MajmusSunda News – Bandung, Minggu (13/09/2026) – Pusat Budaya Sunda UNPAD mengadakan Pidangan Rumawat Padjadjaran ke-111 dengan pagelaran Haleuang Katuangan Sunda, bertempat di Grha Sanusi Hardjadinata Universitas Padjadjaran, Jl. Dipati Ukur No. 35, Bandung.
Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, selaku Kepala Pusat Budaya (PBS) UNPAD, menyampaikan bahwa acara seperti ini dilaksanakan dalam rangkaian Dies Natalis ke-69 UNPAD dan PBS UNPAD mempersembahkan gelaran Haleuang Katuangan Sunda. Pusat Budaya Sunda Unpad mengadakan acara ini sebagai program “Rumawat”. Rumawat sendiri memiliki filosofi mendalam untuk ngarumat atau merawat warisan leluhur agar selalu terjaga dari generasi ke generasi.

Suasana tidak hanya dipenuhi oleh hiruk-pikuk sekitar +/- 200 penonton yang hadir, tetapi juga oleh sebuah frekuensi yang unik—frekuensi di mana kuliner tidak lagi sekadar dikunyah, melainkan “dinyanyikan”. Acara “Haleuang Katuangan Sunda” hadir bukan sebagai festival makanan biasa, melainkan sebuah upaya puitis untuk mengapresiasi kekayaan rasa tanah Pasundan melalui seni suara atau haleuang. Di sini, rasa penasaran kita terusik: bagaimana mungkin kelezatan sebuah masakan bisa ditransformasikan menjadi melodi yang menggetarkan hati?
Salah satu daya tarik utama acara ini adalah keberaniannya menyandingkan para maestro dengan seniman kontemporer. Ini bukan sekadar pertunjukan nostalgia untuk orang tua, melainkan sebuah jembatan budaya yang sangat kokoh. Kita akan menyaksikan bagaimana kepiawaian Bungsu Bandung dan Rika Rafika bersenyawa dengan energi modern dari Ebith Beat*A, seorang rapper yang konsisten membawa napas lokal dalam rima-rimanya.
Kehadiran Alumni Tim Kesenian Unpad Angkatan 1990–2015 bertindak sebagai “jembatan hidup” yang menghubungkan memori lintas dekade. Kedalaman acara ini semakin diperkuat dengan daftar pengisi acara yang sangat komprehensif, mencakup:
• Para Maestro dan Seniman: Ambu Dedah Tadjudin, Nia Iswara, Novia Aksmiranti, GJ Setra, Gugun Gunawan, Swarantara, Apep AS Hudaya, Sony Riza Windyagiri, dan Dian Hendrayana.
• Grup Kolaborator: TVoice Unpad, Bandrek 4, Lises Unpad, SPDC Unpad, dan Pamass Unpad.
Menyanyi Sesuai Abjad: Eksplorasi Kreatif ‘Ngawincik’ Kuliner
Salah satu strategi naratif paling cerdas dalam acara ini adalah konsep Ngawincik—merinci kekayaan kuliner secara alfabetis dari A sampai Z. Jika alfabet adalah tubuh dari kebudayaan kita, maka daftar makanan ini adalah anatomi yang luar biasa lengkap. Melalui vokal Akang Sony, GJ Setra, dan Gugun, kita diajak menelusuri kamus kuliner yang hidup:
• A: Mulai dari apem, ali agrem, angléng, awug, hingga ager yang dideskripsikan begitu pelem ngageleser—sebuah sensasi lezat yang meluncur halus di tenggorokan.
• B & C: Dari bugis dan bandrék hingga barisan “C” yang legendaris seperti colénak, ciréng, combro, dan tentu saja céndol.
• O: Menampilkan odading, opak, hingga oncom.
Menariknya, daftar ini jujur terhadap keterbatasan linguistiknya sendiri. Saat menyentuh huruf X, Y, dan Z, panggung dipenuhi gelak tawa karena memang “tidak ada” wakilnya. Seperti yang diselorohkan dalam acara, huruf-huruf itu memang bukan bagian dari aksara Sunda tradisional (“pan sanés aksara sunda”). Kejujuran ini justru menunjukkan betapa otentiknya upaya pelestarian ini—ia tidak dibuat-buat, melainkan berpijak pada akar bahasa yang nyata.

Lirik yang Jujur: Antara Lamunan dan Realita Meja Makan
Jika alfabet adalah tubuhnya, maka lirik lagu utama “Kulinér Sunda” adalah jiwanya. Lagu ini menjadi benang merah yang menyatukan setiap fragmen rasa menjadi satu simfoni yang utuh.
“Kulinér Sunda, raosna teu aya dua. Kulinér Sunda, kajojo kamana-mana. Kulinér Sunda, hargana teu sabaraha. Kulinér Sunda, matak uruy saréréa.”
Pernyataan bahwa “harganya tidak seberapa” (hargana teu sabaraha), namun “membuat semua orang tergiur” (matak uruy), adalah sebuah antitesis yang sangat kuat tentang identitas kuliner Pasundan. Ia adalah kuliner yang demokratis; tidak butuh label mewah untuk diakui kualitasnya. Ia hadir dari tanah, diolah dengan cinta, dan bisa dinikmati siapa saja, namun tetap menyisakan kerinduan yang mendalam dalam setiap suapannya.

Kejutan di Panggung: Saat Akademisi dan Pejabat ‘Turun Gunung’
Daya tarik acara ini semakin memuncak saat kita melihat siapa yang berdiri di atas panggung. Ini bukan sekadar pertunjukan profesional yang kaku, melainkan ruang di mana para birokrat dan akademisi “melepaskan” jubah formalitas mereka untuk merayakan akar budaya. Ada kehangatan manusiawi yang luar biasa saat melihat tokoh-tokoh penting ini tampil:
• Dr. Bu Laina dari Fakultas Hukum Unpad yang tampil memukau dengan gerak tarian yang luwes.
• Pa Arif (Sekretaris Direktorat Sarana Prasarana) dan Pa Dandi (Kepala Kantor Komunikasi Publik). Ada ironi yang menyenangkan saat melihat seorang ahli logistik sarana prasarana menyanyikan lagu tentang Tahu Sumedang dengan penuh penghayatan.
• Teh Mirna (Staf Direktorat Riset) dan Agus Yayan (Staf FEB).
Kehadiran mereka membuktikan bahwa kecintaan pada budaya adalah frekuensi yang menyatukan semua profesi, memberikan sentuhan manusiawi yang jauh lebih berharga daripada sekadar protokoler kampus.
Filosofi di Balik Gerak: Hobi yang Tidak Harus Menjadi Profesi
Di tengah gegap gempita panggung, Prof. Ganjar melontarkan sebuah pemikiran reflektif yang sangat relevan bagi manusia modern. Saat memperkenalkan Dr. Bu Laina yang telah menekuni tari sejak kecil, ia menekankan: “kalangenan téh teu kedah janten propési” (kesenangan atau hobi itu tidak harus menjadi profesi).
Di era hustle culture saat ini, di mana kita sering merasa tertekan untuk memonetisasi setiap bakat, pesan ini adalah oase. Memiliki hobi yang dijaga murni sebagai bentuk kesenangan jiwa adalah cara untuk menjaga kemanusiaan kita tetap utuh. Dr. Bu Laina menunjukkan bahwa kita bisa menjadi ahli hukum yang hebat tanpa harus mematikan api penari dalam diri kita.

Simfoni Camilan: Dari Wajit Cililin hingga Surabi Haneut
Pertunjukan ini benar-benar memanjakan pancaindra. Kita seolah bisa mencium aroma Tauco Cianjur yang menyengat namun menggoda saat Kang Dian Hendrayana memberikan kejutan dengan masuk ke panggung mengendarai sepeda motor—sebuah energi jalanan yang sangat unpretentious dan modern.
Panggung berubah menjadi etalase sensorik yang kaya:
• Ceu Nia membawakan “Wajit Cililin” dengan iringan kendang yang dinamis.
• Rika Rafika membawa kita pada kesegaran Karedok Leunca dan berbagai varian Rujak yang pédo pisan.
• Simfoni camilan ini juga mengangkat lagu Ancémon yang jenaka, mendeskripsikan kue singkong manis itu layaknya “Mojang montok, leumpangna dicentok-centok.”
• Bahkan ada dedikasi khusus untuk Dadar Gulung (dari huruf D) dengan lirik ikonik: “katuangan anu montok landong baeud mun keur bingung” (makanan yang padat berisi sebagai obat cemberut saat sedang bingung).
Puncaknya, Mamah Bungsu Bandung membawa suasana menjadi begitu intim melalui medley “Oncom Gondrong–Surabi Haneut”. Kita hampir bisa merasakan uap hangat dan tekstur lembut Surabi yang baru diangkat dari tungku.

Warisan dalam Setiap Suara
“Haleuang Katuangan Sunda” pada akhirnya bukan sekadar pertunjukan yang memicu lapar, melainkan sebuah ritual untuk menjaga ingatan kolektif.

Dengan melagukan setiap jenis makanan, kita sedang mengunci warisan budaya tersebut ke dalam memori generasi selanjutnya. Kita tidak hanya mewarisi resep, tetapi juga melodi, tawa, dan rasa bangga yang tak ternilai.
Jika makanan favoritmu digubah menjadi sebuah lagu, melodi seperti apa yang akan tercipta untuk menggambarkan setiap lapis rasanya? Mungkin itulah cara terbaik bagi kita untuk benar-benar “merasakan” kekayaan budaya kita sendiri.
Judul: Pusat Budaya Sunda UNPAD Mengadakan Pagelaran Haleuang Katuangan Sunda
Reporter/Penulis: Asep Zaenal Mustofa/Jumari
Editor: Parkah












