MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Sabtu (28/06/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Ranking 4 Produsen Beras Dunia” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Tidak bisa dipungkiri lagi, Tanah Merdeka ini sangat layak untuk disebut sebagai gudang beras dunia. Produksi berasnya cukup berlimpah. Produktivitasnya pun meningkat cukup terukur. Bahkan di kalangan ASEAN, Indonesia menempati peringkat tertinggi dan disdbut sebagai “raja beras” ASEAN.

Tidak hanya itu. Indonesia pun menempati peringkat keempat sebagai produsen beras terbesar di dunia. Posisi ini berdasarkan laporan Food Outlook Biannual Report on Global Food Markets yang dipublikasikan Food and Agriculture Organization (FAO) per Juni 2025. Dalam laporannya diperkirakan produksi beras Indonesia periode 2025-2026 mencapai 35,6 juta ton. Hingga kini pasokan cadangan beras pemerintah menyentuh lebih dari 4 juta ton.
Adapun, India menempati posisi pertama dengan kapasitas produksi beras 146,6 juta ton. China di peringkat dua dengan produksi 143 juta ton. Di urutan ketiga Bangladesh dengan produksi beras 40,7 juta ton. Dengan estimasi produksi beras Indonesia tersebut, Kepala Badan Pangan Nasional memastikan pemerintah melalui Bulog mengoptimalisasi penyerapan beras dalam negeri. Artinya, sepanjang 2025-2026 impor beras belum menjadi opsi utama.
Sebelumnya, berdasarkan laporan Food Outlook dan USDA Rice Outlook April 2025, produksi beras Indonesia diproyeksi mencapai 34,6 juta ton, menjadikannya produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan peringkat keempat global. Berikut adalah peringkat produsen beras terbesar di Asia Tenggara :
– Indonesia : 34,6 juta ton
– Vietnam : 26,5 juta ton
– Thailand : 20,1 juta ton
– Filipina : 12 juta ton
– Kamboja : 7,3 juta ton
– Laos : 1,8 juta ton
– Malaysia : 1,75 juta ton
Peringkat global Indonesia sebagai produsen beras terbesar keempat juga didukung oleh data FAO. Produksi beras Indonesia yang tinggi ini tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga berpotensi meningkatkan posisi Indonesia dalam perdagangan beras internasional. Itu sebabnya menjadi sangat masuk akal, jika Pemerintah perlu menyikapinya dengan sungguh-sungguh.
Tak kalah penting untuk dicermati, upaya mempertahankan peringkat ke-4 dunia sebagai produsen beras, Indonesia dapat melakukan beberapa strategi dan langkah berikut, pertama meningkatkan produktivitas. Pemerintah dapat terus meningkatkan produktivitas pertanian dengan menyediakan pupuk subsidi yang memadai, memperbaiki sistem irigasi, dan mempromosikan teknologi pertanian modern.
Kedua, meningkatkan serapan beras. Pemerintah dapat meningkatkan serapan beras oleh Bulog untuk memastikan bahwa produksi beras dalam negeri terserap secara maksimal dan tidak terjadi surplus yang merugikan petani. Ketiga,, menetapkan harga gabah yang tinggi. Pemerintah dapat menetapkan harga gabah yang tinggi untuk memberikan insentif bagi petani meningkatkan produksi dan kualitas beras.
Keempat, mengembangkan infrastruktur pertanian. Pemerintah dapat mengembangkan infrastruktur pertanian seperti gudang penyimpanan, jalan, dan fasilitas lainnya untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi kerugian pasca-panen. Kelima,
meningkatkan kualitas beras. Pemerintah dapat meningkatkan kualitas beras dengan mempromosikan penggunaan varietas unggul, memperbaiki teknik pengolahan, dan meningkatkan standar kualitas beras.
Keenam, meningkatkan ekspor beras. Pemerintah dapat meningkatkan ekspor beras ke negara-negara lain untuk memanfaatkan surplus produksi dan meningkatkan pendapatan petani. Ketujuh, mengantisipasi perubahan iklim. Pemerintah dapat mengantisipasi perubahan iklim dengan mengembangkan sistem pertanian yang adaptif dan meningkatkan ketahanan pangan nasional.
Secara teori, dengan melakukan strategi dan langkah-langkah tersebut, mestinya Indonesia dapat mempertahankan peringkat ke-4 dunia sebagai produsen beras dan meningkatkan ketahanan pangan nasional. Tinggal sekarang, bagaimana Pemerintah mampu menerapkan kebijakan dan strategi yang dirumuskan diatas, ke dalam program dan kegiatan yang digarapnya.
Soal menggenjot produksi beras, sebetulnya kita telah memiliki pengalaman yang cukup panjang. Apa yang dihasilkan dalam musim panen di awal tahun 2025, menunjukan bagaimana kerja keras tersebut mampu membuahkan hasil yang memuaskan. Produksi beras secara nasional melonjak cukup signifikan. Bahkan Departemen Pertanian Amerika Serikat memprediksi produksi beras 2025 dapat mencapai 34,6 juta ton.
Tercatatnya Indonesia sebagai peringkat ke 4 dalam kaitannya dengan produksi beras dunia, tentu harus menjadi modal dasar untuk mengokohkan diri sebagai salah satu lumbung beras dunia. Suasana ini, perlu terus dijaga dan dipertahankan, sehingga citra Indonesia sebagai gudang beras dunia, tetap berkibar di dunia internasional.
Selain itu, penghentian impor beras yang dilakukan Pemerintah mulai tahun 2025, sudah seharusnya dijadikan kebijakan yang sifatnya permanen dan tidak bersifat on trend. Pengalanan dan kehadian masa lalu, jelas harus kita tinggalkan. Jangan lagi setelah kita proklamirkan swasembada beras, beberapa waktu kemudian, lagi-lagi kita lakukan impor beras.
Peningkatan produksi dan produktivitas hasil-hadil pertanian, tetap harus dijadikan titik kuat dan titik tekan pembangunan pertanian. Kisah sukses yang telah diraih selama ini, harus dipertahankan. Pemerintah tentu diminta untuk selalu komit dan konsisten secara nyata, dalam bentuk keberpihakan dan kecintaannya yang mendalam terhadap sektor pertanian.
Semoga jadi bahan perenungan kita bersama.
***
Judul: Ranking 4 Produsen Beras Dunia
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi












