MajmusSunda News, Bandung, 12/03/2026 – Provinsi Jawa Barat dengan bentang alam yang berbukit-bukit, pegunungan dan daratan telah membuat dan menghasilkan budaya dalam sistim pertanian yang variatif. Bentang alam Jawa Barat memiliki sistim pertanian sesuai kondisi daerah masing-masing. Kegiatan pertanian di Jawa Barat menuntut masyarakat untuk dapat menyesuaikan kondisi bentang alam, kondisi iklim, kondisi tanah dan kecukupan air.
Masyarakat yang tinggal di daerah daratan sistim pertanian yang terbentuk adalah sawah, masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan sistim pertanian adalah ngahuma. Pertanian padi dengan di tanam di area sawah dan di bukit-bukit di sebut masyarakat ladang (Huma/ngahuma) telah menjadi budaya dalam sistim pertanian di Jawa Barat.
Sistim pertanian di Jawa Barat sudah terjadi di zaman kuno. Tata cara berladang tercatat dalam naskah kuno Sunda Naskah Siksa kandang karesian (1518) yaitu
“Hayang nyaho bumi mah: ngamihkon bumi, masinikom na urang sajagat, parin pasini, ngadengdeng ngararaspafe, ngukur nyaruakon, nyipta midana, lamun luhur dipidatar, Ancol dipapak, sing sawatek ampih-ampih ma, Mangkubumi Tanya.”
Terjemahannya:
Bila ingin tahu cara mengukur tanah: mengatur tempat, membagi-bagikan kepada kita seluruh rakyat, memberi tanda batas, meratakan kebersihan lahan, mengukur menyamakan, meluruskan dan mengatur (menurut hukum), bila tinggi diratakan, bila rendah diratakan segala macam pengaturan tempat, tanyakanlah Mangkubumi.
Naskah kuno “Babat Makuluhuan” dalam ajaran “Cupu Mustikaning Jagad” yang menerangkan padi merupakan pusaka sakti, artinya biji padi merupakan sumber pokok utama dalam menopang kehidupan dan kemakmuran. Naskah berasal dari daerah Pangandaran yang menerangkan bahwa masyarakat Pangandaran mata pencarian adalah bertani bukan sebagai nelayan.
Sangat jelas bahwa pertanian sejak dulu sudah ada sistim dengan cara berladang yang di lakukan oleh masyarakat yang hidup di pegunungan dan daratan rendah yang tidak memiliki pengairan air yang teratur. Dalam sistim pertanian tradisional memiliki struktur dari pengarapan, peralatan pertanian dan istilah dalam pertanian tradisional.
Kegiatan bertani di sawah bagi masyarakat Jawa Barat sudah terbentuk lebih awal di daerah Kerawang dekat komplek candi Batujaya. Sampai saat ini area lahan sawah masih ada membuktikan bahwa masyarakat Jawa Barat tidak hanya sistim ngahuma yang berpindah- pindah namun sistim pertanian padi sawah sudah ada.
Di abad 18 di awal berkuasanya VOC hingga jatuhnya VOC, di temukan suatu politik agraria yang mulai di bedakannya apa yang di sebut pertanian rakyat, perkebunan dan kehutanan. Pada saat itu mayoritas pertanian rakyat masih berupa perladangan, perkebunan lebih di peruntukan komoditas untuk diekspor ke Eropa seperti kopi dan kehutanan adalah wilayah hutan kayu jati di babat habis dan hutan non kayu di biarkan menjadi hutan (sundalana13).
Masyarakat Kesepuhan Sinar Resmi memiliki mata pencarian sebagai petani. Sebagai masyarakat adat tradisional yang indentik dengan kehidupan agaris. Pertanian adalah kegiatan kebudayaan yang menghasilkan kebiasaan dan adat istiadat. Pola pertanian masyarakat Kesepuhan Sinar Resmi memiliki dua sistim yaitu pertanian kering disebut huma dan pertanian basah di sebut pertanian sawah. Pertanian huma lebih banyak di lakukan dengan ladang berpindah-berpindah merupakan ciri utama. Pola tanam padi di lakukan satu tahun sekali.
