MajmusSunda News, Senin (04/05/2026) – Artikel berjudul “Jalan Kejayaan” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Berapa lama waktu yang dibutuhkan suatu entitas politik untuk bertransformasi dari negara tunadaya menjadi adidaya? Menurut Ray Dalio, dalam Principles for Dealing with the Changing World Order, daur hidup sebuah kekuatan besar dari fase formasi hingga puncak kejayaan yang sekaligus menandai awal kemundurannya rata-rata berlangsung sekitar 250 tahun.

Amerika Serikat memberi contoh klasik. Setelah merdeka pada 1776, negara itu masih harus menempuh hampir satu abad pergulatan integrasi nasional yang memuncak dalam Perang Sipil. Baru pada abad berikutnya AS tampil sbg kekuatan adidaya dunia.
Namun, China menghadirkan pola baru. Dengan memanfaatkan globalisasi dan teknologi yang mempercepat alih pengetahuan antarbangsa, China mampu menyingkat lintasan sejarah itu dan meraih status adidaya hanya dalam beberapa dasawarsa.
Dalam perbandingan itu, capaian Indonesia tidaklah buruk. Sebagai negara kepulauan terbesar dengan keragaman sosial, budaya, dan geografis yg tinggi, Indonesia berhasil membangun integrasi nasional tanpa perang sipil yang menghancurkan. Namun, jika dibandingkan dgn RRT yang berdiri pada 1949, laju kemajuan Indonesia kurang menggembirakan.
Untuk melangkah menjadi negara maju, Indonesia memerlukan kepemimpinan kuat dan cakap dengan fokus utama pada pembangunan kualitas manusia. Pendidikan menjadi kunci strategis bukan hanya untuk membekali pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga membentuk karakter, keadaban, dan etos kerja.
Sejarah menunjukkan bahwa kemakmuran bangsa lahir dari sistem yang memungkinkan manusia terdidik bekerja sama secara damai, melahirkan inovasi, mengakses modal, dan mentransformasikan gagasan menjadi produksi bernilai tambah. Sistem semacam itu hanya tumbuh dlm negara yg sehat secara ekonomi dan kelembagaan, ditopang oleh kepemimpinan kapabel dan warga sipil yang terkelola baik.
Pada akhirnya, produktivitas manusia merupakan sumber utama kekayaan, kekuasaan, dan standar hidup bangsa yang ditentukan oleh mutu pendidikan, daya cipta, etika kerja, dan sistem ekonomi yg mampu mengubah ide menjadi karya. Di sanalah letak formula kejayaan, sekaligus rujukan strategis bagi Indonesia untuk menapaki jalan menuju kejayaan.
***
Judul: Jalan Kejayaan
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












