MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Minggu (05/04/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Kanjut Kundang” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Kanjut kundang adalah istilah bahasa Sunda yang merujuk pada sebuah kantong kecil atau pundi-pundi yang digunakan sebagai wadah untuk menyimpan benda-benda berharga, seperti uang atau perhiasan.
Secara budaya dan filosofis, kanjut kundang memiliki makna yang dalam:
Pertama, simbol kesejahteraan dan keamanan, karena fungsinya sebagai tempat menyimpan harta, ia melambangkan upaya menjaga kesejahteraan dan bekal hidup.

Kedua, tradisi pernikahan (Saweran). Dalam upacara adat Sunda, kanjut kundang digunakan dalam ritual saweran setelah akad nikah. Orang tua memberikan nasihat dan membagikan “rezeki” (berupa uang, beras, atau permen) dari kantong ini kepada mempelai sebagai simbol bekal kehidupan rumah tangga.
Ketiga, nilai pendidikan karakter. Di beberapa daerah seperti Purwakarta kanjut kundang dihidupkan kembali sebagai wadah beras (Beas Kaheman) untuk mengajarkan anak sekolah tentang nilai berbagi, empati, dan gotong royong.
Keempat, istilah kiasan dalam kehidupan. Kata kanjut juga muncul dalam beberapa peribahasa untuk menggambarkan karakter seseorang, misalnya :
– “kanjut na tarang” artinya orang yang tidak tahu malu.
– “kanjut na punduk” artinya orang yang penakut atau pengecut.
Meskipun dalam bahasa percakapan sehari-hari yang kasar, kata kanjut (kemaluan laki-laki), bisa bermakna vulgar, dalam konteks budaya dan artefak tradisional, ia tetap dipandang sebagai simbol kearifan lokal yang sarat akan nilai kemanusiaan.
Kanjut kundang memiliki nilai kearifan lokal dan kemanusiaan karena ia bukan sekadar benda fisik, melainkan simbol harapan, kemandirian, dan kasih sayang dalam siklus hidup masyarakat Sunda.
Berikut adalah rincian nilai-nilai tersebut, pertama berkaitan dengan nilai kearifan lokal yakni :
1. Simbol Kesejahteraan & Pengelolaan Ekonomi. Secara harafiah, kanjut kundang adalah kantong kecil tempat menyimpan uang atau barang berharga yang dibawa bepergian. Ini mencerminkan kearifan dalam manajemen keuangan dan kesiapan diri menghadapi masa depan.
2. Media Literasi & Pendidikan Adat. Dalam tradisi seperti saweran pernikahan, kanjut kundang digunakan sebagai wadah untuk menyebarkan nasihat (berupa benda simbolis seperti beras, koin, dan permen) dari orang tua kepada mempelai. Ini adalah cara tradisional mentransfer nilai moral melalui simbol visual dan tindakan.
3. Kemandirian (Karakter). Istilah ini sering dikaitkan dengan kedewasaan. Seorang pria yang sudah memiliki kanjut kundang dianggap sudah mampu memikul tanggung jawab ekonomi dan sosial.
Kedua, berhubungan dengan nilai-nilai kemanusiaan yakni :
1. Kasih Sayang Orang Tua (Silih Asih). Penggunaan kanjut kundang dalam ritual kelahiran (seperti puput puseur) atau pernikahan melambangkan doa dan perlindungan orang tua agar anaknya hidup berkecukupan dan selamat.
2. Solidaritas Sosial (Beas Kaheman). Di beberapa daerah seperti Purwakarta, kanjut kundang digunakan kembali sebagai wadah beras untuk program donasi sosial (Beas Kaheman). Beras yang dikumpulkan siswa dalam kantong ini diberikan kepada warga yang membutuhkan, mengajarkan nilai empati dan gotong royong sejak dini.
3. Keseimbangan Hidup. Benda ini mengingatkan manusia untuk tidak kikir tetapi juga tidak boros—menyimpan secukupnya di dalam wadah agar bisa digunakan untuk kebermanfaatan diri dan orang lain.
Semoga ada manfaatnya. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).
***
Judul: Kanjut Kundang
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












