Pd., Gr. digaungkan. 

 

Hasilnya cukup meyakinkan, Feby sukses meraih lolos 10  ASN Berprestasi Jawa Barat 2026 kategori PPPK dari 328  peserta yang ikut  tandang makalangan di Provinsi Jawa Barat baru-baru ini.

 

Gerakan literasi Terpana (Teras, Panggung dan Pena) lahir dari gagasan atau ide praktik baik dan terpadu yang memadukan ruang baca, seni panggung, dan pena atau hilirisasi aksara. 

 

Feby  menjelaskan lewat pilar Teras, akses terhadap buku didekatkan tanpa sekat formalitas melalui pemanfaatan selasar sekolah, pembiasaan membaca terfokus sebelum jam pelajaran kelas dua belas, serta pelibatan aktif dalam gerakan literasi regional. 

 

Melalui pilar Panggung, siswa digembleng olah rasa, vokal, dan gestur tubuh guna menanamkan nilai kearifan lokal Sunda Gapura Panca Waluya, yaitu pribadi yang sehat, santun, jujur, cerdas, dan terampil, diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Feby saat ngobrol di sela istirahat mengajar.

 

Sementara itu, pilar Pena tutur Feby,  menjadi muara penciptaan karya nyata yang membawa tulisan siswa menembus legalitas antologi ber-ISBN resmi serta memperluas jangkauan edukasi ke ranah publikasi digital.

 

Feby menambahkan dedikasi mengajar dan mendidik siswa sesungguhnya berakar dari perjalanan panjang yang dirintis secara konsisten sejak tahun 2017 lewat pendirian wadah ekstrakurikuler Teater Bakal di SMKN Bantarkalong. 

 

“Dari panggung olah peran ini, telah lahir salah satu talenta monolog berprestasi seperti Nur Rahma yang berhasil menembus tingkat provinsi Jawa Barat hingga melesat menjadi delegasi Indonesia dalam forum internasional di Kolombo, Sri Lanka,” tutur Feby bangga

 

Tak hanya Nur Rahma yang menorehkan prestasi gemilang. Ada juga nama  nama-nama berbakat dan prestas lainnya seperti Nisa, Chelse, Nita, dan Dina. 

 

“Jejak kepenulisan pun telah bersemi sejak tahun 2017 ketika ananda Yesi menyabet gelar juara menulis dongeng Sasakala Lembur, yang kemudian dilanjutkan oleh Kesa Herania sebagai finalis penulisan cerpen tingkat Jawa Barat, hingga terbitnya buku antologi puisi ber-ISBN Ungkapan yang Meracau karya kolaboratif guru dan siswa bersama penerbit Langgam Pustaka,” imbuh Feby.

 

“Pendidikan kejuruan di Sekolah Menengah Kejuruan sering kali terjebak dalam stereotipe sempit sebagai pencetak tenaga kerja teknis mekanis yang melulu bertumpu pada penguasaan keterampilan teknis semata,” imbuhnya. 

Padahal dalam diri siswa tutur Feby, ada potensi pisikologis dan spiritualisme, seperti olah rasa, kepekaan seni, kemampuan berpikir kritis, serta kemahiran berbahasa dan berkomunikasi kerap terpinggirkan.

 

“Di wilayah perbatasan selatan Jawa Barat, khususnya Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya, situasi kurang minatnya literasi, diperparah  oleh ruang perpustakaan konvensional yang isi bukunyakaku serta maraknya gawai yang menyita atensi generasi muda tanpa arah produktif, sehingga menyisakan rasa minder pada diri anak-anak di pedesaan,” tutur Feby.

 

Melihat kondisi Tasikmalaya selatan (Tasela) yang minim literasi. Ia menolak menyerah pada keterbatasan geografis dan fasilitas, sebuah inisiatif bersamapun lahir

 

“Menjadi abdi negara di perbatasan bukan tentang mengeluhkan keterbatasan sarana, melainkan tentang kerelaan melangkah lebih jauh untuk membuktikan bahwa dari sudut selatan Tasikmalaya, lentera literasi dan karakter dapat terus menyala demi terwujudnya Jawa Barat Istimewa,” katanya semangat.

 

Keberhasilan gerakan literasi ini pungkas Febi, bukti konkret bahwa etos kerja pendidik di pelosok mampu mengubah potensi anak didik menjadi daya saing global.

Transformasi ini pungkas Feby membangkitkan rasa percaya diri siswa vokasi, menghidupkan tradisi pertunjukan seni di tengah masyarakat desa, sekaligus mendongkrak budaya mutu sekolah. 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *