Titik Kosong

oleh: Prof. Yudi Latif

MajmusSunda News, Minggu (19/04/2026) Artikel berjudul “Titik Kosong” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, sehari pasca lebaran. Senyap menggerayangi pori-pori. Kicau burung menyisakan suara alam yang nyaring terdengar.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Di bawah iringan nyanyian semesta, kukhidmati jeda yang hening merapikan rumah sendiri, tanpa hiruk tangan-tangan yang biasa membantu. Ada khidmat dalam kesederhanaan, ada makna dalam kembali mengurus yang dekat.

Semua kembali ke titik kosong. Titik perjumpaan masa lalu dan masa depan dalam aliran darah masa kini. Masa kita menyusun ulang sejarah tanpa silam dendam, tanpa depan prasangka. Masa manusia mulai mengenali semesta dengan mengeja alfa, alif.

Aku ingin mulai melukis sejarah baru dengan melancong, merapatkan simpul keluarga dengan petualangan bersama; mengenali kedirian dari dunia seberang. Namun, tubuh yang rapuh membatasi langkah dan arah, menjadikan perjalanan itu sekadar lanskap yang hidup dalam angan.

Betapapun, masih terbayang sisi gelap dalam jendela johari (Johari Window). Di sana ada sisi diri yang asing bagi diri sendiri kita bisa tak sungguh mengenal diri, bisa terlampau memuji, atau justru mengutuknya. Melintasi batas diri, menyapa dunia dan sudut pandang yang berbeda, adalah cara merengkuh kepingan-kepingan yang belum utuh kita pahami.

Kita harus bertebaran di muka bumi, mengenali keragaman-perbedaan peradaban. Dengan mensyukuri karunia milik kita, dan belajar kelebihan pihak lain, kita bisa saling mengarifkan, saling menyempurnakan. Merayakan kehidupan bersama dengan pukau misteri, gairah perjumpaan, dan debar harapan.

Maka rasakanlah: setiap detik yang mengalir, setiap detak yang berdenyut karena di sanalah kehidupan senantiasa lahir kembali.

***

Judul: Titik Kosong
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *