Milangkala Pasundan Istri ke-96 hidupkan “Dasa Daya Waluya” untuk membentuk perempuan penyelamat bangsa

Penulis: Ambu Rita Laraswati

Milangkala Pasundan Istri

MajmusSunda News – Bandung, 4 Mei 2026, di Aula Mandala Saba, Gedung Paguyuban Pasundan, Jalan Sumatra No. 41, Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, dilaksanakan acara “Milangkala Pasundan Istri ke-96” yang mengusung tema “Pasundan Istri Ngaronjatkeun Ajen-Inajen Wanoja Sunda, Jeng Penceng Dina Galur, Tetep Pageuh Dina Puguh, Sangkan Leumpang Bisa Lempeng”. Arti dari tema di atas, “Perempuan Pasundan Istri menaikkan nilai-nilai perempuan Sunda, nilai keyakinan agar perempuan Pasundan dapat berjalan lurus”.

Tema yang sangat mendukung untuk memajukan perempuan dalam hal akhlak, etika, adab, dan adat perempuan dengan menghidupkan nilai-nilai perempuan Sunda yang pernah dilahirkan oleh perempuan Pasundan Istri di masa dahulu untuk digemakan kembali di zaman ini.

Milangkala Pasundan Istri
Ambu Rita Laraswati (Penulis)

Dalam perayaan Milangkala Pasundan Istri dihadiri oleh jajaran pengurus pusat, pengurus wilayah, dan anggota Pasundan Istri se-Jawa Barat. Dalam wawancara kepada Ketua Umum Pasundan Istri, Dr. Ir., Dra. Hj. Eni Sumarni, S.T., M.Kes., dan beliau juga mantan anggota DPD RI periode 2019–2024, mengatakan bahwa dalam Milangkala Pasundan Istri yang ke-96, anggota Pasundan Istri harus lebih memperbaiki diri dan menata lahir batinnya. Bunda Eni menyampaikan tema Milangkala ke-96 lebih pada visi misi membangun karakter baik pada perempuan dengan program yang mengangkat kembali ajaran leluhur Sunda, yaitu “Dasa Daya Waluya” yang dapat membentuk sehat lahir batin yang artinya “geulis parasna, mulya hatena, genah paripolahna” (cantik rupanya, baik hatinya, baik kelakuannya), dan harus sinkron serta selaras. Bunda Eni menyampaikan untuk membentuk karakter baik lahir batin itu harus menghidupkan ajaran Dasa Daya Waluya pada setiap diri manusia dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mendukung program Pasundan Istri, ajaran Dasa Daya Waluya akan dibuatkan buku dan diinformasikan melalui teknologi menggunakan media. Dasa Daya Waluya ini merupakan ajaran yang dapat mendukung kehidupan berbangsa menuju gemah ripah loh jinawi, imbuh Bunda Eni, karena Dasa Daya Waluya membentuk sikap mental untuk memperbaiki diri dan mengembalikan pribadi prima dan paripurna bagi kaum wanoja (perempuan). Bunda Eni menyampaikan bahwa program pada tahun ke-96 Pasundan Istri akan berjuang untuk memperjuangkan Ibu Emma Poeradirdja untuk menjadi pahlawan nasional.

Dalam komunikasi lewat WhatsApp, wanoja Pasundan Istri yang memiliki garis darah dari tokoh pengagas dan pendiri Pasundan Istri, yaitu Emma Poeradirdja, bisa disebut cucu, yaitu Teh Gita Gartina Poeradiredja sebagai Ketua Bidang Kebudayaan Pasundan Istri, menerangkan bahwa tema Milangkala Pasundan Istri ke-96 menitikberatkan pada “Panceng Dina Galur”, artinya kita perlu kembali mengenal “bebeneuran” (kebenaran) kita. Sedangkan kebenaran banyak arti sesuai dari pikiran setiap individu manusia. Kebenaran yang intinya dapat membangun kesadaran diri, terutama untuk perempuan, harus tahu fungsi diri sebagai perempuan dalam membangun kebenaran, karena dari “indung” (ibu), maka keluarga dan anak-anak akan lebih memahami kebenaran yang akan diajarkan kepada anak-anak dan keluarganya.

Dahulu kakek-nenek kami selalu berkata, “Jadi jalma kudu apal bebeuneran” (jadi orang harus tahu kebenaran). Kebenaran tidak pernah berubah karena merupakan ciptaan dari semesta dan siklus yang pasti sebagai hukum alam.

Perempuan harus memahami kebenaran yang meliputi kebijaksanaan dan keadilan, namun kebenaran ini sulit dilakukan jika kita belum paham pada galurnya kebenaran. Galur (jalur) kebenaran ini dapat kita pelajari melalui nilai-nilai yang diwariskan oleh karuhun (nenek moyang Sunda) berupa ajaran “Dasa Daya Waluya”, yaitu sepuluh kekuatan yang membawa kebaikan dan kebenaran, yaitu CAGEUR merupakan kekuatan sehat jasmani dan rohani, BAGEUR merupakan kekuatan berakhlak baik, BENER merupakan kekuatan berprinsip, PINTAR merupakan kekuatan berilmu, SINGER merupakan kekuatan keterampilan, JUJUR merupakan kekuatan berkarakter jujur tidak bohong, JUNUN merupakan kekuatan berdaya juang, AKUR merupakan kekuatan bersosialisasi di lingkungan, TEUNEUNG merupakan kekuatan semangat dan ulet, LUDEUNG merupakan kekuatan penuh keberanian.

