MajmusSunda News, Kolom OPINI, Sabtu (12/07/2025) – Artikel berjudul “Merefleksi Ulang Standar Pangan Nasional: Bekatul, Estetika Premium, dan Ancaman Kesehatan Publik” ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Anggota Dewan Pini Sepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Rektor IKOPIN University Bandung.
Estetika Premium vs. Nilai Gizi yang Hilang
Di tengah upaya meningkatkan kualitas pangan nasional, kebijakan mutu beras premium yang menghilangkan lapisan bekatul perlu dikaji ulang. Standar beras putih mengkilap mungkin memenuhi preferensi pasar, namun apakah itu cukup untuk menopang kesehatan masyarakat?
Bekatul bukanlah residu yang layak dibuang. Ia adalah lapisan luar biji beras yang kaya antioksidan, vitamin B kompleks, serat pangan, dan mineral esensial. Namun karena tidak masuk dalam definisi beras premium, komponen vital ini justru dibuang—seolah estetika lebih penting dari esensi gizi.

Kisah Christiaan Eijkman: Tidak Belajar dari Masa Lalu
Lebih dari seabad lalu, seorang dokter Belanda bernama Christiaan Eijkman melakukan riset di Batavia (Jakarta) untuk menyelidiki penyakit beri-beri yang mewabah di Hindia Belanda. Ia menemukan bahwa ayam yang diberi makan beras putih halus mengalami kelumpuhan saraf, mirip dengan gejala beri-beri pada manusia. Ketika diberi beras giling kasar yang masih mengandung bekatul, ayam-ayam itu sembuh.
Penemuan ini menjadi tonggak lahirnya konsep vitamin, khususnya vitamin B1 (thiamin), yang kemudian diakui secara global sebagai zat esensial untuk mencegah penyakit degeneratif. Eijkman dianugerahi Hadiah Nobel pada tahun 1929 atas kontribusinya.
Ironisnya, kini kita justru mengulang sejarah: menghilangkan bekatul dari beras premium, padahal lapisan itulah yang menyimpan zat gizi pelindung.
Tragedi Swiss: Ketika Kekurangan Gizi Menjadi Kejahatan Nasional
Dalam artikelnya “A National Evil”, jurnalis Jonah Goodman mengungkap kisah kelam Swiss pada awal abad ke-20. Lebih dari 80% wilayah Swiss mengalami endemi penyakit akibat kekurangan yodium, seperti goitre (pembengkakan leher), cretinism, dan gangguan perkembangan otak.
– 94% anak sekolah di Bern mengalami pembengkakan leher
– 70% memiliki goitre
– 1 dari 10 bayi lahir dengan cretinism, mengalami gangguan bicara, pendengaran, dan pertumbuhan
– 30% remaja laki-laki tidak layak militer karena gangguan pernapasan akibat goitre
Kondisi ini disebut sebagai “kejahatan nasional” karena dampaknya terhadap generasi dan produktivitas bangsa. Solusinya datang dari tiga dokter desa yang memperkenalkan yodium dalam garam dapur, menyelamatkan jutaan jiwa dan mengubah arah kebijakan kesehatan Swiss.
Kesehatan Publik yang Terkorbankan
Data empiris menunjukkan bahwa Indonesia tengah menghadapi “tsunami penyakit metabolik”:

Biaya tahunan penanganan diabetes mencapai USD 6,3 miliar, dengan lebih dari 130 ribu kematian setiap tahunnya. Sebagian besar penderita bahkan tidak terdiagnosis. Penghilangan bekatul dari beras premium turut menurunkan asupan zat protektif yang dibutuhkan tubuh untuk menekan risiko penyakit ini.
Bekatul Bukan Limbah, Melainkan Solusi
Di tangan koperasi yang inovatif dan institusi pendidikan yang visioner, bekatul dapat diolah menjadi:
– Tepung fungsional untuk mi sehat dan roti rendah glikemik
– Minuman nutrisi berbasis oryzanol
– Bahan baku suplemen pencegahan penyakit metabolik
Alih-alih menjadi limbah, bekatul bisa menjadi produk bernilai ekonomi dan kesehatan tinggi yang memperkaya strategi ketahanan pangan nasional.
Seruan Strategis untuk Masa Depan Bangsa
1. Revisi kebijakan mutu beras premium agar mempertimbangkan kandungan gizi, bukan semata estetika.
2. Kampanye edukasi berbasis data untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap nutrisi tersembunyi dalam bekatul.
3. Kolaborasi strategis antar koperasi, perguruan tinggi, dan pemerintah untuk mengembangkan produk turunan bekatul sebagai pangan fungsional.
4. Integrasi prinsip keberlanjutan dan kesehatan masyarakat ke dalam seluruh kebijakan pangan nasional.
Indonesia tidak kekurangan sumber daya, tetapi kita perlu keberanian untuk meninjau ulang kebijakan yang selama ini tidak berpihak pada kesehatan jangka panjang. Bekatul, dalam segala kesederhanaannya, mengajarkan bahwa solusi besar sering tersembunyi di balik hal kecil yang sering terabaikan.
Jika bangsa ini ingin benar-benar menatap Indonesia Emas 2045, maka mutlak bagi kita menjadikan kesehatan sebagai standar utama, bukan sekadar putihnya butir beras.
***
Judul: Merefleksi Ulang Standar Pangan Nasional: Bekatul, Estetika Premium, dan Ancaman Kesehatan Publik
Penulis: Prof. Agus Pakpahan
Editor: Jumari Haryadi










