Kelahiran Rumpun Ilmu Koperasi: Lahirnya Sarjana Koperasi (S.Kop) Alumni Universitas Koperasi Tumaritis

Artikel ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.

Dunia wayang
Ilustrasi: Dunia pewayangan - (Sumber: Arie/MMNS)

MajmusSunda News, Kolom Artikel/Opini, Jumat (10/10/2025) – Artikel Serial Tropikanisasi dan Kooperatisasi berjudul “Kelahiran Rumpun Ilmu Koperasi: Lahirnya Sarjana Koperasi (S.Kop) Alumni Universitas Koperasi Tumaritis” ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Rektor IKOPIN University Bandung.

Episode ini menampilkan pagelaran wayang golek dengan lakon Semar dan Punakawan serta Kresna, mendesak Prabu Yudhistira, Raja Pandawa, untuk mengangkat status Koperasi atau Perkoperasian sebagai rumpun keilmuan multidisiplin mandiri, setelah berlalu 80 tahun merdeka. Sang Raja Pandawa akhirnya mengeluarkan titahnya untuk mengangkat Perkoperasian sebagai rumpun ilmu multidisiplin mandiri.

Tokoh: Semar, Cepot, Dawala, Gareng (Parikanawa/Punakawan); Pandawa Lima (Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa); Kresna (Penasihat); Durna & Sengkuni (Antagonis Utama, di sini sebagai Rektor dan Dekan “warisan kolonial”); Dursasana (Kepala Proyek Perkebunan); Para Koloni  (Perwujudan Kurikulum Kolonial & Sistem Monokultur).

Latar: Sebuah “Kampus Agung Nusa Hijau” (alegori sistem pendidikan warisan kolonial) dan sawah rakyat.

LAGU SELINGAN: DI DOA IBUKU NAMAKU DISEBUT

https://youtube.com/clip/UgkxfmxfX1kN_FCMFWIH1jxvEk1pC7LkUmpL?si=y6mGqo4ZspUGwcZy

PROLOG: KELUHAN PETANI BERIJAZAH

(Lampu menyorot Cepot yang memakai toga dan baju tani, terlihat bingung).

CEPOT: Aneh… benar-benar aneh! Aku dapat gelar “Insinyur Pertanian Ternama” dari Kampus Agung Nusa Hijau. Tapi kenapa lumbung padiku sendiri kosong? Kenapa aku masih dijebak ijon?

GARENG: (Memegang ijazahnya) Kulo… kulo lulusan Teknik Mesin. Pinter mbongkar mesin pabrik gula… tapi… mboten iso mbangun mesin ekonomi kanggo sedulur-sedulur tani.

DAWALA: La… la… kita ini dicetak untuk menjadi “tukang” yang andal, bukan “tuan” bagi ekonomi kita sendiri!

(Semar masuk dengan membawa dua buku: satu tebal berjudul “TEORI MONOKULTUR”, satu lagi tipis dan berdebu berjudul “ILMU KOPERASI”).

SEMAR: Inilah akar persoalannya, Nak. Kalian disekolahkan untuk memperkuat sistem yang sudah ada, bukan untuk menciptakan sistem yang memerdekakan.

ADEGAN 1: KURIKULUM SANG KOLONI

(Panggung berganti menjadi ruang kuliah. Durna berjubah rektor, Sengkuni berjubah dekan).

DURNA: (Berpidato) Para mahasiswa! Ingatlah! Tujuan kalian belajar adalah untuk mengabdi pada kemajuan Negeri Astina! Fokuslah pada ilmu perkebunan skala besar, teknik mesin pabrik, dan kimia pengolahan! Itulah jalan menjadi insinyur terhormat!

SENGKUNI: (Bisik licik) Hehehe… “Mengabdi pada Negeri Astina” maksudnya, mengabdi pada sistem perkebunan milik keluarga kerajaan dan konglomerat yang sudah mapan. Jangan sampai ada yang memikirkan “koperasi”.

(Para Koloni, kali ini berwujud seperti diagram alir pabrik dan pohon kelapa sawit tunggal, menari-nari di belakang mereka).

KOLONI1: (Bersuara mesin) Kami butuh insinyur! Bukan kader koperasi! Output kami adalah GULA, KARET, SAWIT! Bukan KEMANDIRIAN!

KOLONI2: (Bersuara kaku) Ilmu itu harus spesifik! Terukur! Untuk efisiensi pabrik! Koperasi? Itu ilmu sosial yang amburadul, tidak ilmiah!

DURSASANA: (Memegang cemeti) Lihat aku! Aku lulusan terbaik Manajemen Perkebunan! Tugasku mengawasi kalian bekerja, bukan mengajak kalian bermusyawarah bagi hasil!

(Bima dan Arjuna yang kebetulan lewat, terlihat tertarik pada pelajaran, tapi juga bingung).

BIMA: Ilmu yang diajarkan memang hebat, Kang. Tapi kok rasanya kita hanya diajari menjadi bagian dari mesin besar, bukan menjadi pemilik mesin kecil-kecilan kita sendiri?

ARJUNA: Iya. Tidak ada satu pun mata kuliah “Manajemen Koperasi Tani” atau “Demokrasi Ekonomi”.

ADEGAN 2: SEMAR MENGADU KE KRESNA DAN YUDHISTIRA

(Di pendopo kerajaan, Yudhistira sedang memandang peta Astina yang dipenuhi simbol pabrik dan perkebunan besar).

YUDHISTIRA: Kresna, produksi kita melimpah. Tapi mengapa kemiskinan tak kunjung hilang? Mengapa stunting banyak terjadi di sekitar perkebunan besar? Mengapa jurang antara pemilik pabrik dan petani semakin lebar?

KRESNA: Itu karena “pembangunan”-mu, Yudhistira, masih berjalan di atas rel yang dipasang oleh Durna dan Sengkuni. Rel itu mengarah ke pelabuhan ekspor, tetapi tidak pernah memutar ke desa-desa untuk membangun kemandirian.

(Semar dan Punakawan masuk).

SEMAR: Paduka, izinkan hamba berbicara terus terang. Selama ini, kita hanya membangun “pabriknya”, tetapi lupa membangun “manusia pemiliknya”. Kita punya ribuan insinyur andal, tapi tidak punya satu pun “Profesor Koperasi”.

YUDHISTIRA: Maksudmu, Semar?

SEMAR: Lihatlah! (Mengacungkan kedua buku itu). Buku “Teori Monokultur” ini diajarkan di semua kampus, menghasilkan ribuan sarjana. Tapi buku “Ilmu Koperasi” ini? Ia bahkan tidak diakui sebagai rumpun ilmu! Ia hanya jadi mata kuliah sampingan di Fakultas Ekonomi! Akibatnya, setelah 80 tahun merdeka, kita tidak punya ahli koperasi selevel Guru Durna di bidang Kapitalisme!

ADEGAN 3: KONFRONTASI DI RUANG SENAT

(Semar dan Punakawan mendatangi ruang sidang senat kampus, dimana Durna dan Sengkuni sedang rapat).

DURNA: Semar, ini ruang akademisi. Kau tidak paham kurikulum nasional.

SEMAR: Aku paham “warisan”, Durna! Kalian sengaja menciptakan sistem dimana ilmu untuk menguasai diajarkan secara formal, sementara ilmu untuk memerdekakan dibiarkan terpencar dan tidak diakui!

CEPOT: (Bersemangat) Benar! Kenapa ada Gelar  “S.T.”, “S.P.”, “S.E.” dan lainnya untuk lulusan kalian, tapi tidak ada gelar “S.Kop.” untuk Sarjana Koperasi? Kenapa ilmu koperasi harus numpang panggung di rumpun ilmu lain?

SENGKUNI: (Berdalih) Itu karena… koperasi bukan ilmu eksak! Ia tidak punya tubuh pengetahuan yang mandiri!

GARENG: Mboten… mboten… mandiri? Prinsip Rochdale, nilai-nilai gotong royong, manajemen partisipatif, Nash Cooperative Equilibrium, itu semua adalah ilmu! Ilmu yang kalian abaikan karena tidak menguntungkan sistem warisan kolonial ini!

DAWALA: La… la… kalian takut! Jika nanti muncul “Insinyur Koperasi” atau “Doktor Koperasi”, mereka akan membangun sistem tandingan yang memutus ketergantungan rakyat pada pabrik-pabrik ini!

(Para KOLONI kurikulum menjerit-jerit ketakutan).

ADEGAN 4: MENDIRIKAN “UNIVERSITAS KOPERASI TUMARITIS”

KRESNA: (Kepada Yudhistira) Semar benar. Kedaulatan politik harus diimbangi kedaulatan ilmu. Kita tidak bisa membangun koperasi dengan hanya mengandalkan pelatihan 3 hari. Butuh disiplin ilmu yang serius.

YUDHISTIRA: Baik! Atas nasihat Semar dan Kresna, aku perintahkan! Kita akan dirikan Universitas Koperasi Tumaritis! Di sini, ilmu koperasi akan ditempatkan sebagai rumpun ilmu yang setara! Akan ada Fakultas Ekonomi Koperasi, Fakultas Hukum Koperasi, bahkan Fakultas Teknologi untuk Koperasi!

BIMA: Aku akan jadikan ini perjuangan baruku! Mendirikan koperasi sekuat mendirikan candi!

ARJUNA: Aku akan bantu merumuskan kurikulumnya, mengajarkan keadilan dan strategi.

NAKULA & SADEWA: Kami akan ajarkan praktik akuntansi dan teknologi tepat guna untuk koperasi.

SEMAR: (Kepada Durna & Sengkuni) Zaman telah berganti. Ilmu kalian masih berguna, tapi ia harus didampingi oleh ilmu pemerdekaan. Jika tidak, kalian hanya akan mencetak manusia terdidik untuk sistem yang tidak adil.

(Durna dan Sengkuni tertunduk, dikelilingi oleh bayangan para KOLONI yang mulai memudar).

EPILOG: MENCETAK DOKTOR KOPERASI

(Lampu terang. Cepot, Gareng, Dawala kini memakai jubah akademik baru bergambar koperasi).

CEPOT: Sekarang, selain Insinyur pertanian, aku juga sedang menempuh gelar “Doktor Koperasi”! Aku akan teliti bagaimana koperasi tani bisa memiliki pabrik pengolahan sendiri seperti yang berkembang di negara maju!

GARENG: Kulo… kulo mboten kejawab mlampah… karena sekarang kulo akan mbangun Sistem Informasi Keuangan untuk Koperasi Serba Usaha!

DAWALA: La… la… ini baru adil! Ilmu untuk menguasai dan ilmu untuk memerdekakan, berdiri sejajar!

SEMAR: (Kepada Penonton) Para Pinisepuh… Masalah terbesar kita bukanlah bodoh. Tapi “salah arah didik”. Kita hebat mengelola kebun dan pabrik orang lain, tetapi gagap mengelola usaha bersama untuk kemandirian kita sendiri. Hingga Ilmu Koperasi diakui sebagai rumpun ilmu yang mandiri dan terhormat, hingga lahir “Profesor Koperasi” dan “Doktor Koperasi” dari Universitas Koperasi Semar, maka warisan kolonial dalam dunia pendidikan akan terus bercokol. Karena koperasi yang kuat lahir dari ilmu yang kuat, bukan dari sisa-sisa pelatihan!

SABDA PAMUNGKAS DALANG:

Pendidikan kolonial cetak tukang, untuk perkebunan yang eling.
Ilmu koperasi dibiarkan lunglai, tak diakui sebagai ilmu mandiri.
Kini saatnya ubah arah didik, ciptakan profesor dan doktor koperasi.
Agar kemandirian ekonomi, bukan lagi sekadar mimpi di siang hari!

(Lampu padam. Tepuk tangan menggema).

***

Noted:

Tropikanisasi adalah sebuah konsep transformatif yang merujuk pada proses mengangkat, memulihkan, dan memodernisasi kekayaan tropis—baik dalam pangan, budaya, ekonomi, maupun spiritualitas—sebagai fondasi kedaulatan dan keberlanjutan bangsa tropis seperti Indonesia.

Judul: Kelahiran Rumpun Ilmu Koperasi: Lahirnya Sarjana Koperasi (S.Kop) Alumni Universitas Koperasi Tumaritis
Penulis: Prof. Agus Pakpahan
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas Info Penulis

Prof. Agus Pakpahan memimpin IKOPIN University sejak 29 Mei 2023 untuk periode 2023–2027. Ia dikenal sebagai ekonom pertanian yang menaruh perhatian pada penguatan ekosistem perkoperasian dan tata kelola kebijakan publik.

Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.,
Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Penulis – (Sumber: Arie/MMSN)

Di bawah kepemimpinan Agus Pakpahan, IKOPIN mendorong kemitraan strategis dan pembenahan tata kelola kampus, termasuk menyambut inisiatif pemerintah agar IKOPIN bertransformasi menuju skema Badan Layanan Umum (BLU) di lingkungan Kemenkop UKM—sebuah langkah untuk memperkuat daya saing kelembagaan dan mutu layanan pendidikan. “Pendidikan yang berpihak pada kemajuan adalah jembatan masa depan,” demikian ruh visi yang ia usung.

Lahir di Sumedang, 29 Januari 1956, Agus Pakpahan menempuh S-1 di Fakultas Kehutanan IPB (1978) dan meraih M.S. Ekonomi Pertanian di IPB (1981). Ia kemudian meraih Ph.D. Ekonomi Pertanian dengan spesialisasi Ekonomi Sumber Daya Alam dari Michigan State University (1988). Latar akademik ini mengokohkan reputasinya di bidang kebijakan sumber daya alam, pertanian, dan pembangunan pedesaan. “Ilmu adalah cahaya; manfaatnya adalah sinar yang menuntun,” menjadi prinsip kerja ilmiahnya.

Kariernya panjang di pemerintahan: bertugas di Bappenas pada 1990-an, lalu dipercaya sebagai Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (1998–2002). Di tengah restrukturisasi, ia memilih mundur pada 2002—sebuah sikap yang tercatat luas di media arus utama.

Sesudahnya, Agus Pakpahan menjabat Deputi Menteri BUMN Bidang Usaha Agroindustri, Kehutanan, Kertas, Percetakan, dan Penerbitan (2005–2010), memperlihatkan kapasitasnya menautkan riset, kebijakan, dan bisnis negara. “Integritas adalah kompas; kebijakan adalah peta,” ringkasnya tentang tata kelola.

Sebagai akademisi-pemimpin, Agus Pakpahan aktif membangun jejaring dan kurikulum. Kunjungan kerja ke FEB UNY menegaskan orientasi penguatan kompetensi usaha dan koperasi, sementara di tingkat lokal ia melepas ratusan mahasiswa KKN untuk mengabdi di puluhan desa di Sumedang—mendorong pembelajaran kontekstual dan solusi nyata bagi masyarakat. “Belajar adalah bekerja untuk sesama,” begitu pesan yang kerap ia gaungkan pada kegiatan kampus.

Di luar kampus, kiprah Agus Pakpahan terekam dalam wacana publik seputar hutan, pertanian, ekonomi sirkular, dan perkoperasian—menginspirasi komunitas petani serta pemangku kepentingan untuk berinovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai gotong royong.

Esai dan pandangan Agus Pakpahan di berbagai media bereputasi menunjukkan konsistensinya pada pembangunan yang adil dan berkelanjutan. “Kemajuan tanpa keadilan hanyalah percepatan tanpa arah; keadilan memberi makna pada laju,” adalah mutiara yang merangkum jalan pikirannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *