MajmusSunda News – Bandung, Selasa (07/04/2026) – ISBI Bandung lahirkan lagi 2 guru besar. Guru besar tersebut adalah Prof. Dr. Jaeni, S.Sn., M.Si., Bidang Komunikasi Pertunjukan dan Seni Teater, dan Prof. Neneng Yanti Khozanatu Lahpan, S.Ag., M.Hum., Ph.D., Bidang Antropologi Seni Budaya.
ISBI Bandung Lahirkan Guru Besar Baru
Pengukuhan guru besar berlangsung dalam Sidang Terbuka Senat Akademik pada Kamis (2/4/2026) di Gedung Kesenian Sunan Ambu, Kampus ISBI Bandung, Jl. Buah Batu No. 212, Kota Bandung.
Rektor ISBI Bandung, Retno Dwimarwati, usai acara mengatakan kepada wartawan, dengan bertambahnya guru besar ini sangat membanggakan dan membahagiakan pihak rektorat dan civitas akademika ISBI Bandung. Karena dalam Dies Natalis (ulang tahun) yang ke-58, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung bisa mengukuhkan kembali guru besar (profesor).

Tahun sebelumnya, pada Dies Natalis yang ke-57 (2025), ISBI juga mengukuhkan dua guru besar. Jadi selama kepemimpinan Rektor Retno Dwimarwati, ISBI sudah melahirkan 5 guru besar. Sekarang guru besar ISBI ada 8 (dari 12 guru besar keseluruhan, hanya 2 orang telah meninggal dan dua lainnya pensiun).
Jadi untuk terus menambah guru besarnya, rektor terus berusaha mendorong semua lektor kepala agar bisa mengajukan diri, karena secara akreditasi sebetulnya banyak sekali lektor kepala yang sudah siap untuk menjadi guru besar.
Sebelumnya, kata Retno, pihaknya juga menyiapkan Pa Hendi (Dr. Suhendi Afryanto, S.Kar., M.M.—mantan Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Sistem Informasi dan Kerja Sama), Pa Indra Ridwan (Indra Ridwan, S.Sos., M.Sn., M.A., Ph.D.—Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan), juga Pa Supri (Dr. Supriatna, S.Sn., M.Sn.—Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat & Sistem Informasi), untuk berproses. Hingga di tahun 2027 lebih banyak lagi guru besar di ISBI Bandung.
“Saya kira dengan adanya guru besar ini, ISBI Bandung jauh lebih punya potensi untuk lebih menguatkan dirinya menjadi garda terdepan dalam membaca bagaimana kebutuhan zaman. Karena ternyata guru besar menjadi hal yang membanggakan secara akademik, dan kita berharap guru besar memberikan manfaat dan maslahat yang luar biasa kepada masyarakat. Sesuai dengan cita-cita pengabdian kita, mencoba apa yang kita lakukan itu senantiasa berdampak bagi masyarakat. Dan saya berharap betul dengan adanya guru besar ini ISBI Bandung jauh lebih terdepan,” kata Rektor.

Rektor juga mengingatkan ada banyak ilmu pengetahuan yang bisa digali dari kearifan lokal dan pengetahuan lokal Indonesia. Dia berharap potensi-potensi ini harus jadi pengetahuan (knowledge) baru yang kemudian bisa diterima masyarakat bahwa pengetahuan nenek moyang kita zaman dulu itu jauh luar biasa (adiluhung), dan itu harus mulai dikenalkan kepada masyarakat, terutama ke generasi mudanya secara lebih luas.
Seni tradisi kalau diurus dengan benar menjadi potensi luar biasa bagi Indonesia. Jadi guru besar itu memang cita-cita semua dosen. Tapi menempuhnya tidak semudah apa yang dibayangkan. Demikian dikatakan Prof. Jaeni pada wartawan usai acara pengukuhannya.
“Riset saya itu sudah 20 tahun tentang bagaimana mengomunikasikan seni. Jadi seni itu dikomunikasikan, yang kemudian jadi fenomenal itu saya mengomunikasikan seni itu untuk membentuk, mewujudkan wisata alam berbasis seni pertunjukan. Alhamdulillah itu sudah dipakai oleh masyarakat, bisa memberdayakan masyarakat. Jadi yang terpenting bagi saya, riset itu hasilnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” tegasnya.
Jaeni mencontohkan daerah Batu Lawang-Cupang, perbatasan Majalengka-Cirebon, tempat riset sekaligus hasil kinerjanya dalam membangun wisata alam yang sudah berkembang dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat hingga kini. Daerah terpencil di atas gunung dan masyarakatnya terisolasi hutan pinus itu setelah dia rombak sekarang jadi tempat wisata yang bisa menghidupi masyarakat setempat secara ekonomi.

Karya-karya Prof. Jaeni juga bisa dilihat di YouTube, Gunung Kromong Performance Art, sebuah seni yang membranding satu wilayah untuk dijadikan wisata alam berbasis seni pertunjukan.
Cuma kadang, kata Jaeni, para birokrat, para pengambil kebijakan tidak jeli. Potensi besar ini harus dibangun, diurus dengan betul agar menjadi sesuatu untuk masyarakat bangsa.
Setelah itu berhasil, Jaeni beralih membentuk wisata religi berbasis seni budaya di Desa Galagamba, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon (sudah berjalan 3 tahun). Kebetulan di Desa Galagamba ada beberapa situs dan ada upacara tiap tahun, tapi kurang menarik. Maka dia kasih sentuhan dengan kesenian, ada musiknya, ada tariannya, kemudian upacaranya dipoles, dikemas, dikembangkan lagi, di antaranya diadakan Upacara Ganti Kelambu tiap bulan pada tanggal 15 Oktober, dan itu menarik perhatian banyak orang.
“Jadi ada banyak yang bisa dikembangkan. Semoga ini bisa dimanfaatkan masyarakat. Jadi dengan ilmu-ilmu saya dari kampus, kemudian turun ke lapangan, harapan saya tidak lain ingin menyejahterakan masyarakat. Banyak seni tradisi termasuk seniman-seniman kontemporer kalau tidak ada tanggapan, ya kekurangan hidupnya. Kita harus membuat ruang-ruang kreatif agar mereka bisa terus berkreasi, dan terus dihidupi oleh pekerjaan seni mereka,” ujar akademisi yang lebih suka hidup di desa, di tengah-tengah masyarakat ini.
Jaeni juga mengingatkan masyarakat butuh dukungan dari pemerintah. Makanya kalau ia melihat ada potensi besar di masyarakat, dia obrolkan dengan pemerintah terkait.
“Masyarakat kan butuh modal dan dorongan dari pemerintah. Kalau pemerintah punya program kalau hanya dikerjakan masyarakat sama saja seperti jualan, bisa bangkrut. Kalau saya memang harus kolaborasi dengan pemda,” tandasnya.
Target Jaeni sekarang harus mulai membina dosen-dosen muda, sambil terus melakukan riset ke desa-desa. Itu memang sudah pekerjaannya dan harus terus menyentuh sampai pada masyarakat. Ia juga sekarang punya tugas khusus, mencerahkan bagaimana seni itu berkomunikasi. Sebab ketika orang menangkap pertunjukan seni dan dia tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman seni, yang terjadi kekacauan. Jaeni mencontohkan pada kasus-kasus kelompok band yang dipaksa berhenti, pertunjukan Panji jadi polemik, dan sebagainya. Jaeni juga menghimbau agar aparat dan para politisi belajar seni, agar seni tidak dianggap sebagai hiburan saja.
“Seni itu bukan hiburan, seni itu sekecil apa pun punya nilai. Saya sering mencontohkan ke mahasiswa saya, seni Ronggeng Monyet yang biasa digelar di jalan, walau estetikanya sangat kecil, tapi dia punya nilai ekonomi untuk menghidupi yang punya Ronggeng Monyet itu.”
“Tapi saking banyaknya seni, akhirnya jadi lupa bagaimana mengurus seni. Padahal seni itu sebuah potensi yang luar biasa untuk Indonesia. Kalau diurus menjadi satu aset yang luar biasa!” pungkas Prof. Jaeni.
Sementara itu, Prof. Neneng Yanti di hadapan para awak media mengatakan selama ini dirinya telah banyak merekonstruksi seni tradisi yang sudah punah, dihidupkan kembali. Karena, kata Neneng, ketika tradisi itu hilang, nilai-nilainya pun ikut hilang.
“Nah, bagaimana kita mengembalikan nilai-nilai itu dan juga bentuk-bentuk seninya, walaupun lebih ke untuk reservasi saja, maksudnya tidak untuk menjadi praktik kehidupan sehari-hari. Kalau dulu seni itu kan praktik kehidupan sehari-hari, tapi ketika berubah zaman, berubah jadi performance (pertunjukan) saja. Tapi paling tidak nilai-nilainya bisa tetap diwariskan kepada generasi muda,” katanya.

Sebagai antropolog, Neneng mempelajari masyarakat dengan berbagai kompleksitasnya, khususnya masyarakat tradisional, komunitas, dan kelompok seni yang terpinggirkan yang berusaha tetap bertahan. Masyarakat yang ada di persimpangan dan penuh kecemasan, apakah harus beradaptasi dengan modernisasi atau tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi.
Dalam pidato ilmiahnya, “Meneguhkan Kembali Identitas Indonesia, Menguatkan Seni Budaya”, Neneng bercerita tatkala melakukan risetnya untuk program doktoral 10 tahun yang lalu. Ia menemukan Bi Omah (Romlah), nenek renta usia 70 tahun, pembaca Syiiran satu-satunya yang masih ada di Cikeusal, Tasikmalaya, yang kehilangan panggung di acara syukuran walimah pernikahan atau khitanan. Juga para penyanyi Beluk yang berusia lanjut lalu berpulang satu per satu tanpa ada penerusnya.
Di sana juga Neneng melihat kesenian Beluk dan Terebang tidak hanya kehilangan penyanyi atau pemainnya, tetapi juga kehilangan ruang relevansinya, yaitu sawah.
Seni Tutunggulan tergantikan mesin giling padi (huller), seni Rengkong punah tergantikan kendaraan angkutan.
Hingga pascareformasi, kesenian-kesenian tradisi yang kehilangan ruang sosialnya di masa Orde Baru kemudian menemukan kembali relevansinya di ruang-ruang pertunjukan dalam konteks yang baru, sebagai hiburan dan edukasi serta semangat pelestarian yang dibalut dengan suasana politik kebudayaan yang berubah arah.
Pada akhirnya, sebagai akibat derasnya perubahan kebudayaan, seni tradisi pun bernegosiasi, berkompromi, dan menyesuaikan elemen-elemen artistiknya sesuai situasi zaman yang dihadapinya. Itu sebagaimana yang dilakukan para pemain calung yang menggabungkan penampilannya dengan musik dangdut menjadi Calung Dangdut, sebagai upaya dan bentuk daya tahan seni tradisi terhadap perubahan selera dan negosiasi pasar di tengah kencangnya laju industrialisasi. Demikian kata Prof. Neneng Yanti.
Judul: ISBI Bandung Lahirkan Lagi 2 Guru Besar
Jurnalis: AGP
Editor: Parkah












