MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Senin (06/04/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Saat Prabowo Menjadi Ketua Umum HKTI” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Prabowo Subianto menjadi Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) pada tahun 2004, tepatnya pada Munas HKTI 2004 dan Kongres V Petani tanggal 5 Desember 2004 di Jakarta. Prabowo terpilih untuk periode 2004-2009, menggantikan Siswono Yudo Husodo. Kemudian, melalui Munas HKTI di Bali 2010, Prabowo kembali terpilih sebagai Ketua Umum HKTI untuk periode 2010-2015.
Prabowo Subianto terpilih menjadi Ketua Umum HKTI dua periode karena beberapa faktor, antara lain pengalaman dan visi. Prabowo memiliki pengalaman sebagai seorang militer dan politisi, serta visi yang kuat untuk meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia. Kemudian, dukungan petani. Prabowo memiliki hubungan yang baik dengan petani dan dianggap sebagai sosok yang dapat memperjuangkan hak-hak mereka.

Lalu, program kerja. Prabowo memiliki program kerja yang jelas dan terstruktur untuk meningkatkan kesejahteraan petani, seperti meningkatkan produksi pangan, meningkatkan harga jual hasil pertanian, dan meningkatkan akses petani ke pasar. Bahkan karena kepemimpinan. Prabowo dikenal sebagai seorang pemimpin yang kuat dan tegas, yang dapat membawa HKTI menjadi lebih maju dan profesional.
Namun, perlu diingat bahwa pemilihan Ketua Umum HKTI dilakukan oleh anggota HKTI sendiri, sehingga keputusan tersebut merupakan hasil dari proses demokrasi internal organisasi. Pemilihan Ketua Umum HKTI tidak direkayasa untuk mengehar kepentingan tertentu, khususnya yang berkaitan dengan kepentingan politik pemerinrah yang tengah manggung.
Prabowo sendiri, dikenal sebagai tokoh bangsa yang sangat komit dan konsisten membawa organisasi petani sekelas HKTI ke arah pencapaian cita-cita organisasinya. Banyak contoh yang dapat diungkapkan bagaimana seorang Prabowo tetap menjaga dan memelihara marwah HKTI untuk tetap terbebas dari kepentingan politik praktis dan kooptasi kekuasaan.
Sebagai aktivis HKTI di daerah, tentu kita dapat merasakan, bagaimana sikap Prabowo dalam “memisahkan” posisi organisasi petani yang independen dan bebas nilai dengan organisasi politik yang sarat dengan kepentingan politik. Walau ketika itu, selain tercatat selaku Ketua Umum HKTI, sekaligus juga menjadi Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo tidak pernah mencampur-adukan dua kepentingan tersebut.
Buktinya, ketika dirinya melakukan kunjungan kerja ke lapangan dalam posisi sebagai Ketua Umum HKTI, Prabowo selalu meminta kepada kader Partai Gerindra di daerah yang dikunjungi, untuk tidak menyambut kedatangannya dengan mengenakan atribut Partai Gerindra. Prabowo hadir sebagai Ketua Umum HKTI, maka atribut HKTI itulah yang paling pas untuk menyambut kedatangannya.
Prabowo tahu persis bahwa HKTI merupakan organisasi petani yang kepengurusannya bersifat multi-partai. Ketua Umumnya, boleh saja dari Partai Gerindra. Tapi jajaran pengurusnya, tidak diharamksn dari Partai Golkar, PAN, PKB, PDIP, DEMOKRAT, NASDEM, PKS, dan lain sebagainya. Termasuk orang-orang yang tidak tergabung dalam Partai Politik, seperti LSM dan kalangan intelektual.
Prabowo paham betul, HKTI bukanlah organisasi sayap Partai Gerindra. Itu sebabnya, Prabowo sangat menghormati keberadaan HKTI sebagai organisasi petani yang independen dan tidak berafiliasi terhadap Partai Politik tertentu. Atas gambaran demikian, Prabowo saat menjadi Ketua Umum HKTI, sangat berhasrat agar HKTI betul-betul menjadi organisasi petani yang “bebas nilai”.
Dari berbagai dialog yang sempat dilakukan, baik tatkala dilaksanakannya Rapat Pimpinan Nasional atau pun ketika ngobrol-ngobrol santai di Hambalang, Prabowo sering menyatakan HKTI mestilah msmpu tampil menjadi organisasi petani yang kuat, mandiri dan profesional dalam menyarakan apa-apa yang menjadi kebutuhan dan kepentingan kaum tani.
Prabowo sebagai Ketua Umum HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia), sepertinya ingin fokus pada beberapa hal, seperti meningkatkan kesejahteraan petani melalui program-program yang mendukung ketahanan pangan dan peningkatan pendapatan. Selanjutnya, nendorong modernisasi pertanian dengan teknologi dan infrastruktur yang lebih baik.
Kemudian, memperkuat posisi petani dalam pasar dan meningkatkan akses mereka ke sumber daya. Lalu, membangun kemandirian pangan Indonesia dengan meningkatkan produksi lokal. Tujuan utamanya adalah meningkatkan taraf hidup petani dan keluarga mereka, serta memperkuat pertanian sebagai sektor vital ekonomi Indonesia.
Prabowo sebagai Ketua Umum HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) selama dua periode, sebetulnya telah mengusulkan beberapa masukan strategis kepada pemerintah, terutama terkait peningkatan kesejahteraan petani dan pertanian Indonesia. Usulan ini pun dipertegas lagi setelah Prabowo diberi ananah untuk menakhkodai bangsa dan negara tercinta.
Artinya, sebagai Presiden RI, Prabowo telah menekankan pentingnya meningkatkan kesejahteraan rakyat, termasuk petani, melalui program-program seperti penetapan Harga Pembeluan Pemerintah (HPP) Gabah yang menguntungkan petani dan pembangunan infrastruktur. Beberapa fokus lainnya meningkatkan ketahanan pangan, memajukan pertanian, dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Akhirnya perlu disampaikan, Prabowo merupakan tokoh bangsa yang cukup komit dan konsisten dalam melakukan pembelaan dan perlindungan terhadap kaum tani. Apa yang disuarakannya ketika menjadi Ketua Umum HKTI, terekam semakin digaungkan tatkala dirinya menjadi Presiden NKRI. Prabowo ingin agar petani di negeri ini mampu hidup sejahtera dan bahagia. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).
***
Judul: Saat Prabowo Menjadi Ketua Umum HKTI
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












