MajmusSunda News – Bandung, Rabu (16/09/2026) – Bukan untuk menyalahkan siapa pun dan bukan untuk mendahului hasil investigasi, tetapi untuk menjadi pembelajaran dalam membangun safety awareness dan safety culture.
Kegiatan di lingkungan gunungapi aktif dan perairan terbuka memiliki risiko yang kompleks dan dinamis. Kondisi dapat berubah dalam waktu singkat sehingga keselamatan perlu menjadi bagian dari setiap tahapan operasi, mulai dari perencanaan hingga pengakhiran kegiatan.
Hal yang perlu menjadi pembelajaran
1. Safety Awareness
Setiap personel perlu memiliki kesadaran terhadap lingkungan kerja, potensi bahaya, batas keselamatan, perubahan kondisi, serta konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil.
2. Risk Assessment
Sebelum operasi, lakukan identifikasi dan penilaian terhadap berbagai risiko, termasuk aktivitas vulkanik, material erupsi, cuaca, gelombang, arus, visibilitas, kondisi kapal, gangguan mesin, komunikasi, dan kemungkinan keadaan darurat.
3. Go / No-Go Decision
Keputusan untuk berangkat harus mempertimbangkan hasil penilaian risiko, kondisi aktual, kemampuan mitigasi, serta rekomendasi dan pembatasan dari otoritas terkait.
4. Safe Operating Distance
Kegiatan dokumentasi harus direncanakan dari posisi yang sesuai dengan batas keselamatan yang berlaku. Kebutuhan memperoleh informasi atau gambar tidak seharusnya mendorong personel mengambil risiko yang tidak dapat diterima.
5. Communication & Tracking
Pastikan tersedia komunikasi utama dan cadangan, GPS atau live tracking, jadwal check-in, kontak darurat, serta prosedur yang jelas apabila komunikasi terputus atau terjadi keterlambatan check-in.
6. Emergency & Contingency Plan
Skenario keadaan darurat harus dipersiapkan sebelum operasi, seperti kapal bermasalah, mesin mati, man overboard, cuaca atau gelombang memburuk, kehilangan komunikasi, maupun perubahan aktivitas vulkanik.
7. Dynamic Risk Assessment
Penilaian risiko harus terus dilakukan selama operasi. Apabila kondisi berubah dan tingkat risiko meningkat, tim harus siap menghentikan kegiatan dan kembali ke kondisi yang lebih aman.
8. Stop Work Authority
Setiap personel perlu memiliki keberanian dan kewenangan untuk menghentikan kegiatan apabila melihat kondisi yang tidak aman.
“Stop—kondisinya sudah tidak aman.”
9. System Safety, bukan Victim Blaming
Evaluasi keselamatan sebaiknya tidak langsung mencari siapa yang salah, tetapi melihat keseluruhan sistem:
- awareness,
- SOP,
- briefing,
- risk assessment,
- supervisi,
- komunikasi,
- peralatan,
- kondisi kapal,
- pengambilan keputusan,
- dan dukungan organisasi.
Pertanyaan pentingnya bukan sekadar:
“Siapa yang salah?”
Melainkan:
“Apakah setiap personel dan seluruh sistem operasi telah memiliki awareness, kesiapsiagaan, dan pengendalian risiko yang memadai untuk menjalankan misi tanpa mengambil risiko yang tidak dapat diterima?”
Keselamatan bukan penghambat misi.
Keselamatan adalah bagian dari misi.
Awareness → Assessment → Preparedness → Action → Response → Recovery
I-DERU – A Relief for Humanity
PRAY for the BEST, PREPARE for the worst, ALWAYS be PREPARED!
Judul: Safety Review: Kasus Hilangnya Jurnalis di Sekitar Anak Krakatau
Penulis: Irawan Wahyudi
Editor: Parkah












