Ilmu Perkoperasian, Koperasi, dan Indonesia Emas 2045: Melawan Agnogenesis Status Quo atau Lebih Buruk?

Artikel ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.

Dunia pewayangan
Ilustrasi: Dunia pewayangan - (Sumber: Arie/MMNS)

MajmusSunda News, Kolom Artikel/Opini, Jumat (19/09/2025) – Artikel Serial Tropikanisasi dan Kooperatisasi berjudul “Ilmu Perkoperasian, Koperasi, dan Indonesia Emas 2045: Melawan Agnogenesis Status Quo atau Lebih Buruk?” ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Rektor IKOPIN University Bandung.

Sebuah Dialog Kebijakan dalam Balutan Kearifan Lokal dan Data Akademis

Setting: Pendopo agung di kaki Gunung Tampomas. Bapak Semar duduk di tengah, dikelilingi oleh Gareng, Petruk, dan Cepot. Yudistira, Kresna, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan Gatotkaca hadir dengan khidmat.

Bapak Semar: (Dengan suara berat) Anak-anakku, hari ini kita berkumpul untuk membahas nasib bangsa. Di Scandinavia, ilmu koperasi telah bersenyawa dan mendarah daging dalam tubuh, jiwa, dan pikiran bangsa mereka. Tak heran jika mereka menjadi bangsa yang makmur dan adil.

Gareng: (Bingung) Maksudnya bagaimana, Pak?

Cepot: (Menjelaskan) Maksudnya, Gareng, bagi mereka koperasi bukan sekadar organisasi ekonomi, tetapi bagian dari identitas nasional. Seperti halnya gotong-royong bagi kita.

Data Empiris Scandinavia:

Norwegia: Pendapatan per kapita USD 82.236, Gini 0.27, Corruption Perception Index 85/100; · Swedia: Pendapatan per kapita USD 58.530, Gini 0.28, CPI 83/100; Denmark: Pendapatan per kapita USD 68.094, Gini 0.28, CPI 90/100; Finlandia: Pendapatan per kapita USD 53.655, Gini 0.27, CPI 87/100

Kresna: (Tenang) Bandingkan dengan Indonesia: Pendapatan per kapita USD 4.580, Gini 0.38, CPI 38/100; Kontribusi koperasi terhadap PDB hanya 5%, sementara di Jepang mencapai 10-15%.

Yudistira: (Bijaksana) Perbedaan ini menunjukkan bahwa penguatan ilmu koperasi berkorelasi langsung dengan peningkatan kesejahteraan dan penurunan korupsi. Namun, Indonesia masih terjebak dalam agnogenesis—kebodohan yang diproduksi sistematis—karena koperasi belum diakui sebagai rumpun ilmu mandiri.

Arjuna: (Bersemangat) Sebagai ahli strategi, saya tegaskan: kita perlu Cooperative Grant University (CGU) sebagai adaptasi dari Land Grant University AS yang sukses membangun pertanian dan industrinya melalui Morrill Act 1862. CGU akan menjadi episentrum pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat berbasis koperasi dalam kerangka jejaring universitas dari Aceh hingga Papua. Dengan kehadiran teknologi informasi, akan sangat cepat jejaring tersebut bisa dibangun dan dikembangkan. Jejaring ini yang diberikan sebagai grant analog dengan lahan dalam konteks Land Grant University karya besar Abraham Lincoln di AS.

Nakula: (Analitis) Secara ontologis, koperasi adalah entitas hybrid yang unik: bukan sekadar badan usaha, tetapi juga gerakan ekonomi rakyat. Ia memerlukan pendekatan multidisiplin—ekonomi solidaritas, hukum, teknologi digital, dan tata kelola partisipatif.

Sadewa: (Visioner) Dengan diakuinya ilmu perkoperasian sebagai rumpun mandiri, kita bisa membangun Fakultas Ilmu Perkoperasian dengan struktur seperti IPB: 1. Fakultas Kelembagaan Koperasi (S.M.Kop) analog dengan Fakultas Pertanian; 2. Fakultas Keuangan Koperasi (S.E.Kop) analog dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis; 3. Fakultas Pemberdayaan Komunitas (S.P.M.Kop) analog dengan Fakultas Ekologi Manusia; 4. Fakultas Koperasi Digital (S.T.Kop) analog dengan Fakultas Teknologi; 5. Fakultas Koperasi Sektoral (S.B.Kop). Analog dengan Fakutlas Perikanan, Fakultas Peternakan, Fakultas Kehutanan, dan; 6. Fakultas Audit & Regulasi (S.A.Kop/S.H.Kop) analog dengan Fakuktas Kedokteran Hewan.

Gatotkaca: (Bersemangat) Sementara kita? Korupsi masih menjadi penyakit. Tapi dengan ilmu koperasi yang mandiri, kita bisa memutus mata rantai korupsi melalui sistem yang transparan dan partisipatif sebagaimana telah dibuktikan oleh Koperasi Kredit Keling Kumang dimana NPL yang dicapai di bawah 5%.

Cepot: (Spontan) Lalu bagaimana caranya?

Kresna: (Memandang jauh) Caranya:

Pertama, akademisasi: Dirikan program studi Ilmu Perkoperasian di PTN dan swasta terkemuka secara bertahap untuk dijadikan nucleus-nucleus dalam membentuk jejaring CGU nasional

Kedua, regulasi: Terbitkan Permendikbud untuk mengakui koperasi atau perkoperasian sebagai Rumpun Keilmuan Mandiri dengan gelar Sarjana Koperasi (S.Kop., dengan strata S1, S2, dan S3).

Ketiga, replikasi: Bangun CGU sebagai jejaring nasional dengan IKOPIN University sebagai focal point.

Yudistira: Dan yang terpenting: kita harus berani memimpikan Indonesia Emas 2045, dengan:  Pendapatan per kapita USD 15.000;  Koefisien Gini di bawah 0.30; Kontribusi koperasi terhadap PDB 15%, dan 10.000 lulusan S.Kop. per tahun.

Bapak Semar: (Dengan mata berbinar) Anak-anakku, akhir kata, “Jika Scandinavia bisa, kita pun pasti bisa. Jangan biarkan agnogenesis membunuh potensi bangsa. Mari lahirkan Newton-Newton koperasi dari bumi Indonesia!”

Penutup:

Dialog ini bukan sekadar percakapan, tetapi seruan untuk action. Dengan pengakuan ilmu koperasi sebagai disiplin mandiri dan pembangunan CGU, Indonesia bukan hanya mengejar ketertinggalan, tetapi memimpin dunia dalam ekonomi kerakyatan yang berkeadilan.

***

Semoga wayang bukan sekadar tontonan, tetapi tuntunan.

Noted:

Tropikanisasi adalah sebuah konsep transformatif yang merujuk pada proses mengangkat, memulihkan, dan memodernisasi kekayaan tropis—baik dalam pangan, budaya, ekonomi, maupun spiritualitas—sebagai fondasi kedaulatan dan keberlanjutan bangsa tropis seperti Indonesia.

Judul: Ilmu Perkoperasian, Koperasi, dan Indonesia Emas 2045: Melawan Agnogenesis Status Quo atau Lebih Buruk?
Penulis: Prof. Agus Pakpahan
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas Info Penulis

Prof. Agus Pakpahan memimpin IKOPIN University sejak 29 Mei 2023 untuk periode 2023–2027. Ia dikenal sebagai ekonom pertanian yang menaruh perhatian pada penguatan ekosistem perkoperasian dan tata kelola kebijakan publik.

Prof. Agus Pakpahan
Prof. Agus Pakpahan, Penulis: (Sumber: Arie/MMSN)

Di bawah kepemimpinan Agus Pakpahan, IKOPIN mendorong kemitraan strategis dan pembenahan tata kelola kampus, termasuk menyambut inisiatif pemerintah agar IKOPIN bertransformasi menuju skema Badan Layanan Umum (BLU) di lingkungan Kemenkop UKM—sebuah langkah untuk memperkuat daya saing kelembagaan dan mutu layanan pendidikan. “Pendidikan yang berpihak pada kemajuan adalah jembatan masa depan,” demikian ruh visi yang ia usung.

Lahir di Sumedang, 29 Januari 1956, Agus Pakpahan menempuh S-1 di Fakultas Kehutanan IPB (1978) dan meraih M.S. Ekonomi Pertanian di IPB (1981). Ia kemudian meraih Ph.D. Ekonomi Pertanian dengan spesialisasi Ekonomi Sumber Daya Alam dari Michigan State University (1988). Latar akademik ini mengokohkan reputasinya di bidang kebijakan sumber daya alam, pertanian, dan pembangunan pedesaan. “Ilmu adalah cahaya; manfaatnya adalah sinar yang menuntun,” menjadi prinsip kerja ilmiahnya.

Kariernya panjang di pemerintahan: bertugas di Bappenas pada 1990-an, lalu dipercaya sebagai Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (1998–2002). Di tengah restrukturisasi, ia memilih mundur pada 2002—sebuah sikap yang tercatat luas di media arus utama.

Sesudahnya, Agus Pakpahan menjabat Deputi Menteri BUMN Bidang Usaha Agroindustri, Kehutanan, Kertas, Percetakan, dan Penerbitan (2005–2010), memperlihatkan kapasitasnya menautkan riset, kebijakan, dan bisnis negara. “Integritas adalah kompas; kebijakan adalah peta,” ringkasnya tentang tata kelola.

Sebagai akademisi-pemimpin, Agus Pakpahan aktif membangun jejaring dan kurikulum. Kunjungan kerja ke FEB UNY menegaskan orientasi penguatan kompetensi usaha dan koperasi, sementara di tingkat lokal ia melepas ratusan mahasiswa KKN untuk mengabdi di puluhan desa di Sumedang—mendorong pembelajaran kontekstual dan solusi nyata bagi masyarakat. “Belajar adalah bekerja untuk sesama,” begitu pesan yang kerap ia gaungkan pada kegiatan kampus.

Di luar kampus, kiprah Agus Pakpahan terekam dalam wacana publik seputar hutan, pertanian, ekonomi sirkular, dan perkoperasian—menginspirasi komunitas petani serta pemangku kepentingan untuk berinovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai gotong royong.

Esai dan pandangan Agus Pakpahan di berbagai media bereputasi menunjukkan konsistensinya pada pembangunan yang adil dan berkelanjutan. “Kemajuan tanpa keadilan hanyalah percepatan tanpa arah; keadilan memberi makna pada laju,” adalah mutiara yang merangkum jalan pikirannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *