Mengintip Festival Longser X 2025 di Sunan Ambu ISBI Bandung

Mengintip Festival Longser X 2025 di Sunan Ambu ISBI Bandung
Para Jawara Festival Longser (Sumber Foto : Asep GP)

MajmusSunda News  Bandung, Kamis (11/09/2025) – Longser adalah teater rakyat dari Tatar Sunda, utamanya dari daerah Priangan, Jawa Barat. Longser sejarahnya cukup panjang juga, bermula sekitar tahun 1915 dari Bandung, seni ini berasal dari pertunjukan rakyat bernama Doger lalu bekembang menjadi Lengger dan sekarang dikenal sebagai Longser.

Pertunjukan Longser biasanya malam hari di tempat terbuka dengan memakai penerangan Oncor (obor). Tidak ada panggung dalam Longser, pemain dan penonton sejajar sama-sama di bawah, penonton biasanya duduk di atas tikar membentuk setengah lingkaran. Jadi tidak ada sekat antara penonton dan pemainnya, bahkan dalam dialog dan tarian penonton pun suka diikutsertakan. Baru tahun 1970-an mulai tampil di gedung kesenian.

Penampilan Longser di GK Sunan Ambu ISBI Bandung
Penampilan Longser di GK Sunan Ambu ISBI Bandung (Sumber Foto : Asep GP)

Seperti wayang golek, Longser juga termasuk kesenian Sunda yang multiseni, di dalamnya didukung/memuat kesenian-kesenian Sunda lainnya seperti seni musik (karawitan ) Sunda, tarian Sunda (biasanya ronggeng, jaipong ), seni suara (sinden), lakon (cerita ) dan bobodoran (humor) Sunda. Longser juga ceritanya mengandung nilai-nilai luhur, kemanusiaan, kritik sosial, gotong-royong, dan empati.

Seni yang mencapai puncak kejayaanya tahun 1920-1960-an ini juga bisa dipakai wadah/media untuk mengajarkan kebaikan, melatih kepercayaan diri dan memupuk kreativitas.

Sepertinya atas dasar itulah pada tahun 2022, Longser ditetapkan jadi ‘Warisan Budaya Takbenda (WBtb)’ dari Jawa Barat, oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek RI, waktu itu). Hal ini jelas, Longser harus dilestarikan oleh generasi muda Sunda, supaya tidak punah tinggal cerita.

Makanya Komunitas Toneel Bandung berusaha melestarikan kesenian Sunda yang adiluhung ini dan itu terbukti pada tanggal 5-6 September 2025 kembali mengadakan Festival Longser X 2025 dengan tema “Merawat Ingatan Rasa Kuliner Jawa Barat”.

Lawung Longser Nonoman X yang diikuti 12 kelompok teater SMA/SMK se-Jawa Barat & Banten ini, digelar di Gedung Kesenian Sunan Ambu ISBI Jalan Buah Batu No. 212 Kota Bandung. Terlihat para penonton dan bobotoh (suporter) yang didominasi generasi muda, memenuhi gedung kesenian tersebut. Terdengar sorak-sorai, tepuk tangan, suitan, derai tawa dan teriakan penonton mengiringi setiap tampilan kelompok longser, terbawa suasana cerita yang mengandung kritik sosial dan bodoran-bodoran gacor dari sang aktor. Rame pisan.

Longser Asli Tidak Ada Sekat dengan Penonton
Longser Asli Tidak Ada Sekat dengan Penonton (Sumber Foto : Asep GP)

Pada hari kedua, penutup pergelaran, sebelum mengumumkan para Jawara, ditampilkan dulu Longser Bandungmooi pimpinan Hermana HMT yang sudah lama malang melintang di dunia Longser, GK. Sunan Ambu pun bertambah hangat suasananya.

Kata Hermana, yang saat itu didampingi Rosyid E. Abby dan Mustika Iman Zakaria S, ketiganya Juri pada Festival Longser tersebut, Longser berbeda dengan teater modern yang perannya butuh penjiwaan yang kuat, aktor longser ringan saja mengalir yang penting bisa memerankan tokoh dan menyampaikan komunikasi, dialog, dengan lancar. Hanya dalam longser, si aktor harus banyak improvisasi dan pandai merespon lawan main dan bisa mengembangkan cerita (eksplorasi) yang dibuat penulis naskah atau sutradara.

“Dalam longser banyak spontanitas. Jadi kekuatan aktornya memang di spontanitasnya yang mengalir tanpa dibuat-buat. Hal naskah juga di zaman kiwari mengacu ke dramaturgi, gaya modern,“ terang Hermana.

Hal itu dibenarkan Rosyid, Longser sekarang ada naskahnya, terkait erat dengan drama turginya, kalau longser aslinya kan tidak menggunakan naskah.

Jadi dalam kriteria penilaian naskah harus disesuaikan dengan tema yang disediakan oleh panitia (“Merawat Ingatan Rasa Kuliner Jawa Barat”), serta bagaimana caranya agar penulis naskah bisa mengolah tema jadi sebuah cerita yang didalamnya ada plot mengembangkan cerita, ada konflik, pesan moral, juga yang terpenting adalah solusi. Jadi bagaimana caranya agar persoalan bisa diselesaikan dengan baik. Itulah ciri-ciri naskah yang biasa ada dalam drama, kata Rosyid.

Selain itu, timpal Hermana, hal Musik jadi bagian yang penting dalam Longser untuk mengiringi tarian dan gerak (gestur) para aktor.

Musik Longser jelas harus berpola pada tradisi, tapi dalam festival ini diberi keleluasaan, bisa kolaborasi dengan unsur musik modern. Pasalnya untuk menyesuaikan dengan kebiasaan generasi muda masa kini dan juga tidak semuanya punya alat musik tradisi di sekolahnya. Tapi umumnya dalam festival ini, Alhamdulillah para peserta sudah menggunakan musik tradisi sebagai pengiringnya. “Ini cukup menarik dan cukup baik,“ kata Hermana.

Tapi akan lebih baik lagi kalau ada musik tradisi sekaligus ada juga penarinya. Dalam pengamatan Hermana di festival ini, tariannya beragam ada kreasi baru dan lawas, ada juga karya jadul dibarukan lagi, ini cukup menarik. Selain itu ada juga kelompok longser yang sengaja membuat musik dan tarian baru. Seperti yang dibuat oleh Teater Senapati dan Teater Ananta. Ini bagus sekali, kreatif, puji Hermana.

Dalam hal Garapan, semuanya memang harus jadi satu kesatuan antara musik, tari, cerita, saling berkaitan dalam 1 tema. Tapi Hermana juga menilai masih ada kelompok yang antara musik dan tariannya tidak nyambung,“ Biasanya yang begitu, Tari dan Musik nya hanya berupa tempelan. Harusnya bisa menyatu jangan hanya sekedar tempelan,“ kata Hermana.

Tapi walau begitu, Rosyid menilai Longser di tahun ini sudah berkembang, ada pembaruan-pembaruan serta tidak stagnan. Tapi kedepannya harus tambah berkembang dan rutin dipergelarkan, difestivalkan, agar teater tradisi dan bahasa daerah sebagai alat pengantar komunikasinya, dilestarikan generasi muda.

Para Dewan Juri (Dari Kiri) Mustika Iman,  Hermana HMT dan Rosyid E. Abby, Demi Pelestarian, Festival Longser Harus Rutin Diadakan
Para Dewan Juri (Dari Kiri) Mustika Iman, Hermana HMT dan Rosyid E. Abby, Demi Pelestarian, Festival Longser Harus Rutin Diadakan (Sumber Foto : Asep GP)

Memang dalam hal penggunaan bahasa Sunda, Hermana juga mendengar masih banyak peserta yang belum bisa menggunakannya secara baik dan benar. Maklum anak gaul, sepertinya kedepan harus ada workshop bahasa daerah. Tapi kalau dibandingkan dengan festival sebelumnya, tahun ini sudah cukup tertata dan menarik.

Hermana juga berharap para peserta bisa menampilkan karyanya di tempat dan acara lain, jangan hanya dalam acara festival. Terutama untuk Jawara 1-2- 3 bisa manggung di gedung-gedung kesenian lainnya seperti Rumentang Siang Bandung, dengan ditonton langsung oleh masyarakat banyak, bukan hanya oleh teman-temannya sendiri.

Hermana juga ingin Festival Longser ini terus berkembang, pesertanya tambah banyak diikuti oleh 27 kabupaten/kota yang ada di jawa Barat juga Banten, serta aman dan lancar serta didukung pemerintah. “Sebab selama ini pemerintah kurang support terhadap Festival Longser, padahal Longser sudah jadi Warisan Budaya Takbenda dari Jawa Barat, tentu hal ini harus tetap dilestarikan dan dikembangkan lagi keberadaannya,“ demikian kata Hermana, yang juga alumni Prodi Teater ISBI Bandung.

Rosyid juga sependapat, agar festival Longser terus didakan secara rutin dan dibina, dipelihara keberlangsungannya. Dosen Unpas pengajar Apresiasi Drama ini juga merasa khawatir, mahasiswanya saja banyak yang tidak tahu tentang Longser, padahal Longser sudah jadi warisan budaya tak benda.

“Longser harus dijaga keberlangsungannya, jangan hanya di festival tapi harus dikenalkan kepada masyarakat, bahwa dalam jagat teater tradisi di Indonesia tidak hanya Lenong Betawi tapi ada Seni Longser dari Jawa Barat,“ tegas Rosyid.

Demikian juga dengan Mustika Iman Zakaria, berharap festival Longser tetap bisa digelar rutin dua tahun sekali. Sebab menurutnya Longser termasuk kesenian multidimensi, multimedia. Belajar main Longser mah bisa sekaligus belajar bahasa Sunda, musik/karawitan Sunda, tarian Sunda dan seni suara Sunda.

“Oleh karenanya, semoga guru-guru dan kepala sekolah memberi perhatian lebih dan mendukung kesenian Longser, karena Longser banyak mengandung ajaran dan nilai-nilai moral kehidupan,“ pungkasnya.

_____________________

Judul: Mengintip Festival Longser X 2025 di Sunan Ambu ISBI Bandung
Jurnalis: Asep GP
Editor: Parkah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *