MANIFESTO KEDAULATAN: Melawan Tipu Daya Ekonomi Global

Artikel ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.

Abstrak
Ilustrasi: Manifesto Kedaulatan - (Sumber: Arie/MMNS)

MajmusSunda News, Kolom Artikel/Opini, Minggu (07/09/2025) – Artikel Serial Tropikanisasi dan Kooperatisasi berjudul “MANIFESTO KEDAULATAN: Melawan Tipu Daya Ekonomi Global” ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Rektor IKOPIN University Bandung.

Pendahuluan: Warisan Pahit Kolonialisme Ekonomi

Mereka menjajah kita dua kali: pertama dengan senapan, kedua dengan dogma. Liberalisme, pasar bebas, korporatisasi dan globalisasi—adalah mantra yang dipaksakan melalui policy coercion (pemaksaan kebijakan), persis seperti kritik Ha-Joon Chang dalam Bad Samaritans: The Myth of Free Trade and the Secret History of Capitalism. Buku ini terbit tahun 2007 ketika Chang menjadi profesor di Cambridge University.

Dalam buku ini, Chang mengkritik keras dogma neoliberal dan menunjukkan bagaimana negara-negara maju sebenarnya menggunakan proteksionisme dan intervensi negara untuk membangun kekuatan ekonominya—berlawanan dengan nasihat yang mereka berikan kepada negara berkembang. Ia menyebut negara-negara kaya sebagai “Bad Samaritans” karena mendorong kebijakan yang justru menghambat pembangunan negara miskin.

Chang membongkar hipokrisi: Negara maju melindungi industri mereka saat berkembang, tetapi memaksa kita membuka pasar; AS dan Eropa mencapai kejayaan via proteksionisme, tetapi menyuruh kita berliberalisasi; Krisis 1998 adalah buah pahit dari resep yang memaksa liberalisasi finansial prematur.

Ini bukan kesalahan sistem, tapi perilaku Bad Samaritans yang terstruktur.

Bangkit dari Reruntuhan: Kekuatan Kolektif yang Dikerdilkan

Sementara IMF dan Bank Dunia memaksa kita menyelamatkan konglomerat, di pedalaman Kalimantan, Credit Union Keling Kumang membangun kedaulatan diam-diam. Mereka menolak dogma free market fundamentalism.

Data yang bertolak belakang dengan pemikiran Barat yang kita ikuti selama ini:

  • 230. 000 orang anggota mandiri
  • Rp 2,23 triliun aset tanpa utang luar negeri atau utang bank
  • 72% petani sebagai anggota dan pemilik koperasi. Ini bukti petani benar kecil usahanya tetapi kalau bersatu menjadi kuat sekali. Model ini sama dengan model yang telah terlebih dahulu berkembang di Amerika Serkat (CHS, Land O’Lakes dan masih banyak lagi; Zen-Noh di Jepang dan Nonghyup di Korea Selatan, menyebut beberapa contoh).

Mereka membuktikan: ekonomi kerakyatan bukan mitos—tetapi senjata melawan penjajahan model baru.

Gelombang Kondratieff VI: Momen Tropikanisasi

Gelombang Kondratieff adalah siklus teknologi dan ekonomi global setiap 40–60 tahun. Kita kini memasuki gelombang ke-6.

Gelombang ekonomi baru sekarang adalah—AI, bioteknologi, energi hijau, kesehatan holistik, nano teknologi, teknologi lingkungan dan koperasi. Kawasan tropika berpotensi besar memanfaatkan gravitasi ekonomi baru ini.

Namun, kita akan kembali dijajah dengan techno-colonialism, apabila kita tidak membangun warisan institusi leluhur yaitu koperasi, dengan melakukan: Menjual algoritma iklim temperate untuk gambut tropis; Mematenkan gen tanaman obat nusantara; Memaksa kita impor panel surya untuk energi tropis

Tropikanisasi sebagai jawaban: Bioteknologi tropis: Jamu modern dengan nano-encapsulation; AI gambut: Sensor cerdas buatan Institut Teknologi Keling Kumang; Energi desa: Solar grid mandiri berbasis koperasi; Kesehatan holistik berbasis keanekaragaman hayati; Menjadikan panas, lembab, sinar matahari, keanekaragaman hayati dan keanekaragaman sosial budaya sebagai “mesin alami” kedaulatan pangan dan kemakmuran tropika.

Perilaku Bad Samaritans Abad 21:

Data terbaru memperlihatkan kelakuan bad samaritans modern: Apple menghindari pajak USD 100 miliar via double Irish with Dutch sandwich; Nestlé mematenkan genetik padi lokal India dan Afrika (biopiracy); Shell dan Exxon tutupi data perubahan iklim selama 40 tahun sambil eksploitasi energi fosil Global South; Perang dagang antar-negara yang dipaksakan oleh negara adikuasa.

Model Kedaulatan Kooperatif-Tropis: Sintesis Penyelamatan

Model ini adalah antitesis dari Bad Samaritans:

1. Kooperatisasi = Proteksionisme Kerakyatan

Seperti Jerman dan AS di abad 19 yang melindungi industri nasional, kita lindungi koperasi dengan kebijakan afirmatif.

2. Tropikanisasi Teknologi

Menciptakan teknologi tropis: Algoritma pertanian tropika; Biokonversi sebagai basis ekonomi sirkular tropika; Teknologi pengolahan pangan tropika

3. Kemandirian Finansial

Modal dari rakyat, untuk rakyat—seperti CU Keling Kumang yang tumbuh tanpa utang dari bank apalagi utang luar negeri.

Langkah Strategis: Dari Teori ke Aksi

1. Replikasi Koperasi Kredit Keling Kumang

Koperasi Kredit Keling Kumang tidak hanya mengelola aset, tapi juga membangun sistem pendidikan, kesehatan, dan teknologi lokal berbasis nilai Dayak.

Andaikan Keling Kumang direplikasi untuk Indonesia. Andaikan dari 280 juta penduduk, 200 juta orang dari padanya menjadi anggota Koperasi Bangun Indonesia yang mandiri berbasis teknologi—proteksi industri kerakyatan seperti yang dilakukan Korea Selatan di era 1970-an. Kita akan mendapatkan gambaran sebagai berikut:

a. Populasi Indonesia saat ini (perkiraan 2025) sekitar 280 juta jiwa

b. Ukuran satu unit koperasi Keling Kumang: Anggota: 230.000 orang; Aset: Rp 2,23 triliun

c. Jumlah koperasi yang dibutuhkan: 1.217 unit koperasi. Jadi, dibutuhkan sekitar 1.217 koperasi seukuran Koperasi Kredit Keling Kumang untuk mencakup seluruh penduduk Indonesia.

d. Total aset nasional menjadi: 1.217 ujit x Rp 2,23 triliun = Rp 2.714,91 triliun. Total aset: Rp 2.714 triliun atau Rp 2,7 kuadriliun rupiah. Konversi ke dolar (kurs Rp 16.000 per USD) menjadi: USD 169.68 miliar. Jumlah ini hampir mencapai 40% dari total utang luar negeri Indonesia pada tahun 2025 yaitu sekitar USD 433 miliar.

Makna naratif untuk Tropikanisasi

Bayangkan:  1.217 koperasi berbasis komunitas, spiritualitas, dan kedaulatan lokal; Masing-masing mengelola aset triliunan rupiah; Terhubung dalam federasi tropikal yang saling mendukung, bukan bersaing; Menggantikan model ekstraktif dengan model regeneratif

Ini bukan sekadar angka. Ini adalah kerangka alternatif pembangunan nasional—berbasis spiritual, tanah, dan solidaritas tropika.

2. Institut Teknologi Tropika

Lahirkan insinyur-insinyur tropika yang mengembangkan teknologi berdasarkan karakteristik intrinsik tropika (panas, lembab, basah, keanekaragaman hayati, keanekaragaman sosial budaya, kehadiran matahari setiap hari sepanjang tahun, plus struktur kepulauan bagi negara seperti Indonesia —yang fokus pada teknologi adaptif dan inovatif tropika.

3. Kebijakan Pro-Koperasi

Tolak Foreign Trade Agreement (FTA)  yang mematikan koperasi.

4. Jaringan Global Ekonomi Tropika

Ekspor tropical technology ke Afrika dan Amerika Latin—menjadi Good Samaritan yang tidak hipokrit.

Penutup: Revolusi Dimulai dari Bawah

Mereka bilang kita melawan arus. Mereka bilang koperasi tidak kompetitif, tapi mereka lupa: Ha-Joon Chang membongkar kebohongan sistem kapitalisme antara negara kolonial dengan negara bekas jajahan; Steve Jobs membangun Apple dari garasi; Koperasi Kredit Keling Kumang membangun triliunan rupiah tanpa utang bank apalagi utang luar negeri dengan 72 % anggotanya para petani di pedalaman Kalimantan Barat.

Berdasarkan sejarah dan data—kitalah yang benar. Mari tolak jadi Bad Samaritans—jadilah Good Cooperators.

Mulailah dari desa. Bangun koperasi. Ajarkan tropikanisasi. Bentuk federasi. Revolusi tropis dimulai dari tanah yang kita injak.

“Setiap negara yang sukses melindungi industri domestiknya saat berkembang—termasuk AS dan Inggris. Tapi mereka memaksa kita membuka pasar.” – Ha-Joon Chang, Bad Samaritans

“Tropikanisasi-kooperatisasi adalah penyelamatan terhadap penjajahan model baru.” – Multatuli dalam semangat perlawanan kolonialisme

***

Noted:

Tropikanisasi adalah sebuah konsep transformatif yang merujuk pada proses mengangkat, memulihkan, dan memodernisasi kekayaan tropis—baik dalam pangan, budaya, ekonomi, maupun spiritualitas—sebagai fondasi kedaulatan dan keberlanjutan bangsa tropis seperti Indonesia.

Judul: MANIFESTO KEDAULATAN: Melawan Tipu Daya Ekonomi Global
Penulis: Prof. Agus Pakpahan
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas Info Penulis

Prof. Agus Pakpahan memimpin IKOPIN University sejak 29 Mei 2023 untuk periode 2023–2027. Ia dikenal sebagai ekonom pertanian yang menaruh perhatian pada penguatan ekosistem perkoperasian dan tata kelola kebijakan publik.

Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.,
Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Penulis – (Sumber: sawitsetara.co)

Di bawah kepemimpinan Agus Pakpahan, IKOPIN mendorong kemitraan strategis dan pembenahan tata kelola kampus, termasuk menyambut inisiatif pemerintah agar IKOPIN bertransformasi menuju skema Badan Layanan Umum (BLU) di lingkungan Kemenkop UKM—sebuah langkah untuk memperkuat daya saing kelembagaan dan mutu layanan pendidikan. “Pendidikan yang berpihak pada kemajuan adalah jembatan masa depan,” demikian ruh visi yang ia usung.

Lahir di Sumedang, 29 Januari 1956, Agus Pakpahan menempuh S-1 di Fakultas Kehutanan IPB (1978) dan meraih M.S. Ekonomi Pertanian di IPB (1981). Ia kemudian meraih Ph.D. Ekonomi Pertanian dengan spesialisasi Ekonomi Sumber Daya Alam dari Michigan State University (1988). Latar akademik ini mengokohkan reputasinya di bidang kebijakan sumber daya alam, pertanian, dan pembangunan pedesaan. “Ilmu adalah cahaya; manfaatnya adalah sinar yang menuntun,” menjadi prinsip kerja ilmiahnya.

Kariernya panjang di pemerintahan: bertugas di Bappenas pada 1990-an, lalu dipercaya sebagai Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (1998–2002). Di tengah restrukturisasi, ia memilih mundur pada 2002—sebuah sikap yang tercatat luas di media arus utama.

Sesudahnya, Agus Pakpahan menjabat Deputi Menteri BUMN Bidang Usaha Agroindustri, Kehutanan, Kertas, Percetakan, dan Penerbitan (2005–2010), memperlihatkan kapasitasnya menautkan riset, kebijakan, dan bisnis negara. “Integritas adalah kompas; kebijakan adalah peta,” ringkasnya tentang tata kelola.

Sebagai akademisi-pemimpin, Agus Pakpahan aktif membangun jejaring dan kurikulum. Kunjungan kerja ke FEB UNY menegaskan orientasi penguatan kompetensi usaha dan koperasi, sementara di tingkat lokal ia melepas ratusan mahasiswa KKN untuk mengabdi di puluhan desa di Sumedang—mendorong pembelajaran kontekstual dan solusi nyata bagi masyarakat. “Belajar adalah bekerja untuk sesama,” begitu pesan yang kerap ia gaungkan pada kegiatan kampus.

Di luar kampus, kiprah Agus Pakpahan terekam dalam wacana publik seputar hutan, pertanian, ekonomi sirkular, dan perkoperasian—menginspirasi komunitas petani serta pemangku kepentingan untuk berinovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai gotong royong.

Esai dan pandangan Agus Pakpahan di berbagai media bereputasi menunjukkan konsistensinya pada pembangunan yang adil dan berkelanjutan. “Kemajuan tanpa keadilan hanyalah percepatan tanpa arah; keadilan memberi makna pada laju,” adalah mutiara yang merangkum jalan pikirannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *