MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Sabtu (17/10/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Sukses Peningkatan Produksi = Sukses Penyimpanan di Gudang Bulog” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Pernyataan “sukses peningkatan produksi beras = sukses penyimpanan di gudang Bulog” memiliki arti bahwa keberhasilan petani di sawah menaikkan hasil panen tidak akan ada artinya jika negara gagal mengelola, menyimpan, dan merawat beras tersebut di dalam gudang. Dalam sistem ketahanan pangan, sektor hulu (produksi) dan sektor hilir (pasca-panen/logistik) harus berjalan seimbang.

Kalimat tersebut merujuk pada beberapa poin penting berikut: Yang utama, menghindari pemborosan (Losses) pasca-panen. Ketika produksi pangan melonjak drastis seperti pasokan beras nasional yang sempat menyentuh rekor melimpah di atas 5 juta ton masalah baru akan muncul jika gudang penampungan tidak siap. Beras adalah komoditas yang mudah rusak, berakar, lembap, dan rawan diserang hama. Jika penyimpanan di gudang Perum Bulog gagal atau buruk, beras hasil kerja keras petani akan membusuk dan terbuang sia-sia.
Selanjutnya, keterbatasan kapasitas logistik. Saat panen raya sukses besar, gudang-gudang Perum Bulog sering kali penuh hingga luber (overcapacity). Hal ini memaksa pemerintah memperkuat infrastruktur pangan, mulai dari menyewa gudang swasta hingga membangun ratusan gudang baru. Jadi, “sukses penyimpanan” juga berarti kesiapan fasilitas logistik dalam menampung ledakan produksi tersebut.
Kemudian, menjaga stabilitas harga di tingkat petani. Bila produksi beras melimpah namun Bulog tidak mampu menyerap dan menyimpannya dengan baik, harga gabah di tingkat petani bisa anjlok drastis akibat hukum pasar (suplai terlalu banyak sedangkan penyerapan minim). Kemampuan gudang Bulog untuk menampung beras bertindak sebagai penyangga agar harga beras tetap stabil dan petani tidak merugi.
Lalu, menjamin ketahanan pangan Jangka Panjang. Produksi pangan itu bersifat musiman (ada waktu panen, ada waktu paceklik). Manajemen penyimpanan yang sukses memastikan bahwa beras yang diproduksi saat ini bisa bertahan lama (bahkan hingga 2 tahun dengan teknologi modern) untuk digunakan sebagai Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di masa depan atau disalurkan untuk bantuan sosial. Secara sederhana, menaikkan produksi beras barulah setengah jalan dari perjuangan pangan. Setengah jalan berikutnya yang menentukan adalah bagaimana merawat dan mengelola beras tersebut di dalam gudang agar sampai ke piring rakyat dalam kondisi yang baik.
Kondisi perberasan dan ketahanan pangan di Indonesia saat ini berada dalam posisi stok yang sangat kuat, bahkan mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, namun masih menghadapi tantangan pada sisi stabilitas harga konsumen. Gambaran kondisi riil di lapangan dibagi menjadi tiga aspek utama:
1. Sektor Hulu: Produksi Padi Meningkat Melimpah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional mencatat kenaikan signifikan hingga 34,69 juta ton. Potensi panen di awal tahun juga terus menunjukkan tren positif dibanding tahun-tahun sebelumnya. Walaupun terdapat tantangan fenomena kemarau El Nino di beberapa wilayah, perluasan area tanam dan program pompanisasi pemerintah membuat luas panen jauh lebih baik dibandingkan periode El Nino tahun 2023–2024.
2. Sektor Hilir: Stok Gudang Bulog Melimpah (Fenomena Nyata). Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola oleh Perum BULOG berada di kisaran 4,48 hingga 4,8 juta ton. Angka ini naik belasan persen dari tahun lalu dan menjadi salah satu stok tertinggi yang pernah dikelola negara. Selanjutnya, karena kapasitas total jaringan gudang mandiri Bulog secara nasional hanya sekitar 3 juta ton, Bulog harus menyewa sejumlah gudang tambahan pihak swasta/daerah di berbagai wilayah untuk menampung surplus beras sebanyak hampir 2 juta ton agar tidak telantar dan membusuk. Stok jumbo ini dipakai secara agresif untuk program Bantuan Pangan Beras ke puluhan juta keluarga penerima manfaat serta program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
3. Sektor Pasar: Kontradiksi Harga Beras yang Tetap Tinggi. Meskipun gudang Bulog penuh dan pasokan aman untuk jangka panjang, harga beras di tingkat konsumen akhir cenderung masih mahal dan berfluktuasi naik.Tingginya harga beras di pasar dipicu oleh mahalnya harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani yang menyentuh Rp6.800 – Rp7.600 per kg. Biaya produksi di penggilingan padi otomatis ikut naik, ditambah rantai pasokan hulu yang terkadang tersendat akibat kemarau di beberapa sentra wilayah.
Fenomena adanya beras turun mutu di gudang Bulog merupakan dampak langsung dari melimpahnya stok pangan nasional yang disimpan dalam jangka waktu lama. Istilah “turun mutu” dalam logistik pangan tidak selalu berarti busuk total, melainkan adanya penurunan grade (seperti perubahan warna, kadar air, aroma, atau munculnya kutu).
Sebagai contoh, pemerintah sempat mencatat sekitar 380.000 ton beras Bulog mengalami penurunan mutu dan akhirnya dilelang untuk industri bahan baku tepung. Ada beberapa faktor utama mengapa kondisi ini bisa terjadi: Pertama, durasi penyimpanan yang terlalu lama (Overstay). Beras adalah komoditas biologis yang memiliki batas usia kesegaran alami. Ketika disimpan di dalam karung biasa melebihi 4 hingga 6 bulan, kualitasnya secara otomatis akan menurun. Karena stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini sangat melimpah (mencapai rekor tertinggi historis), sebagian beras—terutama sisa pengadaan atau impor tahun-tahun sebelumnya—mengendap terlalu lama di gudang karena belum tersalurkan ke pasar.
Kedua, keterbatasan infrastruktur gudang. Belum semua jaringan gudang Bulog di daerah memiliki fasilitas modern seperti silo dengan teknologi kontrol suhu (cold storage) atau ventilasi standar khusus. Sebagian besar masih menggunakan gudang konvensional. Pada gudang biasa, faktor kelembapan udara yang tinggi, sirkulasi udara yang kurang baik, serta suhu panas di Indonesia sangat mempercepat telur kutu beras (Sitophilus oryzae) menetas dan merusak bulir beras.
Ketiga, masalah penyaluran (Turnover Stok yang Lambat). Beras di gudang Bulog hanya bisa keluar jika ada penugasan dari pemerintah, seperti untuk program Bantuan Pangan atau operasi pasar (SPHP). Jika program penyaluran tersebut mengalami kendala administrasi, perubahan skema bantuan, atau kalah bersaing dengan beras premium swasta di retail modern, maka beras di gudang akan tertahan dan telantar. Akibatnya, prinsip First In First Out (beras pertama masuk harus pertama keluar) tidak berjalan optimal.
Keempat, variasi kualitas gabah saat penyerapan awal. Untuk melindungi petani lokal, Bulog wajib menyerap gabah/beras hasil panen dalam negeri. Namun, tidak semua gabah yang dibeli memiliki kualitas standar premium yang seragam. Gabah hulu yang memiliki kadar air tinggi atau kurang kering sempurna saat digiling cenderung lebih cepat rusak, berjamur, dan rapuh ketika disimpan di dalam karung gudang logistik.
Catatan kritisnya, bagaimana Pemerintah mengatasinya? Untuk menekan kerugian negara, beras yang baru turun mutu ringan (Kategori A) akan diproses ulang (reprocessing atau disosok kembali) agar layak konsumsi. Sementara beras yang sudah lama mengendap dan tidak ideal dikonsumsi langsung akan dialihkan melalui skema lelang terbuka bagi industri non-pangan (seperti pabrik tepung beras atau pakan ternak). (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).
***
Judul: Sukses Peningkatan Produksi = Sukses Penyimpanan di Gudang Bulog
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