Dalam proses pengarapan sawah atau berladang memiliki rangkaian kegiatan sebelum turun ke lokasi persawahan. Pertama-tama melakukan “selametan” yang disebut “nyambut” yaitu kegiatan turun ke sawah yang di lakukan oleh warga kampung dan di pimpin oleh sesepuh kampung, warga melakukan arak-arakan ke sumber air, untuk melakukan upacara dengan membacakan mantra tulak balak atau babarit agar musim nyawah atau ngahuma di jauhkan dari gangguan hama, bencana dan agar hasil mucekil (berkecukupan).
Kegiatan berikut adalah “nyacar” adalah kegiatan menebas jerami dan tumbuhan perdu yang tumbuh di sawah. Kegiatan ini di lakukan pada sawah yang ketika panen di ambil dengan cara “dietem” sehingga menyisakan batang padi yang masih berdiri di area sawah. Panen padi dengan cara di arit tidak perlu ada kegiatan “nyacar” langsung di “disingkal dengan waluku. Kegiatan nyacar menggunakan alat pertanian yaitu arit atau parang. Jerami hasil nyacar di jemur setelah kering lalu di bakar, kegiatan tersebut di sebut “ngaduruk jarami”. Kegiatan membakar jerami di lakukan pada pertanian padi huma, sedangan pertanian padi di sawah jerami langsung di masukan ke lumpur sawah.
Kegiatan berikutnya adalah “ngaremekkeun galeng” yaitu kegiatan membugar pematang sawah lama di ganti dengan pematang baru, namun bila pematang masih kokoh tidak dipugar cukup dengan kegiatan “ditampung” yaitu kegiatan menebalkan pinggir muka pematang agar lebih kokoh.
Kegiatan selanjutnya “nyieun pabinihan” yaitu kegiatan membuat persemaian di petak sawah yang relatif kecil sesuai kebutuhan padi yang akan di persemiankan. Persemaian harus bibit padi yang bernas ,(bersisi). Tanah sawah harus yang bersih dari rumput dan hama agar pertumbuhan benih padi berlangsung dengan baik dan subur. Sistim perairan dalan kegiatan persemaian harus betul di atur agar pertumbuhan benih dapat tumbuh baik. Benih siap di tebar kegiatan tersebut di sebut “tebar”. Setelah proses pembenihan dan tebar selesai maka petani kembali menggarap tanah untuk melakukan kegiatan “mopok” yaitu memberi lumpur pada pematang agar air benar- benar tersumbat tidak bocor atau rembes.
Kegiatan berikutnya “ngawalajar” yaitu kegiatan mencangkul atau membajak dengan tujuan membalikan permukaan tanah dan menggembirakan tanah. Kegiatan berikutnya sawah di “dikeueum” yaitu di aliri air beberapa hari agar tanah menjadi lunak. Setelah itu tanah kembali di ratakan dengan alat “garu” yang disebut kegiatan “ngagaru”. Kegiatan “ngangler” yaitu kegiatan untuk meratakan tanah dengan menggunakan alat garu kambang, alat garu yang tidak bergigi. Lahan sawah harus bena-benar rata kegiatan di sebut “ngarata”, alat yang di gunakan batang pisang yang di beri tali lalu di tarik. Kegiatan berikutnya “nyaplak” yaitu membuat garis- garis lurus dan sejajar yang herizontal dan vertikal yang fungsi untuk tempat menanam, kegiatan menanam di sebut “tandur” di tanah sawah yang di sebut “leleran”.
Kegiatan “babut” mencabuti benih yang sudah tumbuh agar besar dari persemaian, ukuran batang padi kira-kira 25 cm. Bibit di angkut dengan “Sudung” lalu di tandur atau melakan dengan merata di area tanah sawah. Tandur memiliki arti menanam padi sambil mundur, agar benih padi yang sudah di tanaman tidak terinjak.
