Psychoneurose dalam Interaksi Sosial, Kultural dan Individual, Pada Kebiadaban Kehidupan Sekarang

Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja (Guru Toge)

MajmusSunda News, Jum’at (18/09/2026) – Artikel Berjudul “Psychoneurose dalam Interaksi Sosial, Kultural dan Individual, Pada Kebiadaban Kehidupan Sekarang” ini ditulis Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja/Pensiunan Guru Toge. Penulis merupakan Pinisepuh Pamangku Sunda/ Majelis Musyawarah Sunda, di dunia Industri (Textile,Bank, Perkebunan) pernah menjadi GM.Finance, GM.HRD, dan Direktur HRD di Rumah Sakit. Di dunia Pendidikan pernah menjadi Wakil Rektor bid.Kemahasiswaan &Alumni, Wakil Rektor bid.Sumberdaya dan Legal.

Semakin edannya dinamika kehidupan masa sekarang ini, hilangnya rasa malu, rasa berdosa, tidak ada adab dan sopan santun, sombong bicara ngacaprak atas nama Egaliter, sebetulnya itu semua demikian besarnya Penyimpangan Perilaku dikalangan Anak, Remaja dan Anak Muda ( yang tepuk dada dengan bangga disebut GEN-Z ), Orang Dewasa, Orang Tua yang sudah diatas 60 tahun, telah dirasuki oleh Penyimpangan Psikologis, Jiwa , fikiran dan perasaan mereka.

Penyimpangan itu semua, dilatar belakangi oleh masalah Sosial Ekonomi Keluarga, Lingkungan dan Kondisi Bangsa yang katanya sedang bergumul mengatasi kemiskinan, Globalisasi, dan perkembangan Teknologi yang sulit untuk dikejar, semua tatanan masyarakat dari level Cacing Cau sampai pada Takhta Pejabat mengalami Culture Schock, yang akhirnya berpengaruh pada perilaku.

Akibat kebiasaan buruk itulah, tercipta masyarakat Budak uang, Hedonis- Konsumeris- materialis serta dipenuhi rasa tidak percaya diri, takut gagal, takut kalah bersaing, takut miskin, takut salah, Takut kehilangan Jabatan, Budaya ngemplang, Short Time Span, tidak tahu diri, kesanggupan tidak sesuai kemampuan, Mental Budaya jam karet, asal ngomong, Munafiq, malas berfikir dan malas bekerja, Cari Gelar bukan Ilmu. dll.

Sehingga pada saat orang diberi tugas ataupun kepercayaan, mereka akan memilih 3 (Tiga ) ladang Garapan yang tersedia : Lahan Basah, Lahan Kering atau Lahan baru, dengan kondisi gangguan perilaku mayoritas akan memilih Lahan Basah yang mudah serta cepat menghasilkan Kekayaan, serta dengan Menghalalkan Segala Cara, biarpun harus menabrak aturan dan bermain dengan Elite Penguasa dan Pengusaha yang berkuasa, ketimbang menggeluti Lahan kering atau Lahan baru dengan Tekad kuat, Inovasi kreatif, terobosan atau Strategi baru.

Perkembangan yang Pathologis dalam perilaku dan Kepribadian Orang atau Individu, itulah yang mengarahkan pada langkah yang salah terhadap lingkungan.
Penyakit tersebut, dimulai dalam keluarga selaku masyarakat kecil, diawali pada hubungan antara Orang Tua dan Anak yang salah, menyebabkan menjadi Immature dan Attitude yang tidak wajar.

Meskipun penderita Psychoneurose secara Mental disebut Sakit, tapi tidak menyebabkan Pemalsuan Realitas maupun Hallusinasi , sehingga masih bisa melakukan tindakan menggasab hak orang lain, Korupsi dsb tanpa merasa bersalah , semakin lama akan berdampak pada Waham atau Dellusion, terlebih yang terkena Waham Kebesaran, mereka harus selalu tampak sempurna, harus dipuja puji, harus diagung agungkan, harus punya kekuasaan dan harus terlihat kaya raya.( kalau perlu sampai 7 turunan ).

Tekanan kehidupan seperti hal diatas, menjadikan adanya perkembangan kepribadian yang salah, adanya penilaian terhadap stress kehidupan umum, timbul Anxiety ( kecemasan) menjadi lingkaran setan dan menimbulkan Symptom Scunder berakibat Manusia tersebut selalu dihinggapi Kelelahan yang kronis dan Ketidak puasan dengan kondisi yang sekarang dia alami. ( menurut Freud, kelainan terhadap remaja dan Dewasa itu, merupakan pencerminan Fase sebelumnya : Id – Ego – Super Ego).

Kalau saja orang orang yang berciri Penderita Psychose, pada umumnya : adanya perasaan tidak Adequade, kurang adanya toleransi, selalu minta perlindungan orang lain ( dikawal dsb ), selalu ada rasa ketakutan, adanya ketegangan serta Sugestible, kepribadian yang Egosentris dan hubungan Interpersonal yang terganggu ( bila punya kekuasaan ), sering terlalu banyak memberi harapan pada orang lain, akibatnya akan memperbesar rasa benci, permusuhan, akibatnya lebih Erotis lagi mengarah pada Visccus Circle.

Tanpa didasari oleh pemahaman Nilai Nilai Agama yang kokoh, rasa Budaya yang Tanggoh, mereka dalam kehidupan bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara, akan kelihatan kurangnya Insight dan adanya Kepribadian yang Rigidity, perasaan tidak puas, tidak bahagia, Takut konflik, adanya Symptom Psychologis & Psychosomatis. ( Phobbia, Obssesive, Compulsive ).

Yang cukup parah dalam bermasyarakat, mereka akan menunjukkan Asthenic Reaction atau Neurasthenia, pada penampilannya Wajah terlihat Kelelahan Mental, mata dan mulut bergerak gerak secara chronis , kurang konsentrasi, merasa badannya tidak segar dan memerlukan suntikan obat, keluhan somation nyeri di Kepala , serta Hyper Sensitivitas ataupun mengalami suatu keadaan Hypochondriaal yang tidak jelas.

Pola pola seperti itu bertimbun pada kehidupan masyarakat yang disebut Beard atau Geard merupakan Syndrome kelelahan yang berasal dari Conflict dan kerja yang berlebihan, berefect Frustrasi yang berlarut larut serta situasi yang tidak berpengharapan, menimbulkan gangguan dalam tidur. *Akhirnya* penyimpangan Perilaku dan Penyimpangan Mental tersebut, dimana Perasaan dan Emosi adalah produk dari Fikiran yang kita ciptakan, sebagai respons terhadap setiap situasi dan kejadian yang dialami. Ketidak nyamanan adalah Disharmoni Otak dengan Fikiran yang sering membelenggu, sampai akhirnya menjadi Gangguan yang membuat kita tidak berfungsi Secara Individual dan Sosial.

Oleh karena itu Kehidupan budaya SUNDA sudah mengajarkan melalui Isyarat Hidup atau Pepatah yang berbunyi HIRUP MAH KUDU TUNGKUL KA JUKUT- TONG LOBA TEUING TANGGAH KA SADAPAN.

=====00000=====

***

Judul: Psychoneurose dalam Interaksi Sosial, Kultural dan Individual, Pada Kebiadaban Kehidupan Sekarang
Penulis: Ernawan S Koesoemaatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *