MajmuSunda News-Kabupaten Garut, Selasa (13/10/2026)-Perjalanan panjang dan cukup melelahkan Prabu Kean Santang akhirnya bertemu pula dengan ayahnya, konon katanya ia bertemu dengan ayahnya di kawasan hutan yang sangat lebat sekarang lebih dikenal dengan leuweung Sancang (Hutan Sancang). Sekarang lokasinya ada di pesisr pantai Garut Selatan atau Garsela
Di hutan Sancang Prabu Kean Santang bertemu dengan Raja Dilewa seorang pertapa dari pengikut setia Prabu Siliwangi dan memperoleh ijin darinya bisa bertemu dengan Prabu Siliwangi.
Pertemuan yang sangat mengharukan dan cukup membuat yang hadir di situ terdiam, seorang anak yang telah lama tidak bertemu dengan ayahnya yang sangat dicintainya. Namun dengan keyakinan agamanya yang berbeda.
Prabu Kean Santang tetap kukuh setelah berhadapan dengan ayahnya ia tetap mengajak ayahnya agar mengikuti dan menerima agama yang diyakininya yakni Agama Islam.
Prabu Siliwangi dengan lemah lembut dan penuh wibawa sebagaimana layaknya seorang pertapa. Prabu Siliwangi menjawab bahwa berubah agama itu tidak mudah, tetapi membutuhkan keyakinan dan keikhlasan.
Lalu Prabu Siliwangi mengambil sebatang kayu ranting kayu Kaboa, lantas dipatahkannya. Dan iapun berkata: “Engkau (maksudnya H Mansur atau Kean Santang) berada di ujung sana, sedangkan aku (maksudnya Prabu Siliwangi) berada diujung sini.
Setelah berkata demikian, Prabu Siliwangi pamit untuk kembali masuk ke Hutan Sancang melanjutkan tugas suci menurut keyakinannya sebagai seorang pertapa yang tidak lagi mengurusi urusan duniawi, diikuti oleh para pengikut setianya. Setelah mendapat jawaban dari ayahnya, Prabu Kean Satang kemudian melanjutkan perjalanan ke timur hutan Sancang Cilauteureun (pantai selatan Garut).
Di sini ia membuat sebuah monumen yang isinya pesan untuk keturunan kelak ( monumen tersebut hingga sekarang tidak diketahui keberadannya).
Perjalanan diteruskan ke Sukabumi selatan ia bertemu bertemu dengan jodohnya Nyi Lenggang Kencana. Lama tinggal di sini sambil menyiarkan agama Islam pada penduduk sekitar












