MajmusSunda News, Kamis (29/10/2026) – Tidak semua yang tertutup benar-benar rapat. Selalu ada sesuatu yang luput, sekecil apa pun, bahkan ketika segala sesuatu tampaknya telah berada pada tempatnya. Sebuah celah mungkin tak lebih lebar daripada sehelai garis, nyaris tak terlihat dari kejauhan. Namun, entah mengapa, bagian yang paling samar justru kadang membuat pandangan tertahan lebih lama.
Ada yang terasa ganjil ketika sebuah pintu telah ditutup, keputusan telah ditetapkan, atau suatu perkara dinyatakan selesai, tetapi masih ada sesuatu yang seolah belum mencapai akhirnya. Barangkali hanya perasaan yang mencari-cari alasan untuk tinggal. Atau mungkin, memang ada hal-hal yang tidak sepenuhnya tunduk pada kehendak manusia, betapapun kuatnya keinginan untuk menuntaskan segala sesuatu.
Celah tidak selalu lahir dari sesuatu yang gagal ditutup. Ada kalanya ia justru menjadi tempat bagi kemungkinan untuk tetap bernapas. Tak seorang pun benar-benar tahu apa yang melintas di sana, apa yang tertahan, atau apa yang sengaja disembunyikan dari pandangan. Bisa jadi tak ada apa-apa. Namun, sesuatu yang belum dapat dipastikan rupanya memiliki cara tersendiri untuk membuat manusia enggan berpaling.
Dalam kehidupan, banyak hal tampak telah mencapai bentuk akhirnya. Kedudukan telah diraih, keputusan telah diumumkan, janji telah diucapkan, dan penghormatan telah diberikan. Segalanya seolah telah menemukan tempat yang semestinya. Namun, di antara apa yang tampak selesai dan apa yang sesungguhnya berlangsung, mungkin masih tersisa ruang yang tak terjangkau oleh kata-kata, tak terbaca dari raut wajah, dan tak tersingkap oleh apa pun yang terlihat di permukaan.
Barangkali celah itu berada di antara kekuasaan dan keinginan, antara kehormatan dan sesuatu yang diam-diam masih dikejar, atau antara kata-kata yang terdengar meyakinkan dan pikiran yang tak pernah disuarakan. Bisa juga ia bersembunyi di tempat yang jauh lebih sunyi, di antara dua orang yang tak lagi saling bertanya, dalam sebuah keputusan yang tak pernah diterangkan, atau pada sebuah nama yang terasa berbeda ketika diucapkan oleh pemiliknya sendiri. Terlalu banyak kemungkinan untuk menunjuk satu di antaranya.
Mungkin karena itu, tidak semua yang samar perlu segera dijelaskan. Ada hal-hal yang cukup dibiarkan lewat bersama waktu, meski sesekali meninggalkan jejak yang sulit diterangkan. Dan ketika kesibukan perlahan surut, ketika suara-suara mulai menjauh dan hari kehilangan terangnya, sesuatu yang semula nyaris tak terasa kadang kembali menyentuh ingatan.
Seperti pada malam ini, tampak sebuah tirai bergerak perlahan, padahal udara nyaris tak berembus. Gerakannya begitu tipis, mungkin hanya permainan cahaya pada kain yang telah lama tergantung. Di baliknya, samar-samar seperti ada bayangan yang segera menghilang ketika pandangan berusaha mengenalinya. Barangkali hanya ilusi cahaya. Namun, ada sesuatu yang terasa akrab pada bayangan itu, sesuatu yang mengingatkan pada tatapan yang pernah singgah, senyum yang tak sempat dimengerti, atau sebuah pertemuan yang meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Sampai sekarang, tak pernah benar-benar jelas apa yang sebenarnya terlihat sore itu.
Malam pun akhirnya akan berlalu, menyisakan tirai yang kembali diam. Hari-hari terus berganti, dan segala sesuatu berjalan seolah tak ada yang perlu dipertanyakan. Namun, celah itu tetap terbayang, meski tak jelas apakah ia masih terbuka atau sebenarnya telah lama tertutup. Barangkali memang ada sesuatu di baliknya. Barangkali hanya bayangan yang tak sengaja menyerupai sesuatu. Atau mungkin, celah itu sendiri tak pernah ada, kecuali dalam pandangan yang sesekali kembali mencarinya.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Celah yang Tersisa
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












