MajmusSunda News, Bogor, Rabu, (14/10/2026)-Tekanan Demak yang bekerjasama dengan Corebon menjadi persoalan yang cukup membuat eksistensi Prabu Siliwangi mempertahankan Pajajaran terancam.
Kendati Pati Unus telah gugur saat yang kedua kalinya menyerang Malaka. Pada saat situasi kerajaan terancam Prabu Siliwangi telah mendapat wangsit harus menjauhi dunia ramai menjadi pertapa.
Sedangkan Pangeran Surawisesa masih berada di Portugis menjadi utusan untuk yang kedua kalinya, dalam upaya menjalin persahabatan dan kekuatan menghadang Demak. Prabu Siliwangi menjadi galau, di sisi lain ia ingin mengetahui bagaimana hasil misi Pangeran Surawisesa dari Malaka, sedangkan di sisi lain ia sendiri harus turun tahta menjadi pertapa.
Yuyus Suherman dalam bukunya Sejarah Perintisan Penyebaran Islam di Tatar Sunda menulis Detki-detik saat Prabu Siliwangi mendapat wangsit dan harus menjadi pertapa dirembukan dengan para pembesar kerajaan dan pemuka agama dari kaum purahita dan para tetua (kasepuhan=Sunda).
Hasil keputusan dengan kebijakan yang tinggi para sesepuh meyakinkan Prabu Siliwangi lebih memilih wangsit menjadi pertapa karena itu pastilah merupakan pertanda (kila-kila, ciren=Sunda),dalam ajaran Sunda tidak ada alasan bagi Prabu Siliwangi mengabaikannya.
Akhirnya dengan hati yang sangat berat Prabu Siliwangi bersedia memenuhi wangsit yang telah sampai kepadanya. Agar tidak menjadi kesan ia tidak bertanggungjawab dalam urusan politik dan pemerintahan (kerajaan) dibuatlah semacam skenario.
Diharapkan suasana kerajaan tetap tenang seolah-olah tidak terjadi gejolak. Akhirnya diumumkan kepada seluruh rakyat Pajajaran Prabu Siliwangi telah wafat (13 Desember 1521) dan dipusarakan di Rancamaya (Bogor).
Pada kenyataanya Prabu Siliwangi dimungkinkan ia bersama para pengikutnya yang setia (kebanyakan tokoh-tokoh agama) sudah berada di kaki Gunung Pangrango daerah Pondok Gede (masih di kawasan wilayah Bogor- letaknya diperkirakan ada di sebelah kota Bogor) sebagai seorang pertapa. Kabar wafatnya Prabu Siliwangi bagi keluarga Cirebon merupakan kabar duka yang sangat mendalam.
Syekh Syarif Hidayatullah secara resmi mengirim utusan ke Pajajaran. Hanya saja utusan ini tidak diperkenankan masuk wilayah Pajajaran dengan alasan demi keamanan.
Sementara itu di Kesultanan (kerajaan) Demak, sepeninggal Pati Unus pemerintahan dilanjutkan oleh adiknya Pangeran Trenggono yang naik tahta tahun 1521 M.
Pangeran Trenggono seperti juga ayahnya (Raden Fatah) dan kakaknya (Pati Unus) giat menyiarkan Islam dan kerajaan Islam yang menentang Islam ditaklukkannya. Demak bukan hanya melemah setelah Pati Unus gugur di Malaka digantikan Sultan Trenggono yang sama-sama ingin menyebarkan Islam bersama Syekh Syarif Hidayatullah di dan Tatar Sunda.