Benih padi di biarkan tumbuh dengan air yang cukup antara tiga minggu dan menghijau yang bertanda benih tumbuh dengan baik, kondisi tersebut disebut “lilir” dan saatnya memberi pupuk. Pemberian pupuk dalam pertanian tradisional di sebut “ngasem” yang menggunakan pohon combrang, pohon pisang yang di cacah dan di campur pupuk kandang lalu di simpan pada rumpun padi agar cepat tumbuh biji padi. Pupuk organik yang alami yang di berikan dan tidak mengenal pupuk kimia seperti yang banyak beredar dan di gunakan sekarang. Pupuk yang di gunakan merupakan pupuk alami organik seperti pupuk kompos terbuat dari bahan-bahan organik dari kotoran hewan , sampah organik. Pupuk hewan dari kotoran sapi, kambing, ayam yang di fermentasikan. Pupuk hijau dari potongan pohong yang di biarkan membusuk. Pupuk abu sekam padi dan jerami padi yang banyak mengandung silika dan kalium. Silika merupakan senyawa kimia yang mengandung (Si) dan Oksigen (o) ungsur kimia golongan metaloit yaitu ungsur kimia yang memiliki sifat asam. Penting sekali sistim pemupukan kembali pada kearipan lokal budaya agar tercipta tanah yang memiliki ungsur hara alamiah. Pemupukan dengan pupuk modern merusak ungsur hara, mineral tanah, tanah mengeras dan tidak dapat mengurai pembusukan ranting dan daun. Petani sangat ketergantungan kepada pupuk buatan kondisi zaman sekarang yang banyak epek samping pada kerusakan tanah, air, udara bahkan mahluk hidup yang lain termasuk manusia. Dengan kembali pada pemupukan pada kearipan lokal dengan kembali memanfaatkan bahan alam maka akan merubah sistim pertanian yang ramah lingkungan, menekan biaya dan menjaga tanah tetap dalam kesuburan. Pemupukan dengan memanfaatkan bahan alamiah juga dapat mengurangi masalah sampah dan pencemaran air dan udara.
Jika ada tanaman padi yang tidak subur dan daunnya menguning maka akan di cabut dan di ganti dengan bibit padi baru kegiatan ini di sebut “ngayuman”. Padi yang tumbuh biasa di ikuti tumbuhan liar yaitu “gulma” Yang dapat memperlambat pertumbuhan “dapuran” (rumpun padi) oleh karena itu sawah harus disiangi, kegiatan penyiangan di sebut “ngabaladah” (ngarambet mungaran) dengan menggunakan tangan mencabuti rumput ada juga yang menggunakan alat yaitu “garokan, gasrok, gilinding”.
Kemunculan buat padi akan terlihat pucuk batang padi yang mengembung di sebut “reuneuh” yang masih tertutup kulit daun, pelan-pelan bunga padi akan keluar berwarna putih, proses keluar bunga padi di sebut “ringsang beukah”, jika ringsang baru sedikit di sebut “usum celetuk” dan bila semua sudah merata di sebut “usum rampak “.
Padi yang sudah rampak pelan-pelan merunduk menandakan padi berisi baik jika tetap tegak menandakan biji padi kosong. Dalam naskah kuno Amanat Galunggung” ada ajaran tentang sifat nilai Budi pengerti yang di sebut “Papagah ilmu pare” yang memiliki makna yaitu merendah seperti padi artinya terisi ilmu sedangan yang mengadah (sombong) adalah kosong ilmunya.
Padi yang sudah merunduk dan bertambah kuncung biji padinya maka kegiatan berikut adalah “tunggu pare” artinya menjaga padi yang sedang menguning agar tidak di makan burung atau hama. Untuk mengusir burung petani memasang “bebegig” (orang-orang dari yang terbuat dari pakaian bekas dan injuk) dan “kokopral”(alat dari bambu yang di buat agar menimbulkan bunyi-bunyian). Bebegig di buat tali panjang yang dapat di gerakan dari saung dan menghasilkan bunyi-bunyian. Kegiatan “ngalendeh” yaitu merebahkan batang padi yang tumbuh di pinggir pematang agar tidak menghalangi pematang dan terhindar dari sentuhan orang yang berjalan melewati pematang tujuan agar buah padi tidak rontok. Ngalendeh menggunakan bambu panjang dibsebut “rancatan” atau sebutan lain “nyuaykeun”.
Musim panen tiba petani akan melakukan kegiatan upacara “mitembeyan” yang bermaksud untuk mengambil bakal benih padi (pibiniheun). Dalam upacara itu di siapkan “sesajen dan menyan”, lalu satu stel pakaian wanita dan satu stel pakaian pria. Acara di pimpin oleh puun (sesepuh kampung) yang membacakan mantra dan lanjut kegiatan menuai padi untuk benih di sebut “pare indung” acara ini disebut “mupuhunan”. Lanjut kegiatan panen padi yang disebut “dibuat” dan orang yang berkerja memanen di sebut “nu darep atau nu gacong”. Menuai padi menggunakan alat di sebut “etem” yang berkerja di sebut “ngagempel” hasil padi mengunakan alat etem di sebut ‘ pare ranggeuyan” dan padi yang di ikat di sebut “pare ranggeuyan”. Ada juga yang menggunakan cara di “arit” dan pekerjanya di sebut” ngarit”. Ngarit di lakukan untuk menghasilkan “pare segon”. Padi segon di rontokan dengan cara “diirik” atau “digebot” dengan menggunakan alat dari bambu. Padi hasil panen di ikat dan ikatan itu di sebut “sapocong”. Aturan pemberian upah pun di atur dalam tradisi kearipan lokal dalam sistim pertanian yaitu setiap pekerja mendapatkan upah satu pocong dari hasil mengikat padi 10 pocong yang di kenal dengan nama “sasanga sapocong”. Bila hasil panen padi berupa gabah maka pembagiannya di lakukan melalui timbangan. Jika buruh tani mendapat satu kwintal gabah, maka buruh tani akan mendapat 10 kilogram sebagai upah.
Bagi yang memiliki sawah luas biasanya sawah di garap oleh orang lain yang di sebut “penyawah” dan hasil panennya menggunakan cara “ngaduakeun”. Hasil panen di bagi du yaitu 50%. Ada juga sistim “nyeblok” yakni panen dilakukan oleh buruh yang membantu ngarambet tapi tidak di beri upah namun sekalian saat panen sehingga bagian haknya buruh tani akan mendapatkan lebih banyak.
Setelah proses panen selesai, kegiatan selanjutnya “moe pare” yaitu menjemur padi. Padi yang bertangkai (pare geugeusan) ada tiga cara menjemur yaitu dengan cara “dijebrag” yaitu menjemur padi dengan mengembangkan ikatannya sehingga membentuk lingkaran. Kedua “diborete”, yaitu membalik ikatan padi hingga padi ada diatas menutupi tangkainya. Ketiga “gelenter” yakni dengan melepaskan ikatan padi dan menjejerkan tangkai- tangkainya terpisah. Pare segon cara menjemurnya “didaray” yang di alas oleh karung atau geribik bambu.
Padi kering setiap padi diikat dua ikatan (dua eundan) di satukan menjadi seikat (sageugeus). Kegiatan di atas di sebut “mangkek” lalu di tumpuk membentuk paramid kegiatan ini disebut “numpuk pare”. Setiap tumpukan padi biasanya 50 sampai 100 ikat padi. Satu tumpukan di sebut “sabuyung”. Kegiatan selanjutnya adalah “ngagkut pare” yakni memindahkan padi dari sawah ke halaman lumbung padi pemilik padi. Pada zaman dahulu kala mengakut padi di lakukan upacara yang meriah yaitu “arak arakan”, padi diangkut dengan cara dipikul menggunakan “angguk atau rengkong” dan mengeluarkan bunyi-bunyian. Prosesi ini melahirkan seni rengkong. Pada zaman ini masih ada kampung-kampung adat yang masih melakukan dan melestarikan upacara ngagkut pare dengan seni rengkong.
(Darpan, M.pd.Dkk)
Di kampung adat kesepuhan Gelar Alam yang berada di Kabupaten Sukabumi, Banten kidul setiap setahun sekali bertepatan di bulan Oktober (Raya Agung) di adakan upacara “seren tahun” yaitu berupa kegiatan upacara membawa hasil tani padi ke lumbung atau leuit dengan kegiatan arak-arakan membawa hasil panen. Upacara “ngadiukeun pare” yaitu menyimpan padi ke lumbung susi “leuit si Jimat”. Masyarakat Kesepuhan Gelar Alam mempercayai bahwa padi merupakan perwujudan Dewi Sri Pohaci yang harus di hormati. Keyakinan masyarakat kesepuhan Banten kidul Gelar alam menubuahkan sikap adat, adab dan seni, kebudayaan yang sangat menghormati ciptaan Tuhan dan menumbuhkan sifat dan karakter berbudi luhur dan menyatu dengan alam dan mencintai alam.
Kegiatan netepkeun pare, ngadiukeun pare merupakan kegiatan ahir dan puncak dari semua rangkaian penggarapan dalam satu musim tanam. Petani akan beristirahat sambil menunggu musim berikutnya tiba. Satu hal yang dapat kita jadikan pelajaran dari rangkaian menanam padi sampai rangkaian Ahir memasukan ke lumbung adalah kaya akan sebutan di setiap kegiatan dan alat pertanian tradisional yang di pakai, utama adalah sikap hormat dalam setiap rangkaian kegiatan.
Pada zaman ini banyak yang tidak mengetahui bagaimana tata cara bertani secara kearifan lokal (tradisional) oleh masyarakat terutama yang tinggal di perkotaan. Penerapan sistim modern lebih mendominasi dengan tekhnologi yang canggih tampa berfikir efek untuk kehidupan kedepan yang utama didapatkan kemudahan dan hasil yang berlimpah. Ada kalanya zaman berubah, karena perubahan alam bisa terjadi tehnologi canggih tidak dapat berperan, alam menurut manusia untuk kembali pada tatanan lama maka kita sebagai manusia yang tetap harus bertahan hidup harus bisa menerima dan menggunakan sistim pertanian lama. Kita semua tahu kondisi dunia, bahwa dalam kondisi yang kemungkinan kesulitan dapat datang, kehidupan modern dengan tehnologi canggih dapat saya sewaktu-waktu terhapus di muka bumi, mau tidak mau manusia harus mengikuti kondisi tersebut. Pertanian tradisional merupakan sistim yang mengikuti siklus kondisi alam dan waktu yang menyesuaikan perjalan dari membibit, menanam, merawat, memanen hasil mengikuti siklus waktu bergeraknya alam dengan alamiah. Semoga tulisan ini dapat kembali memberi kesadaran pada kita manusia, bahwa penting untuk kita belajar dan paham pada kearipan lokal dalam sistim pertanian tradisional dan tata nilai yang ada di bangsa kita yaitu Indonesia agar kita dapat paham dan mengerti jati diri dan jati diri bangsa.
Zaman robah, ganti ku tatanan anyar, lain anyar jieunan anyar mung tatanan baheula nu hirup deui dina zaman ayeuna.
Bandung Rabo 11 Maret 2026
Buda 15s Wage,sasih Srawana 1962 Caka Sunda.
YAYASAN BUDAYA SUNDA BUHUN
YAYASAN SUNDA13BUHUN
*****

Judul: SISTEM PERTANIAN TRADISIONAL SUNDA DAPAT KEMBALI MENYELARASKAN BUMI
Penulis: Ambu Rita Laraswati Wati (Budayawati, Seniman, Spiritualis)












