MajmusSunda News, Senin (06/04/2026) – Artikel berjudul “Hening Bangkit Paskah” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, kota-kota ketidakbahagiaan bersitumbuh di tengah gebyar kemajuan. Kehidupan metropolitan dilimpahi kesepian, namun miskin keheningan. Kesepian menandakan kerapuhan, sedang keheningan memancarkan keteguhan.
Di tengah gejolak perang, kesewenang-wenangan kekuasaan, serta krisis global dari ketimpangan hingga krisis ekologis dunia kian bising oleh ketakutan, tetapi miskin perenungan.

Untuk pemulihan, kita perlu mengkhidmati keheningan. Jalaluddin Rumi berkata, “Hening adalah lautan. Ucapan adalah sungai. Saat lautan mencarimu, jangan melangkah ke sungai. Dengarkanlah lautan.”
Keheningan adalah relung pemurnian jiwa. Dalam hening, rohani menyuling inspirasi dan memulihkan daya cipta; tanpa keheningan agung, tak lahir karya agung.
Keheningan inilah yang patut dihadirkan dalam momen Tri Hari Suci ritus reflektif mengenang jalan sunyi pengorbanan: sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus.
Di sinilah makna substantif Paskah menjadi relevan bagi dunia dan Indonesia: di tengah kerakusan, penyimpangan, kerawanan dan gemuruh kekacauan, kebangkitan tidak lahir dari kegaduhan, melainkan dari keberanian memasuki keheningan batin.
Kebangkitan bukan sekadar peristiwa iman, tetapi panggilan etis untuk memulihkan kehidupan—menyalakan harapan, merawat persaudaraan, dan membangun kembali kepercayaan dalam kehidupan berbangsa. Dalam kemajemukan Indonesia, Paskah menegaskan bahwa pengorbanan tulus melahirkan rekonsiliasi, dan keheningan membuka empati lintas iman.
Dalam hening kepasrahan, kebenaran Ilahi didekati dan memantik misi perawatan yang berujung pada perdamaian. Mother Teresa berkata, “Buah keheningan adalah doa; buah doa, iman; buah iman, kasih; buah kasih, pelayanan; buah pelayanan, perdamaian.”
Setiap pembebasan lahir dari latihan sunyi. Jalan batin itulah yang memadukan iman dan pengorbanan seperti Yesus Kristus yang menempuh sunyi penyaliban.
Dari jalan hening pengorbanan, semoga lahir kekuatan dan kebaruan. Seperti kata Carl Gustav Jung, ”Hanyalah dengan misteri pengorbanan diri, seseorang bisa mengalami kelahiran baru.”
***
Judul: Hening Bangkit Paskah
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












