MajmusSunda News, Minggu (26/04/2026) – Artikel berjudul “Ki Hadjar Taman Siswa” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, sungguh berbahagia saya diundang berbagi pikiran tentang politik pendidikan dalam puncak Hari Bakti Perguruan Taman Siswa tahun 2006.
Kaitan antara politik (perjuangan) kemerdekaan dan pendidikan (belajar) merdeka merupakan dasar ontologis Perguruan ini.

Sebelum Soewardi mendirikan Taman Siswa, pada 1921 ia bergabung terlebih dahulu dengan kelompok diskusi para politisi bangsawan dan rohaniawan: Paguyuban Selasa Kliwon. Paguyuban yang dibentuk atas saran dua pangeran, Ki Ageng Suryomataram dan R.M. Sutatmo Suryokusumo, ini mengajak para pemimpin politik dan spiritual yang “berjiwa revolusioner” untuk membahas reorientasi cita-cita politik sesuai dengan kepribadian bangsa.
Sedini tahun 1919, paguyuban ini telah mendiskusikan demokrasi seperti apa yang pantas dijalankan. Mewakili pandangan paguyuban ini, Sutatmo menolak gagasan demokrasi Barat yang menekankan suara terbanyak. Menurutnya, dalam demokrasi Barat suara mayoritas yang menentukan apa yang benar, bukan ketentuan “kebaikan” dan “keadilan”. Ia menegaskan pendiriannya dalam majalah Weder-Opbuow: “Keindahan yang membatasi kekuasaan/Kekuasaan yang memuja cinta kasih/Kebijaksanaan yang membawa keadilan.”
Sutatmo juga menekankan pentingnya pelaksanaan demokrasi yang bersifat kekeluargaan di bawah kepemimpinan arif-bijaksana: bahwa “orang-orang yang bijak hendaknya menjadi pemimpin negara dan harus dipilih oleh orang-orang bijak pula”. Dan, pemimpin bijaksana ini hendaknya bertanggung jawab kepada orang dalam kerangka garis lingkaran yang konsentris: manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial punya kewajiban kepada individu lain, negara dan kemanusiaan secara umum. Pemahaman itu tertuang dalam semboyan paguyuban: “mangaju-aju salira, mangaju-aju bangsa, mangaju-aju manungsa” (membahagiakan diri, membahagiakan bangsa, membahagiakan manusia).
Dari serangkaian diskusi, muncullah kesepakatan perlunya menumbuhkan semangat kemerdekaan dalam jiwa anak-anak muda melalui sistem pendidikan yang benar-benar “nasional” secara kebudayaan dan pendidikan. Lahirlah Perguruan Taman Siswa (1922) sebagai wahana belajar menjadi manusia merdeka
***
Judul: Ki Hadjar Taman Siswa
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












