MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Jum’at (03/04/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Indonesia : Rujukan Dunia di Sektor Pangan” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan bahwa Indonesia saat ini menjadi rujukan dunia di sektor pangan. Lebih lanjut Mentan Amran Indonesia bahkan menerima penghargaan internasional di bidang pangan lantaran sukses berswasembada. Banyak negara datang belajar ke Indonesia, mulai dari Jepang, Kanada, hingga Belarus. Ini bukti bahwa kita berada di jalur yang benar menuju swasembada pangan.
Namun demikian, Mentan Amran mengingatkan krisis pangan merupakan ancaman nyata yang dapat menggoyahkan stabilitas negara. Hal ini penting dicermati, mengingat krisis pangan adalah situasi di mana kebutuhan pangan masyarakat tidak terpenuhi, sehingga menyebabkan kekurangan gizi, kelaparan, atau bahkan kematian. Ini bisa disebabkan oleh faktor-faktor seperti bencana alam, perang, krisis ekonomi, atau perubahan iklim.

Indonesia jadi rujukan dunia di sektor pangan karena beberapa alasan kuat. Pertama, Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan, yang menarik perhatian internasional. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyebutkan bahwa negara-negara maju seperti Jepang, Kanada, dan Belarus datang belajar ke Indonesia untuk mempelajari strategi ketahanan pangan.
Selain itu, perlu juga disampaikan, kehadiran dan keberadaan Indonesia cukup dominan di pasar minyak kelapa sawit (CPO) global, sehingga menjadikannya sebagai pemain utama dalam industri tersebut. Hal seperti ini lumrah terjadi, sekaligus menunjukkan kemampuan Indonesia memimpin di sektor pangan dan agribisnis tingkat dunia.
Program hilirisasi komoditas unggulan juga menjadi kunci keberhasilan Indonesia. Misalnya, potensi nilai ekonomi kelapa dan gambir diproyeksikan mencapai Rp5.000 triliun. Ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk memperkuat kedaulatan pangan dan ekonomi nasional. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, tapi juga menjadi contoh bagi negara lain dalam mengelola sektor pangan.
Dari seķian banyak prestasi yang diraih, pencapaian swasembada beras 2025, dinilai sebagai karya nyata Pemerintahan Presiden Prabowo yang cukup membanggakan. Swasembada beras adalah upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi beras dalam negeri sehingga tidak perlu lagi mengimpor beras dari luar negeri.
Pencapaian swasembada beras di tahun 2025 mungkin mendapat banyak pujian karena beberapa alasan :
Pertama, peningkatan produksi beras. Swasembada beras menunjukkan bahwa produksi beras dalam negeri telah meningkat signifikan, sehingga dapat memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.
Kedua, kemampuan mandiri. Swasembada beras juga menunjukkan bahwa Indonesia telah mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, tanpa bergantung pada impor dari luar negeri.
Ketiga, peningkatan kesejahteraan petani. Swasembada beras juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani, karena mereka dapat menjual hasil panennya dengan harga yang lebih baik.
Hanya, perlu diingat bahwa pencapaian swasembada beras juga memerlukan upaya berkelanjutan untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi beras, serta meningkatkan kesejahteraan petani. Itu sebabnya, salah satu “pe-er” penting yang harus mendapat perhatian serius adalah bagaimana kemamuan kita dalam mewujudkan swasembada beras yang berkelanjutan.
Cara pandang seperti ini, memang dapat dipahami secara akal sehat. Pencapaian swasembada beras dinilai sebagai salah satu kata kunci perwujudan swasembada pangan karena beberapa alasan. Paling tidak, ada empat alasan utama mengapa banyak pihak yang berpandangan, tanpa tercapainya swasembada beras tidak akan pernah terwujud yang namanya swaseembada pangan.
Keempat alasan tersebut adalah :
1.Beras sebagai makanan pokok. Beras adalah makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, sehingga ketersediaannya sangat penting untuk memenuhi kebutuhan pangan.
2. Konsumsi beras yang tinggi. Konsumsi beras di Indonesia sangat tinggi, sehingga produksi beras yang cukup menjadi indikator penting untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
3. Pengaruh terhadap inflasi. Harga beras memiliki pengaruh besar terhadap inflasi, sehingga stabilitas harga beras sangat penting untuk menjaga kestabilan ekonomi.
4. Indikator ketahanan pangan. Swasembada beras dapat menjadi indikator ketahanan pangan suatu negara, karena menunjukkan kemampuan negara untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya.
Atas hal demikian, dapat ditegaskan swasembada beras dianggap sebagai langkah penting menuju swasembada pangan, karena dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dan meningkatkan ketahanan pangan negara. Tinggal tugas Pemerintah ke depan, bagaimana langkah cerdas untuk melestarikan swasbada beras yang telah kita raih.
Pemerintah sendiri, sebetulnya telah melakukan beberapa terobosan cerdas untuk mewujudkan swasembada beras berkelanjutan. Beberapa di antaranya adalah peningkatan produksi. Pemerintah meningkatkan produksi beras nasional melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian, seperti penggunaan benih unggul, pompanisasi, optimasi lahan, irigasi, dan modernisasi pertanian.
Selanjutnya, penyerapan gabah petani. Perum Bulog ditugaskan membeli gabah langsung dari petani dengan harga Rp6.500 per kilogram, meningkatkan pendapatan petani dan mendorong produksi. Kemudian, penyaluran pupuk bersubsidi. Pemerintah menyederhanakan regulasi dan menurunkan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sebesar 20 persen, membuat pupuk lebih terjangkau bagi petani.
Lalu, cetak sawah baru. Pemerintah mempercepat cetak sawah baru untuk meningkatkan luas tanam padi. Terakhir, teknologi dan inovasi. Pemerintah memanfaatkan teknologi dan inovasi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian.
Dengan upaya-upaya tersebut, Indonesia berhasil mencapai swasembada beras pada tahun 2025, bahkan tidak melakukan impor beras sama sekali. Ini merupakan prestasi besar dalam sejarah ketahanan pangan nasional. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).
***
Judul: Indonesia : Rujukan Dunia di Sektor Pangan
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












