Rumah Bahagia

oleh: Prof. Yudi Latif

MajmusSunda News, Minggu (05/04/2026) Artikel berjudul “Rumah Bahagia” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, tak ada tempat berlabuh paling nyaman dan menenangkan bagiku selain rumah sendiri. Kemana pun bepergian; seindah apapun panorama terkembang; semewah apa pun penginapan yang disediakan, tak pernah bisa mengalahkan daya tarik kepulangan ke rumah sendiri.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Rumah bagiku, seperti dilukiskan Shoshana Zuboff, “tempat di mana kita bisa mengetahui dan diketahui, mencintai dan dicintai. Rumah adalah kemampuan penguasaan, kehangatan percakapan, kerapatan pergaulan, kedamaian pesanggrahan, ruang berkembang, berlindung dan berpengharapan.”

Di rumah itu, keluarga adalah jantungnya. Dimana ada keluarga, di sana ada cinta. Meski tak selalu ada percakapan sesama anggota keluarga, kehadiran bersama di rumah tangga sudah memberi dekapan kehangatan.

Keluarga memberiku akar untuk berdiri tegak tinggi dan kuat. Keluarga yang secara reguler berkumpul untuk berdoa atau makan bersama lebih kuat pertalian kekerabatannya ketimbang yang jarang melakukan hal itu.

Sebaik-baik rumah bagiku adalah rumah sakinah; rumah damai-bahagia yang menyuburkan welas asih sesama anggota keluarga, melebarkan pintu kehangatan ke segala penjuru mata angin, seraya meninggikan daya spiritualitas dan menyatukan diri dengan dekapan kasih ilahi, bersambung rasa dengan sesama manusia, dan berelasi harmonis dengan alam semesta.

Rumah adalah titik keberangkatan dan kepulangan. Tatkala hidup di rumah serasa air yang menggenang, ada baiknya mengalir meninggalkan rumah. Namun, saat perjalanan melelahkan dan menyesatkan, pemulihan terbaik kembali ke rumah.

***

Judul: Rumah Bahagia
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *