MajmusSunda News, Minggu (12/04/2026) – Artikel berjudul “Percaya” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, kata “percaya” dalam bahasa Indonesia bertaut dengan kata “bercahaya”. Artinya, jika kita ingin keluar dari kegelapan menuju jalan cahaya, yang pertama-tama harus kita nyalakan adalah “kepercayaan”.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, menembus batas dan meratakan arena persaingan, kita sering bertanya: apa yang bisa kita andalkan? Biasanya kita menunjuk pada yang tampak sumber daya, tenaga terampil, investasi, hukum, dan sistem politik.

Namun sering terlupa bahwa kekuatan sejati justru tersembunyi: karakter. Ia hidup dalam kepercayaan, kreativitas, dan ketangguhan menghadapi krisis modal tak kasatmata yang sepanjang sejarah menjadi jangkar kekuatan suatu bangsa.
Globalisasi boleh merobohkan batas negara, tetapi bangsa yang kuat tetaplah yang teguh karakter dan integritasnya. Untuk itu, pembangunan harus dimulai dari memulihkan rasa saling percaya: keyakinan bahwa kepentingan pribadi tak boleh menenggelamkan kebaikan bersama.
Seperti diingatkan Lee Kuan Yew, modal terbesar sebuah bangsa bukan sekadar kekayaan, melainkan kepercayaan rakyat disertai kerja keras, hemat, semangat belajar, dan ketegasan melawan korupsi. Tanpa itu, harapan mudah runtuh.
Kepercayaan juga menentukan kekuatan ekonomi. Francis Fukuyama menyebutnya sebagai “modal sosial”: daya yang memungkinkan masyarakat bekerja sama, membangun jaringan luas, dan menekan biaya kehidupan ekonomi. Semakin tinggi kepercayaan, semakin kuat daya saing bangsa.
Namun ketika kita menatap diri sendiri, sering yang terlihat justru sebaliknya: lembek etos, manipulasi, dan pengkhianatan. Kepercayaan menipis, kebaikan dicurigai, keburukan dipuja.
Jika bangsa kehilangan sumber daya, kita hanya kehilangan sesuatu. Jika kehilangan pemimpin, kita hanya kehilangan seseorang. Tetapi jika kehilangan karakter, kita kehilangan segalanya.
Karena itu, marilah kita menumbuhkan kembali kepercayaan: dengan memegang teguh amanah publik, saling menghormati, dan berbagi harapan agar bangsa ini berdiri tegak bermartabat di hadapan dunia.
***
Judul: Percaya
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












