MAJMUSSUNDA NEWS, Kolom OPINI, Sabtu (07/02/2026) – Tulisan berjudul “Drs. Dadang, M.Pd. Penemu Alat Pengolah Sampah Tanpa Pilah: Siap Bantu Pemerintah Tangani sampah yang Melimpah” ini merupakan karya Asep Zaenal Mustofa (AZM), pensiunan PNS di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang saat ini bekerja sebagai Direktur Utama PT Majmu Musti Sundaya.
Drs. Dadang, M.Pd., adalah seorang alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1990. Ia sudah mengabdi selama 20 tahun di beberapa Perguruan Tinggi sebagai Dosen Mata Kuliah Fisika. Saat ini ia mengembangkan alat pengolah sampah Thermal Decomposer Bio Sublime. Ia siap membantu pemerintah dalam menangani sampah tanpa pilah.

Pria yang akrab dipanggil Adang ini, saat ditemui penulis di Workshop Jalupang Teknik, Kampung Jalaupan, RT 001, RW 07, Desa Citalem, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, menyampaikan bahwa alat ini pertama kali ditemukannya pada 2015 silam. Hal tersebut merupakan bentuk solusi atas keprihatinannya melihat pembakaran sampah dengan suhu tinggi dan adanya pencemaran udara yang membahayakan kesehatan masyarakat.

Sebelumnya Adang hanya bergerak di bidang teknik smover untuk mengubah asap yang timbul dari pembakaran menjadi uap yang tidak berbahaya. Adang menyampaikan bahwa sebelumnya tidak terlalu tertarik mengembangkan alat pengolah sampah ini. Namun, seiring dengan kasus sampah yang menggunung di Pasar Caringin dan bertemu dengan pegiat sampah Iwan Sulistiawan.
Gayung bersambut, alat pengolah sampah temuan Pak Adang akhirnya dikembangkan bersama dan saat ini telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan salah satu BUMDes di Purwakarta untuk mengolah Sampah 50 ton per hari, dari 3 Pabrik sekitar BUMDes tersebut.
Menurut Adang, berbeda dengan incenerator yang saat ini dilarang pemerintah, alat yang dinamakan Thermal Decomposer Bio Sublime ini tidak mengeluarkan asap sama sekali ke udara.
“Yang ada adalah uap air hasil pengolahan sampah. Apa ada insenerator atau tungku-tungku lain yag mampu melahap sampah organik basaha bercucuran? Incenerator kalau dikasih sampah organik basah bercucuran memenuhi lambungnya, pasti mati, suhu drop, asap membumbung ke langit, pembakaran pun akan berhenti dan mati,” ungkap Adang.
Alat Thermal Decomposer Bio Sublime yang diciptakan Adang bisa memusnahkan sampah organik. Menurutnya sampah yang makin basah menjadi makin bagus dan menghasilkan BBM/Gel yang bisa dibentuk briket yang nanti akan bisa jadi bahan bakar di dapur.
Hasil penemuan Pak Adang ini terus didorong untuk dikembangkan, terutama setelah dilaksanakannya Webinar “Sampah #1” yang dilaksanakan pada hari Kamis, 30 Oktober 2025 secara hibrid yang luring-nya dilaksanakan di Ruang Azzalea1, Mall d’Botanica Bandung, Jln. Dr. Djunjunan No.143-149, Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung.
Inti atau kesimpulan dari webinar tersebut untuk bersama membentuk Badan Usaha Milik Masyarakat (BUMM) dalam rangka memanfaatkan sampah sebagai ekonomi sirkular, di antaranya membuat TPS Mandiri dan sejenisnya.
Dari Webinar “Sampah #1” juga berdiri Forum Kajian Khusus Sampah yang dinamakan “Wasrec Lestari Indonesia” yang diketuai Sutaryana, S.K.M., M.Epid., yang nanti akan terus mendampingi pengaplikasian alat pengolah sampah Thermal Decomposer Bio Sublime.
Keunggulan Thermal Decomposer Bio Sublim
Sebagaimana dikemukakan di atas, keunggulan Thermal Decomposer Bio Sublim ini sangat sederhana dalam melakukan pengolahan sampah cukup dua orang per shift, dan bisa mengolah sampai maksimal sampai 100 ton bahkan lebih.
Sangat luar biasa karena dengan adanya alat ini, tidak perlu memilah sampah organik maupun non organik. Uniknya, sampah organik semakin basah, menjadikan hasil BBM yang banyak, sekaligus turut membantu pendinginan.
Apakah Bio Sublim masuk Katagori Incenerator?
Adang menjelaskan bahwa pemanfaatan panas hasil reaksi eksotermis pada bara diserap secara maksimal baik dari dinding maupun dari gas/uap panas yang mengalir ke atas yang diserap langsung oleh sampah yang di atas bara. Energi kalor dari uap terus dipindahkan kepada sampah yang dilaluinya sehingga suhu uap menjadi sangat rendah, di bawah 100 derajat Celcius.
Kalor dari upa terus ditangkap di area kondensor oleh aliran udara yang dialirkan ke area bara. Udara yang dipasok ke area bara adalah udara yang sangat atif untuk mengoksidasi. Oleh karena panas dari reaksi eksotermis dalam bara itu diserap secara maksimal maka samp basah dengan kadar air rata-rata 70% dapat diabukan dengan mudah tanpa bantuan sumber panas dari eksternal baik BBM, BBG ataupun arang.
Proses Bio Sublime tidak boleh ada lidah api, karenanya sampah basah kadar air tinggi >80% dibutuhkan untuk dicampur dengan sampah kadar air rendah untuk mencapai kadar air rerata 70%. Oleh karena itu kekuatan proses Bio Sublim ini bertumpu pada transfer panas, penyerapan panas yang dihasilkan dari reaksi eksotermis pada bara, maka dinding serba logam menjadi kunci.
Dengan suhu terjagi rendah kisaran 200 derajat Celsius pada area bara. Dengan menggunakan bahan metal yang tahan api dan tahan karat, maka waktu pakai komponen berisiko tinggi pada Bio Sublim itu menjadi sangat lama.
“Inilah kehebatan Bio Sublim dengan biaya rendah, bisa mengabukan sampah tanpa pilah dan tidak menimbulkan pencemaran udara,” ujar Adang.
Operasional Thermal Decomposer Bio Sublim
Peralatan Thermal Decomposer, terdiri dari 13 rangkaian untuk mengubah sampah menjadi BBM/Gel/Briket, yakni 1) Sublimator; 2) Dispry (pendingin); 3) Ekstrakyir (Smover); 4) Destilator; 5) Konveyor umpan otomatis; 6) Kotak Sampah geser; 7) Drum perolehan BBM; 8) Cerobong, 9) Pendingin Air; 10) Kolam tampung WTP; 11) Kolam WTP; 12) Bak sirkulasi; dan 13) Drum tampung BBM hasil. Semua rangkaian berjalan dari No.1) sampai dengan No.13), sebagaimana Gambar dibawah ini:

Bagaimana dengan pengalihan pengolahan Sampah dari Incenerator ke RDF
RDF (Refuse-Derived Fuel) adalah bahan bakar alternatif hasil pengolahan sampah anorganik (plastik, kertas, tekstil) melalui proses pencacahan dan pengeringan untuk mencapai kadar air rendah dan nilai kalor tinggi.
Adang menyambut baik pengalihan pengolahan sampah dari Inicerator ke RDF.
“Iya pemahaman umum lebih mengenal RDF. Bio sublim lebih baik, Tiada lain Bio Sublimadalah RDF dengan metoda lain,” Ujar Adang.
Untuk Tingkat Desa bisa menggunakan Alat ThermaL Decomposer Bio Sublim dengan kapasitas 50 ton per hari, semoga dapat diterapkan di tiap desa melalui BUMDes.
Mari kita dukung produk Lokal Indonesia, dari Cipongkor untuk Indonesia.
***
Judul: Drs. Dadang, M.Pd. Penemu Alat Pengolah Sampah Tanpa Pilah: Siap Bantu Pemerintah Tangani sampah yang Melimpah
Jurnalis/Penulis : Asep Zaenal Mustofa (AZM)
Editor: Jumari Haryadi












