Acungan Jempol Untuk Bulog

Oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Kamis (29/10/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Acungan Jempol Untuk Bulog” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan peningkatan produksi perlu diikuti kemampuan pemerintah menyerap hasil panen, sehingga pengadaan gabah dan beras oleh Perum Bulog memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sekaligus mendukung stabilisasi pasokan.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Mentan dalam keterangan persnya menyebutkan hingga 8 Oktober 2026, Perum Bulog melaporkan pengadaan gabah dan beras dalam negeri mencapai 4.115.014 ton setara beras. Angka tersebut setara dengan 102,88 persen dari target penugasan pemerintah sebesar 4 juta ton.

Capaian itu lebih tinggi dibandingkan pengadaan Bulog pada 2025 sebesar 3.191.969 ton setara beras dan melampaui capaian pada 2012 yang tercatat sekitar 3,65 juta ton, berdasarkan angka yang disampaikan pemerintah.

Ungkapan acungan jempol untuk Bulog terkait dengan “pengadaan beras oleh BULOG melampaui target pemerintah” berarti jumlah beras dari petani dalam negeri yang berhasil dibeli dan dikumpulkan oleh Perum BULOG melebihi dari jumlah (kuota) yang telah ditetapkan dalam rencana kerja pemerintah.

Secara lebih mendalam, ungkapan ini membawa beberapa makna dan dampak positif bagi ketahanan pangan negara yaitu pertama stok cadangan pangan kuat. Pemerintah memiliki pasokan beras cadangan yang sangat aman dan melimpah di gudang-gudang BULOG untuk menghadapi kondisi darurat, seperti bencana alam atau kemarau panjang.

Kedua, harga di tingkat petani terjaga. Pembelian yang masif oleh BULOG menandakan bahwa gabah/beras hasil panen petani diserap dengan baik sesuai Standard Harga Pembelian Pemerintah (HPP), sehingga petani terhindar dari kerugian akibat anjloknya harga saat panen raya.

Ketiga, senjata ampuh untuk stabilisasi pasar. Dengan stok yang melampaui target, BULOG memiliki amunisi yang lebih dari cukup untuk melakukan intervensi pasar (seperti operasi pasar atau program SPHP) guna menstabilkan harga jika terjadi lonjakan harga beras di pasaran.

Keempat, Kemandirian Pangan meningkat. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa produksi padi nasional atau serapan lokal berjalan optimal, sehingga ketergantungan pemerintah terhadap opsi impor beras dapat ditekan.

Faktor utama yang membuat pengadaan beras BULOG berhasil melampaui target pemerintah (menembus rekor realisasi hingga 4,13 juta ton per Oktober 2026) didorong oleh kombinasi kebijakan harga yang berpihak pada petani, peningkatan produksi, dan optimalisasi infrastruktur di lapangan.

Empat faktor penentu di balik keberhasilan tersebut meliputi: Diawali dengan Kebijakan HPP Tanpa Rafaksi yang Menarik bagi Petani. Pemerintah menerapkan kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah Kering Panen (GKP) yang kompetitif seperti regulasi minimal Rp6.500 per kilogram tanpa rafaksi (potongan harga akibat fleksibilitas kualitas). Kebijakan ini membuat petani dan pemilik penggilingan lebih memilih untuk menjual hasil panennya secara langsung kepada BULOG dibandingkan ke tengkulak atau pasar umum, karena adanya jaminan harga yang menguntungkan.

Selanjutnya, peningkatan produksi dan optimalisasi lahan petani. Kementerian Pertanian gencar melakukan program percepatan tanam, perluasan cetak sawah baru, serta optimalisasi lahan melalui program pompanisasi massal untuk memitigasi risiko cuaca/El Nino. Hasilnya, pasokan gabah di berbagai sentra produksi padi nasional tetap melimpah dan tersedia untuk diserap sepanjang musim panen.

Kemudian, sinergi agresif di lapangan dan jemput bola. Tim BULOG tidak lagi pasif menunggu di gudang, melainkan memperkuat sinergi langsung di lapangan bersama kelompok tani (poktan) dan mitra penggilingan padi lokal. Dengan skema “jemput bola”, jaringan pembelian BULOG di sentra-sentra produksi menjadi jauh lebih dinamis dan mampu memotong rantai distribusi yang panjang. Lalu, kesiapan infrastruktur modern (Sentra Pengolahan). BULOG memaksimalkan pengoperasian infrastruktur modern seperti Sentra Pengolahan Beras (SPB) atau Modern Rice Milling Plant (MRMP) yang tersebar di berbagai wilayah. Fasilitas ini memungkinkan BULOG untuk menerima gabah langsung dari petani, mengeringkannya, dan mengolahnya menjadi beras berkualitas tinggi secara mandiri dengan kapasitas besar, sehingga kapasitas serap gudang meningkat drastis.

Untuk menjaga cadangan beras tetap aman dan tidak turun mutu (tidak berkutu, tidak kuning, dan tidak berbau), BULOG menerapkan sistem manajemen pergudangan modern yang mengombinasikan teknologi kedap udara, pengendalian hama ramah lingkungan, dan pengaturan suhu.

Dibawah ini adalah tiga strategi utama yang digunakan BULOG untuk merawat beras di gudang: Pertama, Teknologi Cocooning (Sistem Kedap Udara). BULOG menggunakan teknologi plastik khusus bernama cocooning untuk membungkus tumpukan beras secara rapat dan kedap udara.

Plastik ini menurunkan kadar oksigen di dalam tumpukan beras hingga di bawah 1% dan menaikkan kadar karbon dioksida (CO₂).Manfaat: Kutu, jamur, dan hama tidak dapat bertahan hidup tanpa oksigen. Teknologi ini terbukti mampu menjaga kualitas beras tetap segar seperti baru digiling selama lebih dari satu tahun tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya.

Kedua, Penerapan Good Warehouse Practices (GWP) dan Kontrol Suhu.
BULOG menerapkan standar operasional yang ketat untuk menjaga ekosistem di dalam gudang. Beras tidak ditumpuk langsung di atas lantai beton, melainkan dialasi kayu (palet) untuk menghindari kelembapan dari bawah. Kemudian, memastikan ventilasi udara berjalan baik untuk menjaga tingkat kelembapan udara (humidity) di dalam gudang agar beras tidak berjamur. Juga fumigasi berkala. Jika tidak menggunakan sistem cocoon, BULOG melakukan fumigasi terjadwal menggunakan senyawa yang aman untuk mengeliminasi hama tanpa merusak struktur dan rasa beras.

Ketiga, Infrastruktur Modern (Modern Rice Milling Plant / MRMP). BULOG kini memiliki jaringan Sentra Pengolahan Beras Modern di berbagai sentra padi nasional. Melalui fasilitas ini, gabah yang baru dipanen dikeringkan menggunakan mesin dryer raksasa hingga mencapai kadar air ideal (maksimal 14%). Pengeringan yang presisi dan higienis ini menjadi kunci utama agar beras memiliki daya simpan yang jauh lebih lama saat dimasukkan ke dalam karung di gudang penyimpanan. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *