MajmusSunda News, Rabu (29/04/2026) – Artikel berjudul “Negarawan Teladan” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, sejarah bergerak bukan hanya oleh waktu, tetapi oleh keberanian manusia yang memilih untuk berdiri ketika yang lain ragu. Di titik-titik paling rapuh sebuah bangsa ketika perut rakyat kosong, ketika langit dikepung awan mendung, ketika nyawa manusia dipertaruhkan muncul sosok-sosok yang tidak sekadar memimpin, melainkan menanggung beban zaman.

Di Amerika Serikat, saat Great Depression meruntuhkan sendi kehidupan, Franklin D. Roosevelt menyalakan kembali kepercayaan lewat kejujuran dan kerja bertahap dari puing ketakutan. Di Singapura, Lee Kuan Yew membangun masa depan dari disiplin dan ketegasan, menjadikan keterbatasan sebagai tenaga, bukan alasan. Di Afrika Selatan, luka Apartheid dijawab Nelson Mandela dengan rekonsiliasi—memaafkan tanpa melupakan. Ia mengajarkan bahwa sebuah bangsa tidak akan pernah utuh jika dibangun di atas kebencian yang diwariskan.
Di Tiongkok, setelah kekacauan Revolusi Kebudayaan, Deng Xiaoping lebih memilih hasil nyata daripada slogan. Ia membebaskan masa depan bangsanya dari belenggu dogma yang korosif. Dan di Jerman Barat pasca Perang Dunia II, Konrad Adenauer sanggup memulihkan kepercayaan dan tatanan, membuktikan bahwa kehancuran bukan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Dari kisah-kisah itu, ada satu benang merah: krisis tidak pernah memilih waktu yang memimpinnya kepemimpinan sejati tidak pernah lahir dari niat untuk menyenangkan semua orang. Ia lahir dari keberanian untuk jujur ketika kebenaran terasa pahit, dari kesediaan menanggung risiko ketika jalan aman justru membawa pada kehancuran yang lebih pelan.
Maka bagi Indonesia, pelajaran itu bukan sekadar catatan sejarah, melainkan panggilan yang terus bergaung. Bahwa negeri ini tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar omong besar, tetapi yang sanggup mendengar kegelisahan rakyatnya. Tidak cukup berniat baik, tetapi sanggup merealisasikannya dengan tata kelola baik disertai keteguhan menegakkan hukum meski harus melawan arus.
Karena pada akhirnya, setiap krisis adalah cermin. Dan di dalamnya, yang terpantul bukan hanya masalah sebuah bangsa, tetapi juga keberanian dari mereka yang dipercaya untuk memimpinnya.
***
Judul: Negarawan Teladan
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












