MajmusSunda News, Kolom OPINI, Selasa (12/08/2025) – Artikel berjudul “Implikasi Teori Kenneth Arrow dalam Koordinasi Ekonomi untuk Rancang Bangun Koperasi” ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Anggota Pini Sepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Rektor IKOPIN University Bandung.
Kenneth J. Arrow dianugerahi Nobel Memorial Prize in Economic Sciences pada 1972, bersama Sir John Hicks atas kontribusinya yang mendalam terhadap teori keseimbangan umum dan teori kesejahteraan ekonomi. Salah satu gagasan paling berpengaruh dari Arrow adalah Impossibility Theorem dalam social choice theory yang menunjukkan bahwa tidak ada sistem pemungutan suara atau pengambilan keputusan kolektif yang dapat memenuhi semua kriteria keadilan dan rasionalitas secara bersamaan. Temuan ini memiliki implikasi besar terhadap desain kelembagaan, termasuk organisasi koperasi.

Arrow juga dikenal karena analisisnya tentang ekonomi informasi, risiko, dan koordinasi dalam organisasi yang ia uraikan dalam karya pentingnya The Limits of Organization (1974). Ia menunjukkan bahwa pasar dan hierarki memiliki keterbatasan dalam mengkoordinasikan keputusan ekonomi, terutama ketika informasi tersebar secara tidak merata dan biaya komunikasi tinggi. Dalam konteks ini, organisasi seperti koperasi dapat menjadi solusi kelembagaan yang lebih efisien dan adil.
Koperasi vs. Perseroan Terbatas: Koordinasi, Informasi, dan Keadilan
Dalam kerangka Arrow, koperasi dan PT memiliki struktur kelembagaan yang berbeda dalam mengelola informasi, preferensi individu, dan koordinasi keputusan:
– Koperasi memungkinkan anggota untuk berpartisipasi langsung dalam pengambilan keputusan, berbagi informasi secara horizontal, dan membentuk preferensi sosial melalui deliberasi. Meskipun tidak sempurna secara matematis (seperti yang ditunjukkan oleh Impossibility Theorem), koperasi dapat mengandalkan norma sosial dan identitas kolektif untuk mencapai hasil yang mendekati keadilan dan efisiensi.
– PT mengandalkan struktur hierarkis dan insentif pasar. Informasi seringkali tersentralisasi di manajemen dan preferensi pemegang saham tidak selalu selaras dengan kepentingan pekerja atau konsumen. Koordinasi dilakukan melalui kontrak dan harga, yang bisa gagal dalam kondisi ketidakpastian tinggi atau interdependensi sumber daya.
Arrow menunjukkan bahwa tidak ada mekanisme tunggal yang sempurna, tetapi koperasi memiliki keunggulan dalam mengelola kompleksitas sosial dan informasi yang tersebar, terutama dalam konteks pembangunan ekonomi berbasis komunitas.
Bidang Usaha yang Cocok: Ketika Informasi dan Keadilan Menjadi Modal Institusional
Teori Arrow menunjukkan bahwa koperasi paling efektif dalam sektor-sektor yang menuntut: Koordinasi antar pelaku yang setara; Distribusi informasi yang tersebar; Kebutuhan akan keadilan sosial dan efisiensi ekonomi, dan; Risiko dan ketidakpastian yang tidak dapat sepenuhnya dikendalikan oleh pasar
Contoh bidang usaha yang cocok meliputi:
Pertama, agroindustri berbasis beras, sekam, dan dedak. Informasi tentang pasokan, teknologi, dan preferensi konsumen tersebar di komunitas petani. Koperasi dapat mengkoordinasikan produksi dan distribusi secara efisien dan adil.
Kedua, koperasi energi berbasis biomassa lokal. Risiko dan ketidakpastian teknologi serta kebijakan lingkungan memerlukan struktur kelembagaan yang fleksibel dan partisipatif.
Ketiga, layanan keuangan mikro dan koperasi kredit. Informasi lokal dan reputasi sosial memungkinkan pengelolaan risiko dan alokasi modal secara efisien, tanpa perlu sistem insentif pasar yang kompleks.
Keempat, distribusi pangan komunitas dan logistik lokal. Koperasi dapat mengatasi kegagalan pasar dalam distribusi pangan dengan membangun sistem yang berbasis solidaritas dan informasi lokal.
Penutup: Koperasi sebagai Institusi Arrowian
Kenneth Arrow membuktikan bahwa koordinasi ekonomi bukan hanya soal harga dan kontrak, tetapi juga soal informasi, preferensi sosial, dan desain kelembagaan. Dalam dunia yang semakin kompleks dan saling bergantung, koperasi menawarkan arsitektur kelembagaan yang mampu mengelola informasi secara demokratis, membangun keadilan sosial, dan menciptakan efisiensi kolektif.
Dengan mengintegrasikan teori Arrow ke dalam desain kelembagaan koperasi, kita membangun organisasi yang tidak hanya efisien secara ekonomi, tetapi juga adil secara sosial dan tangguh terhadap ketidakpastian. Koperasi bukan sekadar alternatif PT, tetapi platform kelembagaan yang relevan untuk pembangunan ekonomi tropis yang berkelanjutan dan berkeadilan.
***
Judul: Implikasi Teori Kenneth Arrow dalam Koordinasi Ekonomi untuk Rancang Bangun Koperasi
Penulis: Prof. Agus Pakpahan
Editor: Jumari Haryadi










