Menghidupkan Pahlawan

Oleh: Prof. Yudi Latif

MajmusSunda News, Rabu (22/04/2026)  Artikel berjudul “Menghidupkan Pahlawan” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, kepahlawanan bukan sesuatu yang jauh, bukan bayang-bayang masa silam yang dikenang dari kejauhan bukan pertanda kesilaman dan kematian. Ia hidup atau seharusnya hidup di dalam diri kita, di sini, saat ini. Bukan penantian akan hadirnya juru selamat, melainkan keberanian kecil yang terus kita pilih, kejujuran yang kita rawat, kesediaan berdiri tegak meski tanpa sorak.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Namun kita kerap kehilangan arah. Kita diajari atau membiarkan diri percaya bahwa pahlawan datang dari luar diri, muncul saat genting untuk menyelamatkan. Maka kita pun menunggu. Dalam penantian itu, krisis dibiarkan berlarut, karena tanggung jawab kita tangguhkan pada sosok yang tak kunjung hadir.

Di saat yang sama, ruang publik dipenuhi kegaduhan yang menyesatkan. Di era media sosial, algoritma menentukan siapa yang terlihat dan lenyap. Sensasi dipelihara karena mendatangkan perhatian, sementara keteladanan berjalan sunyi, nyaris tanpa pengakuan. Yang bising diberi panggung, yang bernilai kerap tersisih seolah kita lebih terpikat gemuruh daripada merawat yang tumbuh perlahan.

Padahal, seperti diingatkan oleh Jalaluddin Rumi: “Benih tumbuh dalam kesenyapan, sedangkan pohon tumbang jatuh dengan gemuruh. Destruksi itu penuh kebisingan, sementara kreasi berlangsung dalam keheningan.”

Di sanalah kita diuji: akan terus larut dalam riuh, atau belajar mendengar yang hening? Jika kita menghendaki tumbuhnya keteladanan, kita harus mengubah arus memberi tempat bagi yang sunyi untuk terlihat, menghargai yang bekerja tanpa riuh, dan mengarusutamakan kisah kepahlawanan di sekitar kita.

Karena bangsa ini tidak kekurangan pahlawan ia hanya kekurangan cara mengenali dan menghidupkannya. Seperti tergambar dalam dialog antara Andrea dan Galileo dalam drama Bertolt Brecht: Andrea berkata, “Negeri murung yang tak punya pahlawan.” Galileo menukas, “Bukan. Negeri murung yang memerlukan pahlawan.”

Bukan tak ada pahlawan, melainkan masih terbenam dalam diri dan gemuruh kerumunan. Maka pahlawan tak perlu dinanti. Ia perlu dihidupkan dalam diri setiap jiwa, dalam tindakan sehari-hari, dan dalam keberanian menghadirkan kebaikan di ruang publik,

***

Judul: Menghidupkan Pahlawan
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *