MajmusSunda News – Bandung, Minggu (15/03/2026) – Galih Pakuan Butuh Regenerasi. Organisasi seni tari Galih Pakuan (GP) merupakan wadah para Maestro Tari Sunda. Di dalamnya terdapat nama-nama seperti Indrawati Lukman (Studio Tari Sunda/STI), Irawati Durban (Pusbit Tari), Aim Salim (Setia Luyu), Yeti Mamat (Kandaga), Risyani, S.ST., M.Sen., Yuli Sunarya, hingga generasi muda seperti Drs. Dida Margana dan Nyi Rd. Nina Lydia, M.Sen., dari Natya Dance Community (NDC), dan lain-lain.
Galih Pakuan Butuh Regenerasi di Tengah Sepuhnya Para Maestro
Tapi belakangan para Maestro yang berusia 70 tahun ke atas tersebut satu per satu meninggalkan dunia fana seperti Irawati Durban dan Aim Salim. Tinggal Indrawati Lukman (82) yang masih aktif mengajar di usianya yang sudah senja.
Riwayat Galih Pakuwon, sebagaimana yang pernah dijelaskan kepada wartawan oleh Aim Salim (Alm.), Irawati Durban (Almh.), Yati Mamat, Yuli Sunarya, dan Ahmad Zakaria (Wakil Ketua GP), lahir ketika Aang Kunaefi menjadi Gubernur Jawa Barat. Ketika itu Pa Aang yang menjabat Gubernur Jawa Barat tahun 1975–1985, pada tahun 1979 ingin memiliki tim kesenian Sunda yang khusus untuk menyambut para tamu negara, utamanya yang berkunjung ke Jawa Barat, termasuk ke Istana Bogor. Kemudian beliau memanggil Enoch Atmadibrata, tokoh tari yang juga menjabat Kepala Pembinaan Kebudayaan Jawa Barat. Seterusnya berembuk bersama para inohong seni-budaya Sunda, termasuk Nugraha Soediredja, Indrawati Lukman, Irawati Durban, dan seniman lainnya yang ahli pencak silat, dogdog lojor, angklung buncis, dsb., lalu semua kesenian itu dirangkum menjadi satu protokoler untuk menyambut tamu negara dengan konsep kesenian bernama Tari Puragabaya berupa helaran/arak-arakan kesenian, seterusnya ketika dipergelarkan di panggung bernama Narantika Rarangganis.
Tarian maskot Jawa Barat ini selain sering manggung di istana juga pernah magelaran menyambut tamu dari mancanegara dalam perayaan ulang tahun Konferensi Asia-Afrika ke-30 di Gedung Merdeka Bandung, yang ketika itu dihadiri Presiden Soeharto.

Tapi belakangan para Maestro yang berusia 70–80 tahun ke atas tersebut satu per satu meninggalkan dunia fana seperti Irawati Durban dan Aim Salim. Tinggal Indrawati Lukman (82) yang masih aktif mengajar di usianya yang sudah senja.
“Memang GP ini sebenarnya terdiri dari para penari yang berusia lanjut, sudah sepuh, tapi semangatnya 45 dan mereka menarinya masih bagus. Nah, karena kita memang tiap tahun bertambah usia, kita memerlukan generasi penerus. Dan generasi penerus itu tidak akan datang sendiri kalau tidak diajak oleh GP ini. Oleh karena itu saya imbau agar dari sanggar yang tergabung di GP ini supaya menyertakan anggota-anggotanya masuk ke dalam GP, supaya ada generasi penerus,” demikian dikatakan Indrawati Lukman kepada wartawan, belum lama ini di Bandung.
Penasihat Galih Pakuan ini juga berharap agar pemerintah terkait ikut mendukung usaha pelestarian seni Sunda yang adiluhung peninggalan leluhur ini.
“Dukungan pemerintah sangat perlu. Kami tidak punya modal untuk membuat sebuah pertunjukan atau apa. Dan untuk mencari sponsor saat ini tidak semudah yang dipikirkan, jadi untuk membuat pertunjukan yang besar itu perlu biaya, dana pendukung yang tidak sedikit. Jadi perlu dukungan dari pemerintah daerah dan pemerintah provinsi. Jadi ketika kita mengajukan proposal, mendapat perhatian,” tegasnya.
Ya, memang Galih Pakuan pada bulan November tahun ini berencana mengadakan pagelaran lagi untuk mengenalkan tari Sunda kepada generasi muda yang diharapkan akan menjadi generasi penerusnya. Sekarang sedang mempersiapkan proposal untuk diajukan kepada dinas terkait agar mendapat dukungan dan bantuan yang diperlukan.
Hal tersebut juga dibenarkan Ketua Umum Galih Pakuan (Periode 2024–2026), Risyani, S.ST., M.Sen. (75), ketika bertemu wartawan dalam acara Milangkala GP dan Halal Bihalal di Gedung Pusat Kesenian (GPK), Jalan Naripan No. 7, Kota Bandung (9/4/2026).
Malah, kata dosen Tari ISBI Bandung ini, proposal sudah sampai ke BPK (Balai Pelestarian Kebudayaan), evaluasi tanggal 6 November. “Semoga saja lolos,” harapnya.
Selain itu, Risyani juga akan bekerja sama dengan ISBI Bandung dan DPRD Jabar, Pemkot (Wali Kota), Kadisparbud Jabar dan Kadisbudpar Kota Bandung, juga Paguyuban Pasundan.
Pada pagelaran tahun ini GP akan menyuguhkan tarian karya Maestro Indrawati Lukman dan karya Nantia Dance Community. Risyani juga berharap Sanggar Kang Rahmat dari Ciamis bisa menyemarakkan acara yang diinisiasi GP ini.
“Mari kita merawat budaya dan menjaga keberlanjutannya. Tradisi tak boleh mati, tapi harus ada inovasi agar disukai generasi nanti,” tandasnya.

Hal regenerasi ini dirasakan sangat penting oleh Dida Margana, karena para Maestro sudah pada sepuh. Oleh karena itu, harus ada generasi muda yang masih segar untuk meneruskan GP ini,” ujarnya.
Tapi alhamdulillah, kata Dida, di Gedung Pusat Kebudayaan Jalan Naripan sekarang sudah mulai lagi digiatkan pelatihan-pelatihan tari, seperti Studio Tari Indra (tiap Senin, pukul 15.00–17.00) dan dari Nantia Dance. Selain itu, Pusbit Tari selepas ditinggal pendirinya (Irawati Durban—Almh.) kini dilanjutkan Bu Wiwin masih di tempat yang sama di Museum Sri Baduga (Jalan BKR No. 185, Kota Bandung). Demikian juga Sanggar Tari Setia Luyu selepas ditinggal Pa Aim Salim kini digantikan putrinya Bu Riyan, membuka latihan di tempat yang sama di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Baranang Siang No. 1, Kota Bandung, juga Yeti Mamat (Sanggar Tari Kandaga) di GGM.
Jadi, kata Dida, pihak GP siap ngamumule (melestarikan) Tari Sunda dengan potensi yang ada, tapi dia juga berharap pihak pemerintah, instansi terkait, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ikut mendukung kegiatan Galih Pakuan.

Hal senada juga dikatakan Yuli Sunarya (69), Ketua GP 2019–2023. Insyaallah, katanya, GP dengan segala kemampuan berusaha keras untuk terus melestarikan dan mewariskan Tari Sunda. Seperti yang dilakukan pada masa kepemimpinan Asep Yusuf (Ketua Umum GP pertama, Alm.), dengan mengadakan kunjungan ke sekolah-sekolah mengenalkan tari klasik, juga pada masa kepemimpinannya yang walau tersendat pandemi, telah berhasil membuat legalitas GP dan berusaha membuat pelatihan-pelatihan untuk siswa SMP dan SMA di YPK serta pagelaran di Taman Love Balkot Bandung (2019), Mayang Sunda, dan pagelaran virtual 2020.
Dan alhamdulillah semua ini akan berlanjut, GP tidak lama lagi akan mengadakan kunjungan ke dinas-dinas terkait. “GP akan bersilaturahmi, ngawanohkeun utamanya ke Diknas. Sekalian usul supaya merekomendasikan ke sekolah-sekolah bahwa di GPK ada pelatihan Tari Klasik yang dikelola Galih Pakuan (GP). Nah, kepala sekolah juga nantinya merekomendasikan ke guru seninya agar membawa murid-muridnya ke Gedung Pusat Kebudayaan Jalan Naripan. Semoga dengan demikian program GP ke depannya lebih meningkat dan banyak yang mau belajar, melestarikan Tari Klasik Sunda, biar ada regenerasi,” pungkasnya.
Judul: Galih Pakuan Butuh Regenerasi Pelestari Tari Sunda & Dukungan Pemerintah
Jurnalis: AGP
Editor: Parkah












