MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Minggu (08/06/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “”Eundeur”” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
“Eundeur” dalam bahasa Sunda dapat diartikan sebagai “bergetar” atau “bergoyang”. Ini menggambarkan suatu keadaan di mana suatu objek atau struktur mengalami getaran atau goyangan, seringkali karena adanya gerakan atau beban yang mempengaruhinya.
Sebagai contoh nyata, bila dihadapan rumah sedang ada pemadatan jalan oleh stoomwales, pasti rumah akan bergetar, sehingga membuat suasana yang kurang nyaman. Contoh lain, ketika di pagi hari sedang santai menikmati kopi panas, sambil ditemani pisang goreng, lalu ada gempa bumi, maka rumah pun terasa bergetar dan bergoyang.

Dalam konteks politik, “eundeur” tidak memiliki arti khusus yang berbeda dari arti umumnya, yaitu “bergetar” atau “bergoyang”. Namun, dalam beberapa konteks, istilah ini dapat digunakan secara metaforis untuk menggambarkan situasi politik yang tidak stabil atau bergejolak, seperti adanya krisis kepercayaan. Ketika kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah atau lembaga politik mulai bergetar atau goyah.
Atau ketidakstabilan politik. Ketika situasi politik suatu negara atau lembaga politik menjadi tidak stabil atau bergejolak. Dalam konteks ini, “eundeur” digunakan untuk menggambarkan keadaan politik yang tidak menentu atau bergejolak. Atau bisa juga dikatakan keadaan di mana sistem politik suatu negara atau lembaga politik mengalami ketidakpastian, kekacauan, atau konflik yang dapat mempengaruhi fungsi dan legitimasi pemerintah atau lembaga tersebut.
Ketidakstabilan politik dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti adanya konflik kepentingan. Perbedaan kepentingan antara kelompok atau partai politik yang dapat menyebabkan konflik dan ketidakstabilan. Atau adanya krisis kepercayaan. Kehilangan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah atau lembaga politik dapat menyebabkan ketidakstabilan.
Bisa juga ada kekerasan atau kerusuhan. Kekerasan atau kerusuhan yang dilakukan oleh kelompok atau individu dapat menyebabkan ketidakstabilan politik. Bahkan perubahan kebijakan yang drastis atau tidak populer dapat menyebabkan ketidakstabilan politik.
Selain itu, ketidakstabilan politik dapat memiliki dampak negatif pada suatu negara, seperti ekonomi yang tidak stabil. Ketidakstabilan politik dapat mempengaruhi ekonomi suatu negara dan menyebabkan ketidakstabilan ekonomi. Atau kehilangan kepercayaan internasional.
Ketidakstabilan politik dapat mempengaruhi kepercayaan internasional terhadap suatu negara dan menyebabkan kehilangan investasi atau bantuan luar negeri. Juga kerusuhan sosial. Ketidakstabilan politik dapat menyebabkan kerusuhan sosial dan mempengaruhi kehidupan masyarakat.
Munculnya aspirasi untuk memakzulkan Wakil Presiden yang terpilih secara demokratis, mestinya mampu melahirkan ‘keueundeuran’ politik bangsa. Kok blsa ada aspirasi yang demikian. Namun begitu, sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kaedah demokrasi, tentu kita pun perlu menghormati atas adanya aspirasi seperti itu.
Pertanyaannya adalah mengapa dengan adanya keinginan untuk memakzulkan Wakil Prwsiden ini, kesanya terlihat biasa-biasa saja. Dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat pun hampir tidak terjadi ‘eundeur politik’. Masyarakat tampak lebih senang membahas soal akan dibagikannya lagi bansos beras ketimbang bicara pemakzulan Wakil Presiden.
Pemerintah pun terekam biasa-biasa saja menanggapi aspirasi yang ingin memakzulkan Wakil Presiden ini. Pemerintah tetap fokus mewujudkan program dan kegiatan yang dikampanyekan saat Pemilihan Presiden digelar satu tahun lalu. Bahkan Wakil Presidennya pun tetap melaksanakan tugas dan kewajibannya seperti biasanya.
Kendati pun demikian dan tidak terjadi ‘eundeur politik’ dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, tapi ada baiknya jika aspirasi yang ingin memakzulkan Wakil Presiden ini, dapat dijadikan proses pembelajaran kita bersama. Ada apa sebetulnya dengan Wakil Presiden kita hari ini ? Mengapa ada yang ingin memakzulkannya ?
Inilah serangkaian pertanyaan yang butuh jawaban cerdas. Kita percaya, para penyusun aspirasi yang ingin memakzulkan Wakil Presiden memiliki alasan kuat, sehingga berani menyampaikan keinginan politiknya itu. Tidak perlu ada yang kebakaran jenggot dalam menyikapinya. Tidak juga terjadi ‘eundeur politik’. Secara umum, semua berjalan wajar dan biasa.
Alhamdulilah…..
***
Judul: “Eundeur”
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi












