Hari yang Tidak Akan Terulang Kembali: Ambisi, Waktu, dan Jejak Kehidupan

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026) – Siang tadi saya berkesempatan bertemu banyak orang, dari rapat yang cukup formal sampai obrolan ringan di sebuah ruangan. Di antara percakapan itu, saya mendapatkan betapa setiap orang sedang menata masa depannya sendiri. Ada yang bercita-cita menjadi pejabat, menduduki kursi tertinggi dalam organisasi, membangun perusahaan besar, mengumpulkan kekayaan, atau dikenal dan dihormati karena pencapaiannya. Begitulah manusia, selalu memiliki sesuatu yang ingin dicapai dan suatu tempat yang ingin dituju. Namun, di tengah kesibukan membayangkan hari esok, kita kadang lupa bahwa hari ini sedang bergerak menjauh, perlahan menjadi sesuatu yang kelak hanya dapat kita kenang.

Kita pandai menyusun rencana dan menghitung jalan menuju keberhasilan, tetapi tak pernah benar-benar tahu berapa banyak hari yang masih tersedia. Kemarin telah berlalu, esok belum tentu kita jumpai, sedangkan hari ini masih terbuka bagi segala kemungkinan. Saya teringat pada nasihat Al-Hasan al-Bashri tentang tiga hari kehidupan. Sederhana, tetapi mengingatkan kita betapa seringnya waktu diperlakukan seolah-olah tak akan pernah habis.

Barangkali yang paling sulit bukanlah mengejar cita-cita, melainkan menjaga agar cita-cita tidak mengambil seluruh ruang kehidupan. Dalam perjalanan meraih kedudukan, kita bisa lupa menyediakan waktu bagi keluarga. Dalam usaha membangun nama, kita bisa alpa merawat ketulusan. Padahal, ada kasih sayang yang tak sempat terucap, permintaan maaf yang tertahan, dan kebaikan yang terus ditunda, seolah kesempatan akan selalu menunggu.

Di tengah perenungan itu, terlintas firman Allah dalam Surah Al-Hasyr ayat 18, _ya ayyuhalladzina amanuttaqullaha waltanzur nafsun ma qaddamat lighad wattaqullah innallaha khabirun bima ta’malun._ Dalam bahasa kita, ayat itu seperti mengingatkan dengan lembut, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” Sejenak kita diajak berhenti, bukan hanya menghitung apa yang telah diraih, melainkan merenungkan apa yang sesungguhnya sedang kita persiapkan untuk hari esok yang melampaui usia dunia.

Semakin jauh melangkah, semakin kita memahami bahwa umur adalah kumpulan perjumpaan, perpisahan, kesempatan, dan keputusan. Ada hati yang pernah kita lukai, ada amanah yang harus dijaga, dan ada kebaikan sederhana yang dapat membuat hidup orang lain terasa lebih lapang. Barangkali hal-hal itu tak membuat nama kita semakin besar, tetapi justru di sanalah makna kehadiran kita menemukan tempatnya.

Lalu, jauh di dalam Surah Al-Fajr ayat 24, ada sebuah kalimat yang seakan datang dari balik batas waktu, _yaqulu ya laitani qaddamtu lihayati_. Dalam bahasa kita, terdengar sebuah penyesalan, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan kebajikan untuk hidupku ini.” Betapa banyak hal yang kita anggap masih dapat dilakukan nanti, sampai suatu ketika kata nanti kehilangan tempatnya dan yang tersisa hanyalah ingatan tentang sesuatu yang dahulu sebenarnya dapat kita kerjakan.

Kelak, hari ini pun akan pergi. Ruangan yang siang tadi kita masuki menjadi bagian dari masa lalu, percakapan berhenti sebagai kenangan, dan orang-orang yang kita jumpai melanjutkan perjalanan masing-masing. Sebagian perjuangan mungkin mencapai hasil, sebagian lainnya tinggal sebagai harapan. Namun, semoga ada kebaikan yang tetap hidup melalui orang-orang yang pernah kita temui, amanah yang telah kita tunaikan, dan kasih sayang yang sempat kita berikan. Waktu tidak pernah berjanji untuk kembali. Ia hanya singgah, membuka kesempatan, lalu berjalan pergi tanpa suara. Mungkin kelak kita akan memahami bahwa yang paling berharga bukanlah seberapa tinggi kita pernah berdiri, melainkan seberapa banyak kebaikan yang sempat tumbuh selama kita berada di sana, sebelum nama kita sendiri menjadi bagian dari kenangan.

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Hari yang Tidak Akan Terulang Kembali: Ambisi, Waktu, dan Jejak Kehidupan
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *