MajmusSunda News, Kolom Artikel/Opini, Minggu (31/08/2025) – Artikel Serial Kooperatisasi berjudul “Replikasi Model Global: Merancang Koperasi Desa Merah Putih untuk Mengurangi Ketergantungan Impor Pangan” ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Rektor IKOPIN University Bandung.
Pendahuluan: Dari Petani Desa untuk Kedaulatan Pangan Nasional
Apa jadinya jika kekuatan koperasi petani desa diarahkan untuk menjawab salah satu masalah terbesar negeri ini: impor pangan? Bayangkan jika Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) tidak hanya menyejahterakan anggotanya, tetapi juga menjadi pahlawan dalam mengurangi devisa yang keluar untuk impor beras, gandum, jagung, terigu, susu, kedelai, dan daging.
Inilah visi yang sama sekali tidak berlebihan. Mari kita lihat bagaimana koperasi global telah melakukannya, dan bagaimana kita bisa meniru kesuksesan mereka.

Kisah Para Raksasa Koperasi Dunia
Pertama, mari kita pahami skala yang telah dicapai koperasi-koperasi ternama dunia. Misalnya Zen-Noh dari Jepang, berhasil mencapai pendapatan Rp 1.424 triliun. Mereka adalah contoh nyata bagaimana koperasi petani bisa menguasai pasar beras dan kedelai – sesuatu yang masih kita impor.
Lalu ada Nonghyup dari Korea Selatan. Bahkan, pendapatannya lebih besar dengan nilai mencapai Rp 2.496 triliun. Mereka berhasil mengembangkan produk lokal seperti daging sapi Hanwoo yang menjadi kebanggaan nasional.
Dari Amerika Serikat, CHS Inc. menunjukkan prestasi dengan pendapatan Rp 761,6 triliun. Mereka menjadi eksportir utama jagung dan gandum untuk pakan dan pangan dunia.
Hal yang tidak kalah mengesankan adalah Fonterra dari Selandia Baru (Rp 260,8 triliun) dan FrieslandCampina dari Belanda (Rp 235,2 triliun) yang menguasai pasar susu global. Fonterra saja memasok 30% kebutuhan susu dunia!
Peluang Emas untuk Koperasi Desa Merah Putih
Nah, sekarang bayangkan peluang untuk KDMP. Setiap tahun, Indonesia mengimpor: Gandum dan terigu senilai Rp 50-60 triliun; Beras senilai Rp 10-20 triliun; Susu dan olahannya senilai Rp 15-20 triliun; Kedelai senilai Rp 10-15 triliun, dan; Daging sapi senilai Rp 30-40 triliun. Totalnya mencapai Rp 115-155 triliun per tahun! Ini adalah pasar yang sudah ada dan siap kita ambil alih.
Blueprint Menuju Keberhasilan
Lalu bagaimana caranya? Kita bisa belajar dari DNA kesuksesan koperasi global: Pertama, kontrol rantai nilai. Jangan hanya jual bahan mentah. Olah menjadi produk jadi seperti yang dilakukan FrieslandCampina yang mengubah susu mentah menjadi keju dan susu formula bermerek.
Kedua, kepemilikan dan kontrol oleh anggota. Setiap keuntungan harus kembali ke peternak dan petani anggota, seperti yang dilakukan Fonterra.
Ketiga, investasi pada SDM. Kita perlu mendidik petani kita menjadi profesional, seperti JA Academy milik Zen-Noh.
Keempat, skala ekonomi melalui kolektivisme. Dengan menyatukan kekuatan ribuan petani kecil, kita bisa menjadi besar seperti CHS Inc.
Tahapan Implementasi untuk KDMP
Kita bisa mulai dengan tahapan praktis:
Tahun 1-2: Konsolidasi Mulai dari mengidentifikasi masalah terbesar.Apakah harga pupuk yang mahal? Atau harga jual panen yang ditekan tengkulak? Demonstrasikan keuntungan berkoperasi dengan proyek percontohan kecil.
Tahun 2-3: Integrasi Sederhana Buat siklus tertutup:sediakan input murah, beli hasil produksi anggota, lalu jual ke pasar. Terapkan standar kualitas dan mulai bangun merek lokal.
Tahun 4-5: Inovasi dan Ekspansi Mulai olah bahan mentah menjadi produk jadi.Jalin kemitraan strategis dengan perusahaan besar.
Penutup: Merebut Kembali Kedaulatan Pangan
Data dari koperasi global membuktikan bahwa jalan kita bukanlah khayalan. Omset triliunan rupiah adalah hasil nyata dari kolektivisme dan penguasaan rantai nilai.
KDMP tidak perlu langsung besar. Tapi dengan memulai langkah kecil, konsisten, dan transparan, kita sedang membangun fondasi untuk sesuatu yang besar. Sesuatu yang bukan hanya menyejahterakan anggota, tetapi juga menjadi pahlawan dalam mengurangi ketergantungan impor pangan kita.
Mari wujudkan! Buktikan bahwa ekonomi rakyat adalah ekonomi yang paling perkasa!
***
Noted:
Serial Kooperatisasi adalah serial untuk menyampaikan gagasan berdasarkan bukti teori atau empiris bahwa koperasi merupakan institusi amanah Konstitusi Pasal 33 UUD ’45 yang secara teoritis dan empiris merupakan institusi ekonomi terbaik untuk memajukan kemakmuran bersama dan mewujudkan kualitas masa depan bersama yang terbaik. Edisi ini didukung oleh studi kasus dan data finansial dari CHS Inc., Fonterra, Zen-Noh, Nonghyup, dan FrieslandCampina.
Judul: Replikasi Model Global: Merancang Koperasi Desa Merah Putih untuk Mengurangi Ketergantungan Impor Pangan
Penulis: Prof. Agus Pakpahan
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas Info Penulis
Prof. Agus Pakpahan memimpin IKOPIN University sejak 29 Mei 2023 untuk periode 2023–2027. Ia dikenal sebagai ekonom pertanian yang menaruh perhatian pada penguatan ekosistem perkoperasian dan tata kelola kebijakan publik.

Di bawah kepemimpinan Agus Pakpahan, IKOPIN mendorong kemitraan strategis dan pembenahan tata kelola kampus, termasuk menyambut inisiatif pemerintah agar IKOPIN bertransformasi menuju skema Badan Layanan Umum (BLU) di lingkungan Kemenkop UKM—sebuah langkah untuk memperkuat daya saing kelembagaan dan mutu layanan pendidikan. “Pendidikan yang berpihak pada kemajuan adalah jembatan masa depan,” demikian ruh visi yang ia usung.
Lahir di Sumedang, 29 Januari 1956, Agus Pakpahan menempuh S-1 di Fakultas Kehutanan IPB (1978) dan meraih M.S. Ekonomi Pertanian di IPB (1981). Ia kemudian meraih Ph.D. Ekonomi Pertanian dengan spesialisasi Ekonomi Sumber Daya Alam dari Michigan State University (1988). Latar akademik ini mengokohkan reputasinya di bidang kebijakan sumber daya alam, pertanian, dan pembangunan pedesaan. “Ilmu adalah cahaya; manfaatnya adalah sinar yang menuntun,” menjadi prinsip kerja ilmiahnya.
Kariernya panjang di pemerintahan: bertugas di Bappenas pada 1990-an, lalu dipercaya sebagai Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (1998–2002). Di tengah restrukturisasi, ia memilih mundur pada 2002—sebuah sikap yang tercatat luas di media arus utama.
Sesudahnya, Agus Pakpahan menjabat Deputi Menteri BUMN Bidang Usaha Agroindustri, Kehutanan, Kertas, Percetakan, dan Penerbitan (2005–2010), memperlihatkan kapasitasnya menautkan riset, kebijakan, dan bisnis negara. “Integritas adalah kompas; kebijakan adalah peta,” ringkasnya tentang tata kelola.
Sebagai akademisi-pemimpin, Agus Pakpahan aktif membangun jejaring dan kurikulum. Kunjungan kerja ke FEB UNY menegaskan orientasi penguatan kompetensi usaha dan koperasi, sementara di tingkat lokal ia melepas ratusan mahasiswa KKN untuk mengabdi di puluhan desa di Sumedang—mendorong pembelajaran kontekstual dan solusi nyata bagi masyarakat. “Belajar adalah bekerja untuk sesama,” begitu pesan yang kerap ia gaungkan pada kegiatan kampus.
Di luar kampus, kiprah Agus Pakpahan terekam dalam wacana publik seputar hutan, pertanian, ekonomi sirkular, dan perkoperasian—menginspirasi komunitas petani serta pemangku kepentingan untuk berinovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai gotong royong.
Esai dan pandangan Agus Pakpahan di berbagai media bereputasi menunjukkan konsistensinya pada pembangunan yang adil dan berkelanjutan. “Kemajuan tanpa keadilan hanyalah percepatan tanpa arah; keadilan memberi makna pada laju,” adalah mutiara yang merangkum jalan pikirannya.










