MajmusSunda News, Kamis (14/05/2026) – Artikel berjudul “Terjebak di Tengah” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, di antara negara yang keluar dari kemiskinan, ada fase penting: pertumbuhan masih kuat, tetapi arah kemajuan mulai kabur. Urbanisasi meluas, investasi masuk, angka ekonomi naik, namun ada perlambatan halus hilangnya dorongan untuk melompat lebih tinggi.

Inilah yang dibahas dalam Law and Development of Middle-Income Countries: Avoiding the Middle-Income Trap, suntingan Randall Peerenboom & Tom Ginsburg (2014): banyak negara berhenti di tengah jalan menuju kemajuan. Pertumbuhan berbasis industri, investasi asing, dan tenaga murah melemah. Untuk naik kelas, dibutuhkan inovasi, kepastian hukum, dan institusi kuat; tanpa itu, ekonomi berputar di tempat.
Senada dengan itu, Avoiding the Middle-Income Trap in Africa, suntingan Emmanuel Pinto Moreira (2024), menegaskan bahwa jebakan negara menengah juga ditentukan oleh kualitas institusi dan kemampuan beralih ke ekonomi berbasis pengetahuan. Banyak negara gagal bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena gagal bertransformasi.
Negara akhirnya terjebak: tidak lagi miskin, tetapi belum maju. Ekonomi cukup besar, tetapi belum berbasis inovasi; kepastian hukum rapuh, kelembagaan kisruh, inovasi belum menjadi mesin utama ekonomi.
Dalam konteks Indonesia, ini tampak jelas: telah melewati kemiskinan ekstrem dan kini menjadi ekonomi besar di Asia Tenggara, dengan infrastruktur berkembang, kelas menengah tumbuh, dan digitalisasi meluas.
Pertanyaannya tetap: apakah Indonesia menuju negara maju, atau terjebak di fase tengah? Sebab pertumbuhan berjalan bersama problem institusional—kepastian hukum rapuh, kelembagaan masih semerawut, dan inovasi belum menjadi mesin utama ekonomi. Banyak sektor masih bergantung pada ekspansi dan sumber daya, bukan pengetahuan.
Intinya, Indonesia tidak kekurangan pertumbuhan, tetapi diuji pada kualitas transformasi. Apakah pertumbuhan menjadi jembatan lompatan struktural, atau sekadar pengulangan bentuk lama dalam skala lebih besar. Lorong tengah ini ruang ujian yang riskan.
Indonesia hari ini berdiri di ruang itu fase lama telah berlalu, taraf baru tak mententu. Yang dipertaruhkan bukan sekadar angka pertumbuhan, tetapi arah sejarahnya sendiri.
***
Judul: Terjebak di Tengah
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












