MajmusSunda News – Bandung, Minggu (13/09/2026) – “Kritiklah kenyataan, tetapi jangan bunuh harapan.”
Bukti empiris yang tersedia menunjukkan sesuatu yang lebih subtil: realitas ekonomi dan realitas psikologis tidak selalu bergerak dalam arah yang sama, sementara media sosial dapat memperbesar persepsi tentang krisis, ketidakpastian, dan ketidakberdayaan.
Menariknya, data resmi terbaru malah menunjukkan paradoks. Kemiskinan nasional menurut BPS turun menjadi 8,07% pada Maret 2026, atau 22,93 juta orang. Bank Indonesia juga mencatat Indeks Keyakinan Konsumen Juli 2026 masih optimistis di angka 116,8, sementara indeks kondisi ekonomi saat ini 107,9. Jadi, gambaran “Indonesia sudah di tepi jurang” tidak sepenuhnya sesuai dengan indikator makro tersebut.
Tetapi itu bukan berarti rakyat baik-baik saja. Bahkan BPS dan Bank Dunia baru-baru ini menunjukkan perbedaan penting: dengan garis kemiskinan Bank Dunia untuk negara berpendapatan menengah atas, sekitar 64,1% penduduk Indonesia berada di bawah US$8,30 PPP/hari. Itu menggambarkan kelompok masyarakat yang mungkin tidak masuk kategori “miskin” menurut standar nasional, tetapi tetap sangat rentan secara ekonomi.
Pembahasan ini diarahkan pada “perang terhadap distorsi realitas”, bukan perang terhadap media sosial. Kita membutuhkan information hygiene: masyarakat belajar membedakan fakta, opini, framing, propaganda, algoritma, dan realitas lapangan.
Ketika Kesengsaraan Menjadi Persepsi
Ada sebuah pertanyaan yang menurut saya semakin penting kita ajukan:
Apakah masyarakat Indonesia benar-benar sedang semakin sengsara—atau kita sedang hidup dalam ekosistem informasi yang terus-menerus membuat kita merasa sengsara?
Jawabannya tentu tidak sederhana.
Karena di lapangan kita menemukan dua wajah Indonesia sekaligus.
Cobalah berjalan keliling Jakarta.
Pasar masih ramai.
Warung masih buka.
Mal pada akhir pekan masih penuh.
Restoran masih antre.
Kafe masih dipenuhi anak muda.
Orang masih bepergian, membeli barang, menikmati hiburan, dan menjalankan kehidupan sehari-hari.
Tetapi pada saat yang sama, hampir di mana-mana kita mendengar keluhan:
“Hidup semakin sulit.”
“Ekonomi semakin berat.”
“Masa depan semakin tidak jelas.”
“Indonesia sedang menuju krisis.”
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Karena perasaan masyarakat terhadap ekonomi adalah bagian dari realitas ekonomi itu sendiri.
Angka statistik tidak boleh diabaikan. Tetapi perasaan manusia juga tidak boleh diremehkan.
Data BPS menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan nasional justru turun menjadi 8,07% pada Maret 2026, dari 8,25% pada September 2025. Jumlah penduduk miskin juga turun menjadi 22,93 juta orang.
Bank Indonesia pun mencatat indeks keyakinan konsumen Juli 2026 masih berada pada zona optimistis, yakni 116,8.
Artinya, tidak tepat jika Indonesia digambarkan secara sederhana sebagai negeri yang sedang berada di tepi jurang ekonomi.
Namun, jangan pula menggunakan angka tersebut untuk mengatakan bahwa masyarakat sedang baik-baik saja.
Karena ada Indonesia yang tidak tertangkap sepenuhnya oleh statistik kemiskinan.
Ada keluarga yang masih makan tiga kali sehari, tetapi mulai mengurangi kualitas makanannya.
Ada orang yang masih mampu makan di restoran, tetapi mulai takut membayar uang sekolah anak.
Ada kelas menengah yang belum miskin, tetapi merasa semakin dekat dengan kerentanan.
Ada pengusaha yang omzetnya masih berjalan, tetapi marginnya semakin tipis.
Ada pekerja yang masih memiliki pekerjaan, tetapi kehilangan rasa aman terhadap masa depannya.
Inilah wilayah ekonomi yang sering tidak terlihat dalam angka kemiskinan konvensional: rasa aman, harapan, kepastian, dan kepercayaan terhadap masa depan.
Dan kemudian datanglah media sosial.
Setiap hari kita menerima potongan-potongan realitas:
harga naik,
PHK,
utang,
pinjol,
judol,
korupsi,
krisis perusahaan,
politik yang gaduh,
konflik,
ketidakadilan,
kemarahan,
dan berbagai ramalan tentang kehancuran ekonomi.
Satu berita mungkin benar.
Dua berita mungkin benar.
Seratus berita juga mungkin benar.
Tetapi ketika semuanya dikumpulkan, diputar berulang-ulang, diperkuat algoritma, dan disajikan tanpa konteks, maka manusia dapat memperoleh kesimpulan psikologis yang jauh lebih buruk daripada keseluruhan realitas objektifnya.
Inilah yang perlu kita waspadai:
Kesengsaraan informasi dapat berubah menjadi kesengsaraan psikologis.
Dan kesengsaraan psikologis, apabila berlangsung terus-menerus, dapat memengaruhi perilaku ekonomi yang nyata.
Orang menjadi takut berbelanja.
Pengusaha takut melakukan ekspansi.
Anak muda takut terhadap masa depan.
Keluarga menunda keputusan penting.
Masyarakat kehilangan kepercayaan.
Dan akhirnya, persepsi dapat ikut memengaruhi realitas.
Fenomena doomscrolling bahkan telah menjadi objek penelitian ilmiah. Studi terbaru menunjukkan hubungan antara konsumsi digital berlebihan, information overload, pola pikir pesimistis, dan stres. Penelitian di Indonesia juga menemukan hubungan antara kecanduan media sosial dan meningkatnya kemungkinan gejala depresi pada mahasiswa.
Lebih menarik lagi, penelitian Universitas Indonesia mengenai sentimen Twitter/X dan indikator makroekonomi Indonesia menemukan bahwa sentimen media sosial tidak selalu berkorelasi signifikan dengan indeks keyakinan konsumen. Artinya, apa yang ramai di media sosial tidak otomatis merupakan cermin yang akurat dari kondisi ekonomi seluruh masyarakat.
Ini pelajaran penting.
Media sosial adalah cermin, tetapi bukan selalu cermin yang utuh.
Ia bisa memperlihatkan luka yang benar-benar ada.
Tetapi ia juga dapat memperbesar luka tertentu karena luka tersebut lebih menarik perhatian.
Yang tenang sering tidak viral.
Yang marah lebih mudah viral.
Yang kompleks sulit menjadi judul.
Yang sensasional lebih mudah dibagikan.
Yang memberi harapan sering kalah menarik dibandingkan yang memberi ketakutan.
Maka persoalannya bukan sekadar:
“Apakah berita itu benar?”
Pertanyaan yang lebih tinggi adalah:
“Apakah cara kita menyajikan kebenaran itu membantu manusia memahami realitas—atau justru membuat manusia kehilangan harapan?”
KITA MEMERLUKAN EKONOMI YANG BERBASIS NURANI
Karena itu, Indonesia tidak hanya membutuhkan pertumbuhan ekonomi.
Indonesia membutuhkan ekonomi yang memiliki nurani.
Ekonomi yang tidak hanya bertanya:
Berapa pertumbuhannya?
Tetapi juga:
Siapa yang menikmati pertumbuhan itu?
Bukan hanya:
Berapa konsumsi masyarakat?
Tetapi:
Apakah masyarakat merasa aman, bermartabat, dan memiliki masa depan?
Bukan hanya:
Berapa investasi yang masuk?
Tetapi:
Apakah investasi tersebut menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi manusia dan lingkungan?
Bukan hanya:
Berapa banyak orang yang keluar dari garis kemiskinan?
Tetapi juga:
Berapa banyak orang yang memperoleh kembali harapan?
Sebab kesejahteraan manusia tidak berhenti pada kemampuan membeli.
Manusia membutuhkan makna, martabat, keamanan, hubungan sosial, harapan, dan rasa percaya kepada masa depan.
KITA JUGA MEMERLUKAN MEDIA YANG BERBASIS NURANI
Media mempunyai kekuasaan yang luar biasa.
Media bukan hanya memberitakan realitas.
Media ikut menentukan realitas mana yang dilihat masyarakat.
Karena itu, media yang sehat tidak boleh menjadi mesin ketakutan.
Tetapi juga tidak boleh menjadi mesin propaganda pemerintah.
Media yang sehat harus berani mengkritik kekuasaan ketika kekuasaan salah.
Tetapi juga harus berani mengatakan bahwa sesuatu memang benar ketika pemerintah melakukan sesuatu dengan benar.
Media tidak boleh menjadi alat kepentingan politik.
Tidak boleh pula menjadi alat kepentingan ekonomi.
Dan tidak boleh menjadikan penderitaan manusia sebagai komoditas klik.
Yang kita perlukan adalah:
Media yang jujur.
Media yang berani.
Media yang konsisten.
Media yang independen.
Media yang kritis.
Dan terutama—media yang memiliki nurani.
Bukan nurani untuk membela seseorang.
Bukan nurani untuk membela kelompok.
Bukan nurani untuk membela partai.
Tetapi nurani untuk membela kebenaran yang membawa kemaslahatan universal.
RAHAYU: UKURAN YANG LEBIH TINGGI
Mungkin inilah saatnya kita memperkenalkan kembali satu ukuran yang lebih manusiawi:
RAHAYU
Bahagia.
Sejahtera.
Lestari.
Mulia.
Bahagia bukan berarti selalu senang.
Sejahtera bukan berarti semua orang kaya.
Lestari bukan sekadar lingkungan yang hijau.
Dan mulia bukan berarti seseorang mempunyai jabatan tinggi.
Mulia adalah ketika manusia tetap memiliki integritas ketika mempunyai kekuasaan.
Mulia adalah ketika media tetap mengatakan kebenaran meskipun kebenaran itu tidak menguntungkan dirinya.
Mulia adalah ketika pengusaha mencari keuntungan tanpa kehilangan kemanusiaan.
Mulia adalah ketika pemerintah membangun bukan hanya statistik keberhasilan, tetapi juga rasa percaya dan harapan masyarakat.
Karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan seharusnya tidak berhenti pada:
GDP, inflasi, investasi, konsumsi, dan kemiskinan.
Kita perlu bertanya pula:
Apakah rakyat semakin memiliki harapan?
Apakah mereka merasa masa depannya lebih aman?
Apakah mereka percaya bahwa kerja keras masih memiliki arti?
Apakah anak-anak mereka memiliki masa depan yang lebih baik?
Apakah masyarakat merasa diperlakukan secara adil?
Apakah ruang publik dipenuhi kebenaran atau ketakutan?
Di situlah ekonomi bertemu dengan nurani.
Dan di situlah media bertemu dengan tanggung jawab moral.
JANGAN MEMANIPULASI HARAPAN
Pemerintah tidak boleh menutupi masalah dengan propaganda optimisme.
Media tidak boleh menutupi keberhasilan dengan propaganda pesimisme.
Keduanya sama-sama berbahaya.
Optimisme palsu adalah kebohongan.
Pesimisme yang terus-menerus juga dapat menjadi kebohongan.
Yang kita perlukan adalah optimisme yang jujur.
Katakan ketika keadaan sulit.
Tunjukkan siapa yang menderita.
Bongkar ketidakadilan.
Kritik kebijakan yang salah.
Tetapi pada saat yang sama:
tunjukkan pula apa yang membaik,
tunjukkan peluang,
tunjukkan solusi,
tunjukkan orang-orang yang berhasil bangkit,
dan tunjukkan bahwa masa depan masih mungkin diperbaiki.
Karena tugas negara bukan sekadar membuat rakyat tidak miskin.
Tugas negara yang lebih tinggi adalah membuat rakyat percaya bahwa hidup mereka mempunyai masa depan.
EKONOMI RAHAYU — MEDIA RAHAYU
Mungkin kita membutuhkan paradigma baru:
Ekonomi Rahayu
Ekonomi yang produktif tetapi manusiawi, kompetitif tetapi berkeadilan, tumbuh tetapi lestari, dan menghasilkan kesejahteraan sekaligus kemuliaan.
Media Rahayu
Media yang bebas tetapi bertanggung jawab, kritis tetapi adil, cepat tetapi akurat, populer tetapi tidak murahan, dan berani tetapi tetap berintegritas.
Keduanya bertemu pada satu prinsip:
BERANI MENGIKUTI NURANI.
Sebab bangsa tidak akan hancur hanya karena ekonominya sedang mengalami masalah.
Bangsa dapat menjadi jauh lebih rapuh ketika rakyat kehilangan kepercayaan bahwa masalahnya dapat diperbaiki.
Karena itu, pekerjaan besar kita bukan hanya memperbaiki ekonomi.
Kita juga harus memperbaiki cara bangsa ini melihat dirinya sendiri.
Jangan sampai Indonesia yang sebenarnya masih mempunyai begitu banyak kekuatan, peluang, dan manusia baik, setiap hari dipaksa melihat dirinya sendiri sebagai bangsa yang gagal.
Tetapi jangan pula kita membangun ilusi bahwa semuanya baik-baik saja.
Mari melihat Indonesia apa adanya—dengan data, dengan akal sehat, dengan keberanian, dan dengan nurani.
Karena Rahayu bukanlah keadaan ketika semua masalah telah selesai.
Rahayu adalah keadaan ketika di tengah masalah pun manusia masih mempunyai alasan untuk percaya, bekerja, mencintai, memperbaiki, dan berharap.
Indonesia yang Rahayu bukan Indonesia tanpa masalah.
Indonesia yang Rahayu adalah Indonesia yang tidak kehilangan harapan ketika menghadapi masalah.
Ekonomi yang buruk dapat membuat manusia sengsara.
Tetapi informasi yang buruk tentang ekonomi juga dapat membuat manusia merasa sengsara—bahkan ketika sebagian indikator ekonominya sebenarnya membaik.
Sebaliknya, pemerintah juga tidak boleh menggunakan data positif untuk menyangkal penderitaan nyata. Data harus menjadi alat untuk menemukan kebenaran, bukan alat untuk memenangkan narasi.
Itulah mungkin definisi paling kuat dari ekonomi berbasis nurani: tidak memoles kenyataan, tidak membesar-besarkan kenyataan—tetapi berani melihat kenyataan secara utuh.
Ehm… Apa pun itu, satu inspirasi lukisan sudah muncul, menanti untuk diwujudkan dalam tarian kuas dan cat di atas kanvas berikutnya. Alhamdulillah, masih bisa beli kuas, cat, serta kanvasnya.

Judul: Jangan Biarkan Indonesia Kehilangan Harapan
Penulis: Asep Chaeruloh
Editor: Parkah












