MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Sabtu (12/06/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Sekali Swasembada Beras, Selamanya Swasembada Beras” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Jujur kita akui, berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), kondisi swasembada beras di Indonesia saat ini menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang signifikan. Di sisi lain, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, melapirkan stok beras nasional telah mencapai lebih dari 4 juta ton, yang merupakan angka tertinggi dalam 57 tahun terakhir.

Hal ini menjadi semakin menarik untuk dicermati, karena Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan target swasembada beras tanpa impor, harus bisa dicapai pada tahun ini, dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman sendiri optimis bahwa target ini dapat tercapai lebih cepat dari rencana awal yang menargetkan swasembada dalam empat tahun.
Selain itu, Pemerintah juga telah menjalankan berbagai strategi untuk meningkatkan produksi beras dalam negeri, seperti peningkatan produksi dan produktivitas tanaman padi. Buktinya, produksi beras pada kuartal I tahun 2025 telah meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini betul-betul merupakan prestasi yang cukup membanggakan.
Selanjutnya, dalam kaitannya dengan penyerapan gabah. Pemerintah telah menyiapkan strategi untuk menyerap hasil produksi gabah dari petani, termasuk penggunaan pengering (dryer) dan kerja sama dengan Bulog dan penggilingan padi. Kemudian, bantuan sosial. Pemerintah juga menyiapkan bantuan sosial berupa beras sebanyak 180 ribu ton per bulan selama dua bulan untuk wilayah non-penghasil beras dan daerah perkotaan.
Pengalaman menunjukkan, dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah berhasil mencapai swasembada beras pada periode 2019-2021, bahkan menerima penghargaan dari International Rice Research Institute (IRRI) atas keberhasilan meningkatkan produksi dan pengembangan sistem ketahanan pangan Indonesia, yang lebih berkualitas lagi.
Sayangnya, hanya dalam beberapa bulan kemudian, Indonesia harus kehilangan “mahkota” swasembada beras, mengingat pada tahun 2024, negara kita kembali harus mengimpor beras dengan angka cukup fantastis. BPS mencatat impor beras Indonesia pada tahun 2024 tercatat sekitar 4,5 juta ton. Angka ini diatas 10 % dari total produksi yang diraih dalam tahun berjalan.
Namun begitu, Indonesia ini memang keren. Hanya dalam waktu satu tahun saja, ternyata Indonesia mampu menggenjot produksi beras cukup tinggi. Departemen Pertanian Amerika Serikat malah memproyeksikan produksi beras Indonesia mampu mencapai 34,6 juta ton. Prediksi ini benar-benar sangat mengejutkan, karena produksi beras tahun 2024 hanya mencapai 30,4 juta ton.
Itu sebabnya, menjadi sangat masuk akal, jika sekarang ini muncul sinyal bahwa Indonesia layak untuk menyandang lagi atribut sebagai negeri yang berswasembada beras. Betapa tidak ? Kini produksi meningkat cukup terukur. Cadangan beras Pemerintah, terekam semakin kokoh dan mulai tahun 2025, Indonesia telah menyetop impor beras.
Catatan kritisnya adalah apakah swasembada beras yang akan diproklamirkan ini masih seperti swasembada-swasembada beras yang selama ini kita capai ? Hari ini kita proklamirkan, beberapa waktu kemudian kembali kita hsrus menempuh impor lagi, karena produksi beras dalam negeri tidak lagi mencukupi kebituhan dalam negeri.
Jawabnya tegas, tentu tidak ! Indonesia, sejak sekarang harus berani menghentikan swasembada beras yang sifatnya ‘on trend”. Kita mesti memulai dengan era swasembada beras yang sifatnya berkelanjutan. Inilah ‘pe-er’ penting bagi Prmerintahan Presiden Prabowo, yang perlu dicermati dengan seksama dan perlu digarap secara sungguh-sungguh.
Untuk itu, agar yang namanya swasembada beras berkelanjutan dapat diwujudkan, maka ada beberapa langkah yang bisa ditempuh. Paling tidak, ada sembilan langkah yang dapat dipertimbangkan. Pertama, perlu ditempuh pengembangan varietas padi yang lebih tahan terhadap hama dan penyakit, serta memiliki produktivitas yang lebih tinggi, dapat meningkatkan hasil panen.
Kedua, penggunaan teknologi pertanian presisi, seperti drone dan sensor, dapat membantu petani memantau kondisi tanaman dan lahan dengan lebih akurat, sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Ketiga, pengembangan sistem irigasi yang efektif dan efisien dapat membantu meningkatkan produktivitas padi dan mengurangi ketergantungan pada curah hujan.
Keempat, penggunaan alsintan (alat dan mesin pertanian) dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian, serta mengurangi biaya produksi. Kelima. pengembangan infrastruktur, seperti jalan dan gudang, dapat membantu meningkatkan aksesibilitas dan efisiensi pertanian.
Keenam, pendidikan dan pelatihan bagi petani tentang teknologi pertanian modern dan pengelolaan lahan yang baik dapat meningkatkan kemampuan dan pengetahuan mereka. Ketujuh, Pemerintah dapat membuat kebijakan yang mendukung pertanian, seperti subsidi pupuk, kredit usaha tani, dan asuransi pertanian, untuk meningkatkan produksi beras.
Kedelapan, pengembangan sistem informasi yang akurat dan terkini tentang produksi, distribusi, dan konsumsi beras dapat membantu pemerintah dan petani membuat keputusan yang lebih baik. Kesembilan, kerja sama antara petani dan pemerintah dapat membantu meningkatkan produksi beras dan mencapai swasembada beras permanen.
Akhirnya kita optimis, dengan melakukan terobosan-terobosan cerdas tersebut, Indonesia dapat mencapai swasembada beras permanen dan meningkatkan ketersediaan pangan bagi masyarakat. Arah inilah yang ingin kita tuju.
***
Judul: Sekali Swasembada Beras, Selamanya Swasembada Beras
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi












