Nothing About Us Without Us: Saat Mahasiswa ITB Membangun Teknologi Asistif Bersama Penggunanya

Oleh: Farhan Helmy

Teknologi Asistif

MajmusSunda News – Bandung, Senin (21/09/2026) – Bagaimana jika teknologi asistif tidak hanya dikembangkan untuk penyandang disabilitas, tetapi sejak awal diuji dan disempurnakan bersama penggunanya?

Pada Rabu, 16 September 2026, tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), Peter Christovel Jethro, Nicks C’ven Nels, dan Sarah Christine R. Tambunan, melakukan uji coba prototipe Neurova bersama delapan penyandang disabilitas dari berbagai wilayah di Kota Bandung.

Tim mahasiswa Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) dan Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB ini telah mengembangkan prototipe teknologi asistif Neurova sejak awal 2026.

Neurova merupakan sarung tangan berbasis sensor yang dirancang untuk mendukung latihan gerakan tangan. Prototipe menghubungkan sensor dengan aplikasi digital dan gamifikasi agar latihan lebih interaktif sekaligus menghasilkan data yang dapat diukur, seperti gerakan dan sudut jari, range of motion, kekuatan genggaman, frekuensi latihan, dan durasi sesi.

Dalam user testing ini, setiap peserta mencoba perangkat selama sekitar 20–30 menit. Kegiatan ini bukan tindakan medis, melainkan kesempatan bagi tim Neurova untuk memperoleh masukan langsung mengenai kenyamanan, kemudahan penggunaan, pengalaman dengan gamifikasi, serta aspek-aspek yang masih perlu diperbaiki.

Bagi DILANSIndonesia, pertemuan ini merupakan bagian dari proses yang lebih panjang. Selama empat tahun terakhir, DILANS membangun jejaring community engagement dan riset dengan perguruan tinggi, komunitas penelitian, organisasi profesi, social enterprise, serta berbagai mitra lainnya. DILANS tidak memiliki seluruh kapasitas untuk mengembangkan teknologi asistif sendiri. Namun, melalui kolaborasi, kita dapat membangun ekosistemnya.

Dan kebutuhan itu sangat besar. Di Indonesia, penyandang disabilitas dan penduduk lanjut usia secara bersama-sama mencakup lebih dari 50 juta orang. Teknologi asistif yang terjangkau karena itu bukan sekadar persoalan teknologi atau pasar. Dibutuhkan ekosistem yang menghubungkan pengguna, riset, desain, produksi, layanan kesehatan dan rehabilitasi, industri, social enterprise, pembiayaan, serta dukungan negara agar inovasi dapat berkembang dan tetap terjangkau bagi mereka yang membutuhkannya.

Investasi dan pembiayaan publik menjadi penting, terutama pada tahap ketika inovasi yang menjanjikan belum cukup matang atau belum memiliki skala pasar untuk berdiri sendiri. Dengan ekosistem yang tepat, teknologi asistif juga dapat membuka lapangan kerja serta rantai pasok produk dan jasa baru. Suatu jejaring yang menghubungkan riset, desain, perangkat keras dan perangkat lunak hingga produksi, distribusi, perawatan, dan layanan pendukung.

Momentum ini semakin relevan dengan hadirnya resolusi terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai teknologi asistif dua minggu lalu.

Neurova telah dikembangkan sebelum resolusi tersebut hadir. Namun, momentum global itu memperkuat pertanyaan yang perlu kita jawab bersama: bagaimana Indonesia membangun ekosistem teknologi asistif yang inklusif, inovatif, dan terjangkau?

Peter, Nicks, dan Sarah tentu belum harus memiliki semua jawabannya. Tetapi keberanian mereka untuk mulai mengeksplorasi persoalan ini, membuat prototipe, lalu membawanya keluar dari kampus, mengujinya bersama delapan pengguna di Yayasan Anak Bunda Istimewa (YABI), merupakan langkah yang patut dicontoh dan menginspirasi mahasiswa dan para inovator.

Bayangkan jika lebih banyak mahasiswa, peneliti, kampus, startup, dan anak muda Indonesia berani melakukan hal yang sama.

Bawa prototipenya, temui penggunanya, dengarkan pengalamannya, perbaiki bersama, lalu bangun ekosistemnya.

Nothing About Us Without Us, pada akhirnya bukan sekadar slogan, tetapi komitmen dan keberpihakan pada warga yang terpinggirkan yang belum serius diimplementasikan.

#DILANSIndonesia #Neurova #ITB #AssistiveTechnology #TeknologiAsistif #InclusiveInnovation #CoCreation #DisabilityInclusion #InclusiveEconomy #NothingAboutUsWithoutUs

Farhan Helmy

Judul: Nothing About Us Without Us: Saat Mahasiswa ITB Membangun Teknologi Asistif Bersama Penggunanya

Penulis: Farhan Helmy adalah pendiri dan CEO Advanced Systems Computing Design and Innovation (ASCODI) Lab, Kepala Sekolah Thamrin School of Climate Change and Sustainability, serta salah seorang penggagas Inclusive District Platform (IDP). Selama lebih dari tiga dekade ia bekerja pada persinggungan teknologi geospasial, penginderaan jauh, pemodelan sistem, perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan, dan inklusi sosial. Karyanya saat ini berfokus pada integrasi GeoAI, pemikiran sistem, pengetahuan komunitas, dan pengalaman hidup untuk memperkuat daya bertindak warga serta mendorong pembangunan yang lebih inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.

Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *