MajmusSunda News, Sabtu (04/04/2026) – Artikel berjudul “Canggih Bajik Borobudur” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, Candi Borobudur adalah mahakarya peradaban. Di sana terpahat ketajaman visi, kompetensi dan karakter keuletan, yang menelan waktu hampir satu abad untuk membangunnya.
Setelah puluhan bahkan ratusan tahun para ahli berselisih pandangan tentang arti Borobudur secara etimologis, Hudaya Kandahjaya–ahli Buddhisme Indonesia yang cemerlang–berhasil memecahkan misteri tersebut secara lebih meyakinkan.

Nama Borobudur berasal dari bahasa Singhala “vara-budu-r” (Sanskerta: “vara-buddha-rupa”), yang berarti “arca Buddha istimewa”.
Mengapa dikatakan “istimewa”? Seperti dijelaskan dalam prasasti Kayumwungan, candi ini dimaksudkan sebagai biara monumen yang mengumpulkan segenap kebajikan Buddha (sugatagunagana vihara) atau himpunan Dharma (dharmavrndan).
Dibangun oleh dinasti Syailendra di bawah kekuasaan Raja Samaratungga dan Pangeran Putri Pramodavarddhani, candi ini selesai dibangun dan dikukuhkan pada 26 Mei 824.
Keberadaan Borobudur, seperti tertera dalam Kitab San Hyan Kamahayanikan, terjalin erat dengan eksistensi perguruan Vajradhara bernama Budur, yang menandakan pencapaian tinggi peradaban Buddhisme di Jawa dan Sumatera saat itu, dengan pusat-pusat pendidikannya setara perguruan Nalanda di India.
Arsitek Borubudur merancang candi ini sebagai replika dari delapan peristiwa mukjizat dalam kehidupan Buddha Sakyamuni yang terjadi di delapan situs yang tersebar di lembah Sungai Gangga, daerah Madhyadesa, India. Ciri topografisnya mirip dengan lokasi Borubudur yang berada di titik pertemuan antara Kali Progo dan kali Elo.
Pembangunan Borobudur memungkinkan umat Buddha melaksanakan ritual keliling (pradaksina) Borobudur seakan melakukan napak tilas menziarahi delapan lokasi peristiwa mukjizat tersebut.
Keberadaan Borobudur memberi kesempatan kepada para pelaku spiritual untuk meneladani laku Buddha dengan mengenangnya melalui ritual pradaksina dan anuttarapuja. “Menghayati dan mengamalkan laku Buddha berikut segala ritualnya di candi Borobudur diharapkan bisa memasuki beberapa pintu dari 84.000 pintu Dharma yang diajarkan Sakyamuni kepada para pendaki spiritual untuk meraih pencerahan spiritual terluhur.
***
Judul: Canggih Bajik Borobudur
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












