MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Kamis (30/04/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “”Lumbung Pangan” dan “Dapur Pangan” Dunia” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
53 tahun Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) berkiprah di Tanah Merdeka, rupanya masih belum mampu menjadikan petani untuk hidup sejahtera. Sebagai organisasi petani, yang tujuan utamanya melakukan pembelaan dan perlindungan terhadap petani, terekam belum dapat terwujud. Kaum tani tetap hidup menderita dan terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan yang tak berujung pangkal.
Dalam memperingati hari ulang tahun HKTI yang ke 53 tahun, DPN HKTI mrnyelenggaran Sarasehan soal Meretas Jalan Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia. Tema Lumbung Pangab Dunia ini, betul-betul sangat menarik. Sebab, negara tetangga kita, Vietnam sendiri telah memproklamirkan diri menjadi Dapur Pangan Dunia. Indonesis dan Vietnam tampak berpacu untuk menjadi Lumbung dan Dapur Pangan Dunia.

Lumbung pangan dunia artinya negara atau wilayah yang jadi penyedia utama bahan pangan untuk dunia.
Kata “lumbung” = tempat menyimpan padi/beras dalam jumlah besar. Jadi istilahnya dipakai buat negara yang:
Pertama, produksi pangannya melimpah seperti beras, gandum, jagung, dll dalam jumlah raksasa.
Kedua, jadi pengekspor utama. Surplusnya dikirim ke banyak negara lain.
Ketiga, punya cadangan strategis dalam arti bisa menstabilkan pasokan pangan global kalau ada krisis
Contoh negara yang sering disebut lumbung pangan dunia diantaranya :
– India dan China disebut lumbung beras dunia.
– Ukraina dan Rusia disebut lumbung gandum dunia
– Brasil dan AS disebutlumbung jagung dan kedelai dunia.
Indonesia sendiri punya cita-cita jadi lumbung pangan dunia, terutama lewat program food estate di Kalimantan, Papua, dan Sumatra. Tujuannya biar kita gak cuma cukup untuk dalam negeri, tapi juga bisa ekspor besar-besaran.
Di sisi lain, dapur pangan dunia artinya negara atau wilayah yang jadi pusat pengolahan, inovasi, dan pengembangan makanan untuk dunia. Kalau “lumbung pangan” fokus ke bahan mentah yang melimpah, maka “dapur pangan” fokus ke produk jadinya.
Ciri-ciri dapur pangan dunia adalah :
1. Jago mengolah bahan mentah dari beras jadi mie instan, dari kakao jadi cokelat premium, dari kelapa jadi VCO.
2. Punya industri makanan-minuman kuat seperti banyak pabrik, brand global, dan ekspor produk olahan
3. Pusat inovasi pangan seperti membuat tren makanan baru, teknologi pangan, resep yang mendunia.
4. Kulinernya berpengaruh. Masakan dari negara itu dikenal dan disukai di banyak negara.
Contoh negara yang disebut dapur pangan dunia :
– Thailand dapur pangan Asia, jago ekspor makanan olahan & bumbu.
– Italia dapur pangan Eropa, pusat pasta, keju, pizza yang mendunia.
– AS banyak brand makanan global & teknologi pangan.
Sekarang ini, Vietnam memang lagi gencar nge-branding diri jadi “Kitchen of the World” atau Dapur Pangan Dunia.
Berbagai hal yang sudah dilakukan Vietnam:
Pertama, target pemerintahnya, sejak 2022, Vietnam resmi mencanangkan visi jadi dapur pangan dunia lewat strategi pengembangan industri makanan olahan. Mereka gak mau cuma jual beras mentah doang. Kedua, fokus ekspor produk olahan. Vietnam sekarang raja ekspor mie instan, kopi olahan, seafood beku, saus ikan, buah kaleng. Nilai ekspor makanan olahannya udah tembus $20+ miliar/tahun.
Ketiga branding kuliner. Pho, banh mi, spring roll Vietnam dipromosikan habis-habisan biar mendunia. Mereka juga sering ikut pameran pangan internasional pakai tagline “Kitchen of the World”. Keempat, investasi R dan D pangan. Pemerintah Vietnam dorong inovasi foodtech, kemasan, dan sertifikasi internasional biar produknya masuk pasar Eropa-AS.
Pertanyaannya, mengapa Vietnam sangat percaya diri jadi Dapur Pangan Dunia ? Sebab, mereka sudah sukses jadi lumbung pangan, terutama beras dan kopi. Sekarang naik kelas: dari jual bahan mentah ke jual produk jadi yang nilai tambahnya lebih tinggi.
Kalau boleh jujur, Tanah Merdeka ini, sebenarnya punya modal lebih besar dari Vietnam. Rempah, CPO, kakao, kopi, perikanan kita jauh lebih beragam. Tapi Vietnam gerak lebih cepat di industri hilir & branding. Jadi kalau “lumbung pangan” itu rebutan volume, “dapur pangan” itu rebutan nilai tambah dan pengaruh budaya.
Indonesia masih lebih sering ngomong “lumbung pangan” daripada “dapur pangan”. Sebetulnya, ada 4 alasan utamanya: Mulai dari mindset ketahanan dulu, baru nilai tambah. Pemerintah masih trauma krisis beras 1998 & 2008. Fokusnya: “pastikan 280 juta orang kenyang dulu”. Jadi program food estate, cetak sawah, ekstensifikasi lahan dikebut. Urusan hilir/olahan dianggap belakangan. Vietnam udah surplus beras sejak lama, jadi mereka bisa langsung lompat ke tahap “jual mie, bukan jual beras”.
Selanjutnya, struktur industri kita masih jual bahan mentah.
– CPO. Indonesia eksportir nomor 1 dunia, tapi 70%+ masih bentuk CPO mentah. Yang jadi margarin, kosmetik, biodiesel diolah di Malaysia/Eropa.
– Kakao. Produksi top 3 dunia, tapi biji kakaonya dikirim ke Belgia/Swiss. Yang jadi cokelat premium bukan kita.
– Kopi. Biji dijual murah, yang nge-roasting & nge-brand Starbucks/Nespresso.
Rantai nilai tambah paling gede justru dinikmati negara lain.
Kemudian, masalah di hilirisasi. Mau jadi dapur pangan butuh 3 hal yang kita masih lemah:
– Teknologi & R dan D pangan. Pabrik kita banyak, tapi inovasi produk & kemasan kalah sama Thailand/Vietnam
– Standar dan sertifikasi. Susah tembus pasar EU/AS karena standar keamanan pangan, halal, traceability belum rapi
– Branding. Rendang sudah dinobatkan makanan terenak, tapi yang jual rendang kalengan ke dunia siapa? Masih dikit.
Lalu, politik anggaran dan ego sektoral. Dana paling gampang cair kalau judulnya “cetak sawah” atau “bagi pupuk”. Kelihatan fisik, gampang diresmikan. Kalau “bangun foodtech center” atau “subsidi sertifikasi UMKM pangan” hasilnya 5-10 tahun baru kelihatan. Tidak seksi buat politisi.
Semoga jadi bahan pencermatan bersama. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).
***
Judul: “Lumbung Pangan” dan “Dapur Pangan” Dunia
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