Saya sendiri sebagai penulis, dalam pandangan spiritual, mengartikan bahwa “Dasa Daya Waluya” adalah sepuluh kekuatan yang harus dimiliki oleh setiap manusia agar terwujud kebahagiaan dan kebaikan selama hidup di dunia sampai akhir hayat. Artinya, kekuatan itu adalah energi semesta yang membawa kita pada kerahayuan sempurna dunia dan sempurna di akhirat kelak.

Sekapur sirih lahirnya Pasundan Istri yang diprakarsai oleh Ibu Emma Poeradirdja, Ibu Kasomi Atmadinata, Ibu Neno Ratnawinadi Mantikoradja, Ibu Haningsih Marah Djani, Ibu Outari Satdjadijaja, Ibu Roemsari, Ibu Halimah Poerwana, Ibu Ipah Ali Ratman, Ibu Sasihwulan Djoendjoenan merupakan pendiri dan lahirnya Pasundan Istri tahun 1931 yang diketuai oleh Ibu Emma Poeradirdja dan sekretaris Ibu Ema Soemanagara, bendahara Ibu Oetari Satdjadidjaja.

Dalam catatan sejarah, Pasundan Istri berdiri bulan April 1930. Kiprah dalam perjalanan berorganisasi, Pasundan Istri aktif dalam pergerakan nasional seperti menghadiri Musyawarah Wanita Indonesia di Yogyakarta (Agustus 1949) dan menginisiasi musyawarah organisasi, pendirian cabang-cabang koperasi, Kongres ke-13 di Jakarta menghasilkan kepengurusan perempuan, di mana pendiri menjadi dewan rengrengan sesepuh, Pasundan Istri mendirikan Yayasan Beribu dengan bantuan dari 10 organisasi wanita lainnya, memperjuangkan dan membebaskan orang-orang Sunda baik sipil maupun militer demi persatuan dan kesatuan bangsa melalui pengiriman telegram kepada PM Ir. Djuanda, dan masih banyak lagi kiprah-kiprah positif yang dicapai oleh Pasundan Istri yang jejak perjuangan mereka dapat menjadi dasar melanjutkan perjuangan Pasundan Istri.

Dalam Milangkala Pasundan Istri dihadirkan juga pameran berbentuk panel-panel materi sejarah perjalanan Pasundan Istri yang merupakan hasil riset dari museum kecil dan Yayasan Budaya Sunda Buhun yang akan merevitalisasi kelanjutan program nilai-nilai dari warisan pusaka leluhur “Dasa Daya Waluya”.

Jelang satu abad 1930–2030, Pasundan Istri dalam kepengurusan yang diketuai oleh Dr. Ir., Dra. Hj. Eni Sumarni, S.T., M.Kes. periode 2025–2030 yang mengusung program sosialisasi dan edukasi “Dasa Daya Waluya” (10 ajaran Pasundan Istri).

Selamat ulang tahun Pasundan Istri yang ke-96, bangunkan jiwa raga perempuan Jawa Barat dan semua perempuan Indonesia dengan pusaka warisan leluhur Sunda “Dasa Daya Waluya” sebagai rumus untuk mencapai perempuan-perempuan yang memiliki sifat welasasih yang berlaku pada kebijaksanaan dan keadilan, kebenaran dan kebaikan, membawa keluarga, generasi ke depan perempuan Sunda dan perempuan Indonesia menjadi manusia unggul dalam menata diri, menata keluarga, dan menata bangsa. Dengan semangat “Siliwangi”, sifat yang lahir dari kasih Ilahi sejati dan tetap pada jalur kebenaran yang sejatinya benar agar kuat dan jelas dalam melangkah menata hidup dan tetap dalam jalur yang lurus. Pasundan Istri menyebarkan wewangi dan mewangikan dirinya dan semua makhluk di bumi.

“Pasundan Istri kudu luhung pangarti, make seungitna tali karuhun, urang terah Siliwangi, silih deudeuh silih asih. Pasundan Istri sing jadi pelita nu nyaangan kasakabeh wanoja Nusantara ulah rek ngabeda-beda, junjungkeun bebeuneran jeung nguatkeun keadilan sejati jeung penyelamat bangsa.”

Judul: Milangkala Pasundan Istri ke-96 hidupkan “Dasa Daya Waluya” untuk membentuk perempuan penyelamat bangsa
Penulis: Ambu Rita Laraswati (Budayawati, seniwati, spiritual, redaktur Majalah Jakarta, Ketua Yayasan Sunda13Buhun)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *