Koperasi Pandawa Digital Nusantara (KPDN): Belajar Meyakini Dan Mengerjakan Dari Koperasi Kredit Keling Kumang

Artikel ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.

Dunia wayang
Ilustrasi: Dunia pewayangan - (Sumber: Arie/MMNS)

MajmusSunda News, Kolom Artikel/Opini, Senin (13/10/2025) – Artikel Serial Tropikanisasi dan Kooperatisasi berjudul “Koperasi Pandawa Digital Nusantara (KPDN): Belajar Meyakini Dan Mengerjakan Dari Koperasi Kredit Keling Kumang” ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Rektor IKOPIN University Bandung.

Tokoh: Menteri Komunikasi dan Informatika Kerajaan Pandawa; Menteri Koperasi Kerajaan Pandawa; CEO Platform Digital Global (Antagonis: perwujudan kapitalisme platform); Tim Developer CGU (Mahasiswa Fakultas Teknologi Koperasi); Manajer Teknologi Koperasi Kredit Keling Kumang (Praktisi ahli); Digital Twin B.J. Habibie & Steve Jobs; Semar & Punakawan sebagai Tim Uji Coba Aplikasi, dan; Koperasi-Koperasi Desa Early Adopters.

Latar: Command Center Digital Koperasi Pandawa di Universitas Koperasi Tumaritis; Server Lokal Berbentuk Rumah Betang di Kalimantan (berbasis pengalaman Keling Kumang); Desa-Desa Percontohan Digitalisasi Koperasi, dan; Ruang Warung Kopunet (Koperasi Digital Corner).

SELINGAN LAGU: “Suwe Ora Jamu”:

BABAK 1: KRISIS DIGITAL KOPERASI

NARATOR: Di seluruh Kerajaan Pandawa, koperasi desa terjepit antara tradisi dan modernitas. Platform digital global menawarkan kemudahan, namun dengan biaya komisi tinggi dan ancaman terhadap kedaulatan data.

IBU KOPERASI DESA: “Setiap transaksi di platform global, kami harus bayar komisi 20%! Hasil kami habis untuk biaya teknologi!”

BAPAK KOPERASI DESA: “Data anggota kami disimpan di server luar negeri. Kami takut kehilangan kedaulatan atas informasi sendiri.”

MENTERI KOMINFO: (Gelisah) “Kita butuh solusi digital yang tak mengorbankan kedaulatan. Tapi adakah bukti bahwa kita bisa membangun platform sendiri?”

BABAK 2: SANG PERCONTOHAN DARI KALIMANTAN BARAT

NARATOR: Dari Kalimantan Barat, Kabupaten Sekadau, datanglah kabar menggembirakan. Koperasi Kredit Keling Kumang telah membuktikan bahwa koperasi bisa mengembangkan teknologi digital sendiri.

MANAJER TEKNOLOGI KELING KUMANG: (Mempresentasikan dashboard) “Dari Sekadau, Kalimantan Barat, kami memulai perjalanan digital sejak 2023. Kini, 2025, kami memiliki 7 sistem digital yang sepenuhnya dikembangkan internal.”

SEMAR: (Terkagum-kagum) “Luar biasa! Bisa ceritakan rahasianya?”

MANAJER TEKNOLOGI: “Kuncinya sederhana: MEYAKINI dulu, baru MENGERJAKAN. Kami percaya bahwa developer lokal memahami kebutuhan lokal.”

BABAK 3: FALSAFAH MEYAKINI DAN MENGERJAKAN

DI COMMAND CENTER TUMARITIS, Manajer Teknologi Keling Kumang berbagi filosofi:

“MEYAKINI bukan sekadar percaya, tapi keyakinan yang dilandasi pemahaman. Kami MEYAKINI bahwa: 1. Teknologi harus melayani bisnis proses koperasi; 2. Developer lokal paham budaya lokal; 3. Nilai-nilai koperasi bisa di-digitalkan.”

“MENGERJAKAN adalah eksekusi konsisten: 1. Tim dedicated 50 orang; 2. Development rutin setiap hari, dan; 3. Continuous improvement berdasarkan feedback.”

DIGITAL TWIN B.J. HABIBIE:

“Inilah mastery of technology sejati! Bukan pakai, tapi paham dan kuasai!”

BABAK 4: PROSES BERTAHAP YANG TERBUKTI

MANAJER TEKNOLOGI memaparkan roadmap sukses Keling Kumang:

“Fase 1 (2023): Core Banking System

  • MEYAKINI: Sistem inti bisa dibuat sendiri
  • MENGERJAKAN: Development 12 bulan
  • Hasil: Sistem terintegrasi 65 cabang

Fase 2 (2024): KelingMobile

  • MEYAKINI: Mobile banking diperlukan
  • MENGERJAKAN: Pengembangan aplikasi
  • Hasil: 250,000 pengguna aktif

Fase 3 (2025): Digital Ecosystem

  • MEYAKINI: Platform lengkap mungkin
  • MENGERJAKAN: Integrasi sistem
  • Hasil: 7 sistem terintegrasi”

PETANI ANGGOTA: “Saya MEYAKINI sistem ini karena dibuat koperasi, untuk koperasi. Setelah MENGERJAKAN transaksi, terbukti handal!”

BABAK 5: KELAHIRAN KPDN

MENTERI KOPERASI PANDAWA: (Berdiri di depan rapat nasional)

“Berdasarkan pembelajaran dari Keling Kumang, hari ini kita resmikan Koperasi Pandawa Digital Nusantara – KPDN!”

FITUR UTAMA KPDN: 1. Pasar Digital Koperasi – E-commerce produk koperasi; 2. Simpan Pinjam Digital – Fintech syariah; 3. Sekolah Koperasi Online – Platform edukasi; 4. Data Analytics Koperasi – Business intelligence, dan; 5. Koperasi Connect – Jejaring nasional.

KEUNGGULAN KPDN: Server lokal 34 provinsi; Biaya transaksi 1%; Algorithm keberpihakan; Interface bahasa daerah, dan; Offline capability.

BABAK 6: TIM DEVELOPER MULTIDISIPLIN

TIM DEVELOPER CGU menunjukkan antusiasme:

DEVELOPER 1 (Lulusan Informatika): “Saya handle technical architecture”

DEVELOPER 2 (Lulusan Ekonomi): “Saya design business process”

DEVELOPER 3 (Lulusan Sosiologi): “Saya ensure user experience sesuai budaya lokal”

DEVELOPER 4 (Lulusan Desain): “Saya create interface berbasis kearifan lokal”

SEMAR: “Inilah kekuatan sebenarnya! Tim yang memahami teknologi DAN memahami koperasi!”

BABAK 7: UJI COBA DAN PENYEMPURNAAN

PUNAKAWAN sebagai tim uji coba:

GARENG: “Fitur offline-nya sudah bagus, tapi loading-nya masih lambat di daerah sinyal lemah.”

DAWALA:”Warna interface-nya terlalu terang, susah dibaca di terik matahari.”

CEPOT:”Notifikasi transaksi perlu lebih jelas, biar anggota tak bingung.”

TIM DEVELOPER segera melakukan improvement berdasarkan masukan.

MANAJER TEKNOLOGI: “Inilah keindahan development kolaboratif! User terlibat langsung dalam penyempurnaan.”

BABAK 8: KONFRONTASI DENGAN PLATFORM GLOBAL

CEO PLATFORM GLOBAL: (Marah) “Mereka berani saingi kita? Turunkan harga! Nol persen komisi! Bakar modal sampai mereka bangkrut!”

MENTERI KOMINFO: (Tenang) “Kita tak hadapi dengan modal, tapi dengan nilai. Platform mereka efisien, tapi platform kita punya jiwa.”

STRATEGI KPDN: 1. Edukasi masif tentang pentingnya kedaulatan data; 2. Demonstrasi keunggulan sistem offline; 3. Kolaborasi dengan koperasi existing, dan; 4. Cerita sukses dari early adopters.

BABAK 9: KEMENANGAN YANG TERUKUR

DASHBOARD 6 BULAN PERTAMA: 1.500.000 pengguna aktif; 75.000 koperasi terdaftar; Rp 3 triliun transaksi bulanan; NPL 1.5% (lebih baik dari perbankan), dan; Kepuasan pengguna: 97%.

TESTIMONI:

KOPERASI DESA JAWA: “Dengan KPDN, hasil penjualan langsung ke anggota, tanpa perantara!”

KOPERASI DESA BALI: “Biaya transaksi 1% vs 20% di platform global – ini revolusi!”

KOPERASI DESA SULAWESI: “Server lokal, data aman, hati tenang!”

CEO PLATFORM GLOBAL: (Menyerah) “Kami kalah bukan oleh teknologi, tapi oleh filosofi. Platform kalian punya jiwa yang tak kami miliki.”

BABAK 10: VISI KE DEPAN

ROADMAP KPDN 2026-2030: 2026: Konsolidasi nasional, 5 juta pengguna; 2027:Penguatan fitur AI lokal; 2028:Ekspansi ASEAN; 2029:Platform global alternatif, dan; 2030:50 juta pengguna, referensi dunia.

DIGITAL TWIN STEVE JOBS:

“Technology alone is not enough. Technology married with humanities, married with local wisdom, yields the results that make our heart sing.”

SEMAR: (Penuh kebanggaan) “Anak-anakku, KPDN membuktikan: yang lokal bisa go global, yang tradisi bisa jadi modern, yang kecil bisa jadi besar – asal kita MEYAKINI dan MENGERJAKAN!”

SABDA PAMUNGKAS DALANG:

Dari keyakinan jadi kenyataan. Dari konsep jadi implementasi. KPDN buktikan pada dunia .Teknologi bisa berjiwa nusantara.

Server dalam rumah betang. Algorithm gotong royong. Biaya transaksi rakyat. Jiwa tetap Pancasila.

Platform global mengakui. Kekuatan dari lokalitas. Bukan modal yang menentukan. Tapi nilai yang diyakini.

Untuk Indonesia 2045. Digital dan berdaulat. Berdiri di platform sendiri. Berkat MEYAKINI dan MENGERJAKAN!

***

Noted:

Tropikanisasi adalah sebuah konsep transformatif yang merujuk pada proses mengangkat, memulihkan, dan memodernisasi kekayaan tropis—baik dalam pangan, budaya, ekonomi, maupun spiritualitas—sebagai fondasi kedaulatan dan keberlanjutan bangsa tropis seperti Indonesia.

Judul: Koperasi Pandawa Digital Nusantara (KPDN): Belajar Meyakini Dan Mengerjakan Dari Koperasi Kredit Keling Kumang
Penulis: Prof. Agus Pakpahan
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas Info Penulis

Prof. Agus Pakpahan memimpin IKOPIN University sejak 29 Mei 2023 untuk periode 2023–2027. Ia dikenal sebagai ekonom pertanian yang menaruh perhatian pada penguatan ekosistem perkoperasian dan tata kelola kebijakan publik.

Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.,
Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Penulis – (Sumber: Arie/MMSN)

Di bawah kepemimpinan Agus Pakpahan, IKOPIN mendorong kemitraan strategis dan pembenahan tata kelola kampus, termasuk menyambut inisiatif pemerintah agar IKOPIN bertransformasi menuju skema Badan Layanan Umum (BLU) di lingkungan Kemenkop UKM—sebuah langkah untuk memperkuat daya saing kelembagaan dan mutu layanan pendidikan. “Pendidikan yang berpihak pada kemajuan adalah jembatan masa depan,” demikian ruh visi yang ia usung.

Lahir di Sumedang, 29 Januari 1956, Agus Pakpahan menempuh S-1 di Fakultas Kehutanan IPB (1978) dan meraih M.S. Ekonomi Pertanian di IPB (1981). Ia kemudian meraih Ph.D. Ekonomi Pertanian dengan spesialisasi Ekonomi Sumber Daya Alam dari Michigan State University (1988). Latar akademik ini mengokohkan reputasinya di bidang kebijakan sumber daya alam, pertanian, dan pembangunan pedesaan. “Ilmu adalah cahaya; manfaatnya adalah sinar yang menuntun,” menjadi prinsip kerja ilmiahnya.

Kariernya panjang di pemerintahan: bertugas di Bappenas pada 1990-an, lalu dipercaya sebagai Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (1998–2002). Di tengah restrukturisasi, ia memilih mundur pada 2002—sebuah sikap yang tercatat luas di media arus utama.

Sesudahnya, Agus Pakpahan menjabat Deputi Menteri BUMN Bidang Usaha Agroindustri, Kehutanan, Kertas, Percetakan, dan Penerbitan (2005–2010), memperlihatkan kapasitasnya menautkan riset, kebijakan, dan bisnis negara. “Integritas adalah kompas; kebijakan adalah peta,” ringkasnya tentang tata kelola.

Sebagai akademisi-pemimpin, Agus Pakpahan aktif membangun jejaring dan kurikulum. Kunjungan kerja ke FEB UNY menegaskan orientasi penguatan kompetensi usaha dan koperasi, sementara di tingkat lokal ia melepas ratusan mahasiswa KKN untuk mengabdi di puluhan desa di Sumedang—mendorong pembelajaran kontekstual dan solusi nyata bagi masyarakat. “Belajar adalah bekerja untuk sesama,” begitu pesan yang kerap ia gaungkan pada kegiatan kampus.

Di luar kampus, kiprah Agus Pakpahan terekam dalam wacana publik seputar hutan, pertanian, ekonomi sirkular, dan perkoperasian—menginspirasi komunitas petani serta pemangku kepentingan untuk berinovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai gotong royong.

Esai dan pandangan Agus Pakpahan di berbagai media bereputasi menunjukkan konsistensinya pada pembangunan yang adil dan berkelanjutan. “Kemajuan tanpa keadilan hanyalah percepatan tanpa arah; keadilan memberi makna pada laju,” adalah mutiara yang merangkum jalan pikirannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *