MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Minggu (13/07/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Gudang Alternatif dan Titik Lemah Penyimpanan Gabah” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Kisah sukses Perum Bulog menyerap gabah dalam Panen Raya padi yang baru lalu, sehingga mampu mengokohkan cadangan beras Pemerintah diatas angka 4 juta ton, tentu saja bakal melahirkan banyak persoalan. Salah satunya adalah bagaimana mengelola penyimpanan gabah yang lebih profesional dan berkualitas.

Titik lemah proses penyimpanan gabah dapat meliputi beberapa aspek. Paling tidak, ada tujuh hal yang patut dicermati dengan seksama. Ketujuh hal itu adalah pertama terkait dengan kondisi gudang. Artinya, gudang yang tidak memenuhi standar penyimpanan yang baik dapat menyebabkan kerusakan gabah akibat kelembaban, suhu yang tidak terkontrol, atau kontaminasi.
Kedua, pengendalian hama. Kurangnya pengendalian hama yang efektif dapat menyebabkan serangan hama seperti kutu, tikus, atau serangga lainnya yang dapat merusak gabah. Ketiga, sistem ventilasi. Dalam hal ini, sistem ventilasi yang tidak memadai dapat menyebabkan kelembaban tinggi dan suhu yang tidak stabil, sehingga mempengaruhi kualitas gabah.
Keempat, penanganan gabah. Maksudnya penanganan gabah yang tidak tepat saat penyimpanan, seperti penumpukan yang tidak rapi atau penggunaan wadah yang tidak sesuai, dapat menyebabkan kerusakan. Kelima, pengawasan kualitas. Kurangnya pengawasan kualitas secara berkala dapat menyebabkan gabah yang disimpan menjadi rusak atau tidak layak konsumsi tanpa terdeteksi.
Keenam, kapasitas gudang. Fakta menunjukan kapasitas gudang yang tidak memadai dapat menyebabkan gabah ditumpuk secara berlebihan, sehingga meningkatkan risiko kerusakan. Ketujuh, teknologi penyimpanan. Kurangnya penggunaan teknologi penyimpanan yang modern dan efektif dapat mempengaruhi kualitas gabah yang disimpan.
Dengan mengetahui titik lemah ini, langkah-langkah perbaikan dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas gabah yang disimpan. Terlebih kebutuhan mendesak yang haris sesegera mungkin untuk diwujudkan. Salah satunya terkait dengan gudang penyimpanan gabah/beras, yang selama ini jumlahnya relatif terbatas.
Seperti diketahui, serapan gabah yang dilakukan Perum Bulog sebagai bagian dari penugasan Pemerintah dalam panen raya kali ini. ternyata melahirkan banyak masalah ysng butuh penanganan dengsn segera. Tingginya gabah yang diserap, membuat Perum Bulog cukup kewalahan dalam menyediakan gudang penyimpanan yang layak, memadai dan representatif.
Dalam jangka pendek dan mendesak, tidsk bisa tidak, terpaksa Perum Bulog mengoptimalkan gudang filial yang ada atau melakukan penyewaan gudang yang ada. Namun dalam jangka menengah dan panjang Pemerintah akan membangun 25 ribu gudang akternatif sebagai solusi tempat penyimpanan gabah/beras yang jumlahnya cukup membludak.
Gudang alternatif adalah fasilitas penyimpanan yang digunakan sebagai alternatif atau tambahan dari gudang utama untuk menyimpan barang, dalam hal ini adalah pangan seperti gabah dan beras. Gudang alternatif dapat berupa gudang sementara, yakni gudang yang digunakan untuk menyimpan barang sementara sebelum dipindahkan ke gudang utama.
Atau sebagai gudang darurat, yaitu gudang yang digunakan untuk menyimpan barang dalam situasi darurat, seperti bencana alam atau kekurangan pangan. Bahkan bisa juga sebagai gudang penyangga, yakni gudang yang digunakan untuk menyimpan barang sebagai penyangga untuk menjaga ketersediaan pangan nasional. Gudang alternatif dapat membantu meningkatkan kapasitas penyimpanan, mengurangi risiko kekurangan pangan, dan meningkatkan efisiensi distribusi pangan.
Kebijakan dan langkah Presiden Prabowo yang memerintahkan para pembantunya membangun 25 ribu gudang alternatif, diharapkan dapat meningkatkan kapasitas penyimpanan pangan, terutama gabah dan beras, yang sekarang ini sangat terbatas jumlahnya, guna menjaga ketersediaan pangan nasional dan stabilitas harga.
Secara teknis, gudang alternatif ini dapat membantu pertama, meningkatkan kapasitas penyimpanan. Dengan adanya gudang alternatif, pemerintah dapat meningkatkan kapasitas penyimpanan pangan, khususnya gabah/beras, sehingga dapat mengurangi risiko kekurangan pangan dan meningkatkan ketersediaan pangan nasional.
Kedua, mengurangi kerusakan pangan. Gudang alternatif yang memadai dapat membantu mengurangi kerusakan pangan akibat penyimpanan yang tidak baik, sehingga dapat meningkatkan kualitas pangan dan mengurangi kerugian ekonomi. Terlebih gabah yang diserap Perum Bulog saat panen raya berlangsung.
Ketiga, meningkatkan efisiensi distribusi. Dengan adanya gudang alternatif, pemerintah dapat meningkatkan efisiensi distribusi pangan, sehingga dapat mengurangi biaya transportasi dan meningkatkan kecepatan pengiriman pangan ke daerah-daerah yang membutuhkan.
Atas gambaran demikian, pembangunan 25 ribu gudang alternatif, secara langsung dapat membantu pemerintah dalam menjaga ketersediaan pangan nasional, meningkatkan kualitas pangan agar tetap terjaga dan aman untuk dikonsumsi sekaligus mengurangi kerugian ekonomi.
Pembangunan 25 ribu gudang alternatif yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo ini, benar-benar cukup solutif. Perum Bulog sendiri pasti akan menyambut baik pembangunan 25 ribu gudang alternatif sebagai jalan keluar untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan pangan, terutama beras. Semoga cepat terwujud. Kalau bisa dipercepat, buat apa diperlambat pembangunannya.
***
Judul: Gudang Alternatif dan Titik Lemah Penyimpanan Gabah
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi










